What The Hell

18 4 0
                                    

"Don't get me wrong, i just need some time to play."

Kepalaku terasa berat.Aku membuka mataku dan tidak tahu tempat dimana aku berada.Aku berusaha mengendus tapi hidungku tidak mencium bau mencurigakan.
“Selamat pagi Ayra, kau sudah bangun.” ujar seorang wanita padaku.Wajahnya familiar untukku tapi aku tidak ingat namanya.
“Kau ? “ tanyaku.Ia tersenyum lalu membawa nampan berisi makanan kehadapanku dan meletakkannya perlahan.
“Ini aku Laurin.Laurin Blacksand.Mate kakakmu.” Ah, aku ingat pelacur ini.Gadis yang merebut kakak ku, satu – satunya orang yang aku miliki jauh dariku.
“Ya, aku tahu itu.” ujarku tak suka.Tadinya aku berharap dia adalah wanita baik yang menolongku saat aku hampir mati tapi ternyata dia adalah iblis yang bahkan aku saja jijik jika harus menjual jiwaku padanya.
“Kau bisa berdiri ? Kalau tidak, kau sebaiknya beristirahat dan tidak banyak bergerak.” sarannya padaku.Aku mengalihkan pandanganku pada jendela dihadapanku tanpa menaruh minat sedikit pun pada gadis itu.
“Aku ingin kakakku.Dimana dia ? “ ucapku.
“Akan kupanggilkan.” ujarnya meninggalkanku.Aku membenarkan posisi dudukku lalu melihat sekujur tubuhku yang penuh dengan plester dan balutan.Lukaku diberi obat khusus yang membantu mempercepat regenerasi, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Aku membuang semua yang ada pada tubuhku dan membiarkan bekas luka itu tetap menempel lekat bagaikan tato, supaya aku mengingat kesalahan dan penyesalan terberat dalam hidupku.

“Ayra, kau sudah –APA YANG KAU LAKUKAN ? “ teriakan itu menyentakkan ku sedikit namun aku tidak menghiraukan.
“Aku tidak melakukan apa – apa.” ucapku tak peduli.Ruke mengambil tempat disampingku lalu meletakkan sarapan yang dibawakan Laurin pada meja yang berada di samping tempat tidur.
“Kenapa kau membuka semua balutan ini.Laurin sudah semalaman membuatkannya untukmu.” ujarnya seperti menahan amarahnya padaku.Bukannya dia kesal, aku tahu dia tidak akan pernah bisa marah padaku.Dia hanya khawatir padaku.Sister complex perhaps ? don’t care though.
“Aku tidak memintanya.” ucap bibir ku tanpa memperhatikan kakakku.
“Kenapa kau seperti ini ? kau masih marah padaku ? “ ujarnya dengan pertanyaannya sangat tidak penting untukku.
“Aku memang seperti ini.” Dan kudengar dia mendengus kesal. Berusaha untuk mengalah padaku saat ini.
“Baiklah, kita bicara nanti.Kau harus sarapan.Laurin sudah membuatkan bubur nasi dan daging.Kau mau ? “ ucapnya berusaha senormal mungkin.
“Aku ingin daging mentah.” pintaku.Aku bukan anak anjing yang baru belajar mengunyah.Aku tidak mau mencerna makanan bayi.

“Kau belum bisa memakan itu, kau belum bisa bertransformasi dengan keadaan tubuhmu seperti ini.” ucapnya yang sepertinya tahu apa yang ada dalam pikiranku.Maksudku, aku memang mau memakan daging mentah supaya bisa bertransformasi dan pergi dari sini.Werewolf tidak akan bisa menjadi wujud aslinya jika tidak memakan makanan yang seharusnya.
“Kalau begitu aku tidak mau makan.” ancamku.Ia pun menarik napas panjang lalu memasang wajah lelah padaku.Oh Tuhan, aku tidak akan kuat melihat wajah itu.
“Hey, dengarkan aku.Aku tidak ingin kau terus seperti ini.Aku ingin kau sehat dan aku janji kalau aku dan Laurin akan mengurusmu.Laurin adalah gadis yang pandai, dia akan membantumu menyelesaikan upacara ritual.” Baru saja aku akan menuruti permintaannya dengan wajah itu, namun dia dengan bodohnya menyebut nama jalang itu lagi.Aku muak.Tangannya yang sedari tadi membelai lembut wajahku, ku tepis begitu saja.
“Aku tidak butuh dia.”
“Tentu kau butuh, tarian mu belum sempurna dan kau masih belum bisa memecah air dengan kuku tajam mu.Sekarang aku akan ambilkan kau makanan lalu kau bisa membersihkan diri.Laurin juga sudah membuatkanmu pakaian.”
“OH SHUT THE FUCK UP ! “ teriakku.Ia pun terkejut, aku belum pernah mengucapkan kata – kata seperti itu dengan nada tinggi terutama padanya.But fuck off, emosiku sudah pada puncaknya.
“LAURIN INI, LAURIN ITU, TIDAK BISAKAH AKU TIDAK MENDENGAR NAMANYA SEHARI SAJA ? “ ujarku.Jika saja sarapan buatan gadis itu masih ada dihadaanku, pasti sudah kubuang dihadapan MATE nya ini.
“Ayra – “
“KAU MEMBANGGAKANNYA, KAU MEMUJANYA, TIDAKKAH KAU INGAT KAU HAMPIR MENINGGALKANKU KARENA DIRINYA ? “
“Untuk itu aku – “
“Aku tidak pernah meminta banyak darimu.Aku hanya ingin kau selalu ada bersamaku sebagai satu – satunya orang  yang kumiliki.Tapi apa ? kau sama seperti Arsya.Kau meninggalkanku sendirian.” Ruke hanya diam.Dia berusaha meraih pundakku namun aku menepisnya.Dia memberikanku pandangan penuh iba yang sama sekali tidak aku perlukan.
“Kau tidak pernah mengerti rasa sakitku.” Ia menghela napas lalu dengan cepat meraih lenganku dan menunjukkan salah satu lukaku.
“Kenapa aku lakukan ini ? karena aku ingin mengingat penyesalan terbesar dalam hidupku.Aku ingin mengingat kasih sayang Arsya padaku.Pengorbanannya.” jawabku sebelum ia sempat bertanya.
“Luka ini seharusnya hilang, tapi setiap hari tanpa kau ketahui, aku membuatnya terlihat baru.Aku membuatnya tetap segar supaya aku tidak melupakan hari itu.” lanjutku dengan tawa hambar.Dadaku terasa sesak, mataku pun panas.Dengan kemampuanku, aku berusaha untuk tidak menangis.

Under The Moon We VowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang