Fifteen

2K 114 2
                                        

" Nya, dari semaleman kuping gue hampir budeg gara-gara Darren," Anya mengerutkan keningnya.

" kok bisa, emang Darren ngapain kuping lo?" Anya menyuap siomay kedalam mulutnya.

" dia nanyain tentang lo mulu. Lahir tanggal berapa, suka warna apa. Dan masih banyak lagi," Viola tertawa kecil mendengar keluhan Icha, berbeda dengan Anya yang masih fokus pada jus mangganya.

" Nya. Darren itu udah jatuh cinta sama lo," Anya menggeleng kuat mendengar pernyataan Icha.

" gak mungkin,lagian kalo pun iya, gue gak bakal bales perasaannya dia. Gue gak enak sama Angel, sekarang dia saudara gue. Gak mungkin kalo nusuk dia dari belakang."

Icha dan Viola menggeleng sambil tersenyum heran, masalahnya. Angel itu sering berbuat jahat sama Anya, tapi Anya, dia masih aja bersikap baik sama orang semacam Angel.

"eh tapi tadi Cakra nanyain lo, " Anya masih menatap Viola.

Cakra mencari Anya? Anya selalu berfikir Cakra itu cowok dingin yang paling cuek semuka bumi ini. Tapi sekarang Cakra mencarinya.

" paling mau bilang makasih karena kemaren," seru Anya pelan, membuat Icha mengangkat sebelah alisnya.

" tapi tumben banget cowok es itu mau ngomong sama orang," ucapan Icha mendapat anggukan setuju dari Viola.

Berbeda dengan Darren yang sedari tadi cengar-cengir melihat kearah meja Anya,
" baru sadar gue, ternyata dia manis banget," gumam Darren tanpa sadar.

" heh, jangan liat kesono mulu, ntar copot tu mata," Miko menatap Darren.

" udah putus sama Angel?" Darren mengangguk malas sambil menatap Aldo.

" dulu aja sampe diperjuangin sampe mau aja jadi selingkuhan dia, tapi giliran udah dapet aja, ngelirik yang lain," sindir Aldo, membuat Darren menoleh padanya.

" namanya juga hati, siapa yang tahu kalo beberapa menit kemudian gue bakal suka sama orang lain lagi," Miko hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya yang masih tersenyum sinting.

" emang lo yakin Anya mau sama lo?" Darren menatap Aldo, lalu kemudian mengangguk mantap.

" pasti! Gue ganteng, gue baik, gue kaya, gue...," Darren menggaruk rambutnya, apalagi kelebihannya?

" Ren, Ren. Lo itu bakal dapet masalah kalo naksir ama Anya, lo lupa? Abra juga suka sama Anya," Aldo memperingatkan sambil menatap Darren.

Sedangkan Darren mengabaikan peringatan Aldo dan terus memandang Anya. Darren rasa, dirinya memang sudah jatuh cinta pada Anya. Setiap melihat wajah Anya tersenyum, hati Darren kegirangan, setiap berdekatan dengan Anya, jatungnya selalu loncat-loncat.

" Anya," suara nyaring Darren membuat Anya langsung menoleh padanya.

" kenapa Ren?" Anya bertanya sambil terus berjalan melewati koridor.

" ini novel, gue pinjemin kakak gue," Anya berbinar melihat buku yang diberikan Darren.

" eh serius gue boleh pinjem? " Anya masih tersenyum lebar.

" iya. Oh iya Nya ntar malem ikut gue ya," Anya menatap Darren.

" tap...-"

" gaada penolakan! See you!" Darren langsung pergi dari hadapan Anya.

Anya daritadi masih serius pada novel yang dipinjamkan Darren, suara bantingan pintu membuat Anya melirik kesal, Angel yang masuk dengan wajah kacau dan uring-uringan.

" novel mulu, hidup lo gak bakal kaya cerita fiksi," sindir Angel sambil melempar tas sembarangan.

" iya tau kok. Btw pacar lo baik banget, ini kan novel yang minjemin Darren," Anya memanjakan suaranya agar Angel cemburu.

" mantan, lagian gue udah putus sama dia karena lo," Angel berucap kesal sambil melepar kaos kakinya kesembarang tempat.

Anya mengerutkan keningnya,
" Ngel, bisa gak gausah bawa-bawa gue dalam masalah lo sama Darren! Dan gue tegasin sekali lagi ya, gue bukan penyebab putusnya kalian!" Anya ikut menatap Angel tajam.

" lo tu sama kaya nyokap lo, sama-sama ngambil pasangan orang," Anya mengepalkan tangannya sambil menatap Angel.

" lagian gue kasih tau sama lo ya, Darren gak mungkin suka sama cewe sok suci dan sok polos kaya lo, dia itu cuma mau kalo lagi butuh, kalo nggak juga dibuang kaya sampah," ucap Angel sambil melenggang pergi.

Sedangkan Anya, dia masih diam ditempatnya.
'gue gak suka sama Darren! Jangan sampe!" Anya terus melafalkan suara hatinya. Barharap supaya dia tidak pernah jatuh cinta pada Darreno.

" Anya, temenin gue latihan basket yuk," rengek Abra yang membuat Anya kaget, karena saat Anya membuka pintu Abra sudah didepan kamarnya.

" eh buset, gue hari ini ada janji Bra, jadi besok aja ya gue temenin," Anya masih menatap Abra, Abra menatap Anya tidak suka.

" pasti Darren kan?" pertanyaan Abra membuat Anya tak berkutik, Anya mengangguk pelan.

" gak boleh, lo gak boleh pergi sama Darren! Gue gak mau tau, pokoknya lo harus pergi sama gue!" Abra menarik tangan Anya kasar sambil membawanya turun tangga.

" Bra sakit ih, lepasin atau gue  teriak," Anya sebisa mungkin menahan tangannya.

" lo tu kaya psikopat tau gak?! Semakin lo kaya gini sama gue, semakin gue males sahabatan sama lo!" Anya menaikan nada suaranya, sedangkan Abra? Lelaki itu memasang tawa yang membuat dahi Anya berkeringat.

" gue suka sama lo, gue mau lo jadi pacar gue!" Anya mundur selangkah, Abra yang sekarang didepannya bukanlah Abra yang Anya kenal.

" lo gila! Lo cuma terobsesi sama gue," Anya masih berusaha mengusir rasa takutnya.

" nggak Nya! Dan inget ya Nya, gue gak bakal pernah ngelepas lo!" sekarang Anya sudah benar-benar ketakutan, matanya berkaca-kaca, Abra semakin memojokannya hingga tubuh Anya mentok oleh tembok.

Darren yang baru sampai rumah Anya kaget melihat pemandangan di depannya. Ia buru-buru menarik Abra menjauh dari Anya.

" anjing lo!" ucap Darren disertai dengan pukulan yang melayang ke pipi Abra.

" dasar bangsat!" Darren terus memukul Abra yang sudah terkulai lemas, Anya buru-buru memeluk Darren agar menghentikan pukulannya.

" Ren, " Darren menghentikan pukulannya, karena pelukan kuat Anya.

Darren menghentikan pukulannya, membawa Anya dari rumahnya. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang mengisi ruangan mobil Darren. Darren memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, matanya masih merah menahan amarah.

Darren memperhatikan pergelangan tangan Anya yang merah, lalu Darren mengambil P3K yang berada di mobilnya.

" Ren, makasih ya," Anya masih memperhatikan Darren yang sedang mengobati tangan Anya.

" gak ada kata makasih buat cinta," Anya menghela nafasnya mendengar Darren.

" tadi Abra gak ngapa-ngapain lo kan?" Anya mengangguk, " gue minta maaf gabisa jagain lo," Darren menatap Anya.

Darren memegang pundak Anya, matanya menatap serius kedua iris mata Anya.
" mungkin gue emang brengsek, dan kalo pun gue nyatain perasaan ke lo, lo pasti bakal bilang kalo gue omong kosong."

Anya masih diam dan mencerna semua ucapan Darren.
" percaya sama gue Nya, kalo gue itu suk... Maksud gue, gue cinta sama lo, gue juga gak tau kapan perasaan ini tumbuh. Gue gak minta lo jadi pacar gue, gue cuma mau lindungin lo dari Abra, Aris, atau cowok brengsek yang ganggu lo," Darren merengkuh tubuh Anya.

Anya diam ditempatnya, ucapan Darren benar-benar akan meruntuhkan pertahanan Anya, pertahanan yang sudah dia bangun dengan susah payah. Tangan Anya membalas rengkuhan Darren.

'nyaman' perasaan itu tiba-tiba muncul dihati kecil Anya.
 

Hehe Akhirnya kelar juga nulis chapter ini. Setelah beberapa hari mencari inspirasi. Btw, itu kalimat yang ' gak ada kata makasih buat cinta' saya ngambil dari salah satu film yang pernah saya tonton. Maafkan author yang alay ini :) jangan lupa comment dan vote! Danke!

Darren Dan Anya (sebagian di private )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang