Rich Boy

17 2 0
                                    

"I don't want your money, no, you don't gotta spend nothing on me."

Ketiga gadis dihadapanku seperti tidak bisa berhenti bicaa mengenai Mr. – fucking who ever he is – Z.Aku tentu saj tidak mengenalnya.Aku tinggal di hutan dimana yang kumiliki hanya ponsel dan televisi.Bukan berarti aku bisa mencari informasi yang kubutuhkan dari sana.Sebagian waktuku habis hanya untuk menyiapkan Moon Howling.Berlatih dan berlatih menjadi Alpha yang baik.Aku berusaha menjadi ramah pada mereka tapi ayolah, aku sedang tidak ingin diganggu sekarang.

“…dan kurasa kita harus kembali sekarang.Bel sudah berbunyi.”
“Kurasa demikian.” Oh akhirnya !
“Sampai jumpa saat istirahat Ayra, senang berkenalan denganmu.”
“Kalian juga.” ujarku singkat dan segera mempercepat langkahku menuju ruang kelas.Syukurlah, aku tidak terlambat.Mr.Oden sampai beberapa detik setelah diriku.Dia tersenyum padaku dan memintaku untuk masuk saat dia sudah mengatakannya dari dalam kelas.Aku pun menungu sampai dia memintaku masuk kelas.Dengan keberanian yang aku miliki, aku masuk kedalam ruangan yang disebut kelas itu.Sejujurnya aku gugup dan juga khawatir, karena bisa saja ini adalah sebuah perangkap.

Namun, yang mengejutkanku adalah saat tubuhku berbalik.Keadaan kelas ini menjadi 180 derajat berubah dari ekspektasiku.Isinya anak – anak yang ‘unik’ padahal kepala sekolah memberi tahu kalau aku masuk kedalam kelas prestasi.Saat Mr.Oden memintaku untuk memperkenalkan diri, aku hanya menyebutkan namaku.Memangnya aku harus bercerita apa ? ‘Hai semua ! namaku Ayra Winter, aku adalah seorang werewolf !’ begitu ? Hell no ! aku juga tidak pernah bersekolah jadi sebaiknya diam sampai guru ini mengalah.Dia memilihkan kursi untukku dan mataku jatuh pada pria berkulit putih yang cenderung pucat saat ia mengatakan nama Green.Matanya agak kebiruan dan parasnya cukup…manis.Jadi ini Mr.Z yang terkenal itu ? kenapa dia duduk sendirian kalau dia terkenal ? Aku berani bertaruh kalau perempuan yang ada di kelas ini rela mati untuk duduk disampingnya.Aku pun melangkahkan kakiku mendekat ke kursinya.Ada hal yang mengganggu penciuman ku saat aku berada didekatnya.Kulit pucat ini seperti familiar untukku.Tapi aku tidak mau berburuk sangka.Ini hari pertama kau sekolah, jadi jangan mengacau !

Aku berkenalan dengannya dan mencoba untuk ramah.Dia nampak terkejut dengan perubahan ekspresi yang kutunjukkan.Belum lagi saat dia mengatakan kalau aku tidak mengenal dirinya.Well, bagaimana aku bisa mengenal dirimu kalau yang aku lakukan hanya berlatih dan mendengar cacian kedua orang tuaku.Hal itu sudah menyibukkan diriku setiap hari.

Pelajaran pertama adalah sejarah.Aku bisa melihat dari ekor mataku kalau laki – laki ini berusaha untuk mengajakku bicara.Hal ini semakin terasa saat dia celingukan melihat buku ku.Apa dia tidak membawa buku ? Tipikal anak terkenal, tidak pernah peduli dengan apa yang ia kenakan atau ia bawa kesekolah.Aku mengetahuinya dari beberapa film jika kau bertanya.

Kudengar dia memanggilku dan entah kenapa aku segera tahu kalau dia ingin meminjam bukuku.Tak berapa lama, Mr.Oden memanggilnya.Ternyata dia memang akan mendapat masalah.
“No sir, aku yang tidak membawanya karena aku belum mendapat buku.” Holy fuck ! kenapa tiba – tiba aku membela dia ? Pandangan laki – laki itu pun juga berubah, dia terlihat tidak percaya namun aku bisa melihat dia berterima kasih padaku.Kurasa itu sudah cukup.

Setelah pelajaran bahasa dan seni, tibalah untuk matematika dan saat itu juga aku baru menyadari kalau Mr.Z yang terkenal ini cukup pandai.Maksudku, jika dia terkenal maka dia akan sangat sibuk bukan ? Namun, dia tidak terlihat kesulitan sama sekali dengan semua pelajaran.Tak berapa lama, Ms.Baker memintaku untuk mengerjakan satu soal yang cukup sulit di depan kelas.
“Ms.Winter, kudengar kau masuk kedalam sekolah ini setelah home schooling.Bisa kau tunjukkan hasilnya padaku ? Satu soal tidak akan menyakitkan.” ujar wanita itu.Dia merendahkanku atau apa ? Aku pun memilih berjalan ke depan kelas tanpa rasa takut sama sekali.Mungkin soal ini memang terlihat sulit, namun kakakku sudah mengajarkanku lebih dari ini jadi tidak akan terasa seperti kelihatannya.

Under The Moon We VowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang