"Don't make a sound. Talk to me now. Let me inside your mind."
Zoec membanting tubuhnya dengan kasar ke atas kasur ukuran king size miliknya.Ia kesal, marah, kecewa dan sedih disaat yang bersamaan.Barel saja sampai kewalahan karena dia sama sekali tidak mau bicara.Yang ia tahu, sewaktu mereka bertemu, wajah Zoec sudah masam dan ia langsung masuk kedalam mobil dan meminta Barel agar mereka pulang ke rumah.Barel berusaha bertanya namun Zoec selalu menghindari dirinya dan akhirnya mengunci dirinya didalam kamar.
Zoec sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini.Dia tidak seharusnya marah namun perkataan gadis itu seperti menyayat hatinya.Zoec bukan tipe orang yang suka bermain – main kalau soal perasaan dan saat ia mencium bibir Ayra, dia melakukan nya dengan sadar.Dia tahu betul resiko yang akan dia ambil setelah melakukan hal seperti itu namun dia tidak keberatan.Dia malah merasa tertantang.Zoec tidak pernah merasakan getaran yang ia rasakan saat bersama Ayra sebelumnya.Rasanya dia tidak ingin melepas gadis itu dan berharap waktu berhenti kala itu namun gadis itu sendiri menolaknya mentah – mentah.Ia dapat melihat kalau gadis itu menganggap hal yang mereka lakukan hanyalah kesalahan.
“Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi.” ucap Ayra yang terlihat gugup dan menggigiti bibir bawahnya.
“Eh ? “ sahut Zoec yang memiringkan kepalanya.
“Aku tahu kita sama – sama melalui masa sulit dan jadi terbawa suasana.Jadi, maafkan aku.Ini tidak seharusnya terjadi.” ucap Ayra yang memberanikan dirinya untuk menatap mata Zoec.Perempuan itu pun meninggalkan Zoec, namun sebelum dia dapat pergi terlalu jauh, Zoec menahan tangannya.
“Ayra tunggu ! “ ujar Zoec saat berhasil menahan Ayra.
“Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti.Kau – “
“Kumohon jangan bahas hal ini lagi.Ini kesalahan.Ini tidak seharusnya terjadi.” potong Ayra yang langsung melepaskan lengan Zoec dan berlari dengan kencang lalu menghilang begitu saja meninggalkan laki – laki itu dengan semua pertanyaan di kepalanya.
Sebuah ketukan pun terdengar di pintu kamar Zoec.Pria itu dengan malas membukakannya.Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok sang ayah di depan kamarnya.Ia langsung berdiri tegak dan merapikan pakaiannya.Ia terlihat sangat berantakan didepan pemimpin kaum mereka.
“Zoec Amphesyst.Ke ruanganku sekarang.”
“Baik tuan.” jawab Zoec.Memang begitu yang ia lakukan jika bersama dengan Sacra Amphesyst – ayahnya – didepan umum.Tidak ada ikatan ayah dan anak, hanya pemimpin dan anggotanya.Semua ini memang berubah setelah ibunya meninggal.Sang ayah menjadi lebih tegas padanya dan melatih sendiri anaknya untuk menjadi pemimpin kelak.
Berjalan gontai, Zoec masih terbayang – bayang sosok Ayra.Gadis itu bagaikan candu untuknya.Entah apa yang menarik perhatiannya tapi Ayra seperti menyimpan sesuatu yang sangat ia sembunyikan.Beberapa fakta yang memperkuat hal itu adalah cara Ayra mengatakan kalau yang mereka lakukan adalah kesalahan.Dia terlihat sangat ketakutan seakan itu adalah kesalahan terbesar untuknya.Lalu, betapa dia terlihat sangat tidak menginginkan pasangan.Betapa dia tidak ingin memberatkan oerang lain seakan besok adalah hari kematiannya.Tanpa Zoec sadari, dia sudah sampai di depan kantor ayahnya.
Tok – tok
“Masuk.” ujar sang ayah datar.Zoec mengambil satu napas kuat lalu masuk kedalam untuk menghadapi sanga ayah.Ia menutup pintu lalu menguncinya dan belum ia sempat bicara, ayahnya sudah memeluknya.
“A – ada apa ini dad ? “ tanya Zoec.
“Akhirnya, setelah aku cukup lama menunggu.Akhirnya kau membuat keputusanmu juga.” ucap ayahnya yang masih memeluknya dengan erat.
“Huh ? Aku tidak mengerti.” ujar Zoec.Ayahnya pun melepaskan pelukan itu.
“Kau tidak mengatakan padaku kalau kau sudah memiliki wanita pilihan.” ucap ayahnya yang semakin membuat Zoec bingung.
“Wanita apa ? Apa Barel mengatakan hal aneh lagi ? “ ujar Zoec.Keduanya pun duduk di sofa ruangan sang ayah lalu bercengkrama layaknya ayah dan anak.
“Ayolah, ceritakan seperti apa gadis desa ini ? “ pinta sang ayah.
“Gadis de – Aku akan membunuh Barel untuk ini.” ujar Zoec yang baru menyadari maksud sang ayah.Barel pasti menceritakan soal Ayra padanya.
“Dad.Aku tidak akan memulainya karena kau pasti tidak akan menyetujuinya.” ucapnya pada sang ayah yang memberinya sorotan mata antusias.
“Kenapa ? “ tanya sang ayah.Zoc pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Mencoba untuk merilekskan tubuhnya hingga dia siap.
“Dia manusia.” Dan tepat setelah dia mengatakan hal itu.Kesunyian menghampiri mereka.Ia menunduk karena takut ayahnya akan marah namun yang ia dapatkan malah senyuman tulus dari pemimpin mereka tersebut.
“Ayahmu ini tidak keberatan dengan hal itu.” ujarnya.Tentu saja, bola mata Zoec membulat heran.Namun raut wajah ayahnya tak berubah.Ia benar – benar tulus.
“Benarkah ? “
“Asalkan dia memenuhi syarat.Kalau soal manusia, kita bisa mengubah jenisnya dengan ritual.Yang terpenting adalah kau mempunyai pasangan setelah seratus tahun aku dan ibumu menunggu.” ucapnya yang kemudian mengacak rambut Zoec dengan penuh kasih sayang.
“Baiklah.Akan kuceritakan.Tapi jangan tertawa.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moon We Vow
Teen FictionMortals atau immortals, semuanya tetap mahluk yang harus diakui.Manusia dan vampir sebagai - Tunggu ! ada satu lagi, Werewolf ! kenapa mereka dilupakan ? apa mereka sudah punah ? lalu kenapa vampir masih diingat ? Semua karena kejadian masa lalu ya...
