" Anya! Apa sih yang ada dipikiran kamu? Kamu jaga images dong!" Anya mengabaikan omelan dari wanita paruh baya yang ada di depannya, matanya hanya fokus pada ponsel yang dipegangnya,
"Anya!!! Sebenernya apa mau kamu? Buat apa sih kamu manjat pager? Kamu itu cewe Nya! Dan kamu anak seorang model terkenal!" Wanita paruh baya di depan Anya masih tetap mengoceh dengan nada suara menggelegar,
Perlahan Anya mengangkat kepalanya, menatap wanita paruh baya dengan tatapan datar,
" Anya cape mah! Anya cape sama mamah!" wajah Anya mengguratkan kesedihan, Anya menarik nafas panjangnya,
"kalo Anya bisa nentuin takdir, mungkin Anya bakal milih lahir dari rahim mbok Inem daripada rahim mamah!" tak terima dengan ucapan Anaknya, wanita paruh baya itu melayangkan tangannya diudara,
Plak..
Suara tangan mamah Anya yang suda menempel sempurna di pipi mulus Anya. Anya diam, mulai memegang pipinya yang sudah merah akibat ceplakan tangan mamahnya. Anya menatap tajam mamahnya,
" jaga mulut kamu, Mamah cape sama sifat kamu yang kaya anak kecil! Kapan sih kamu ngertinya Nya?" mendengar pertayaan mamahnya Anya hanya tersenyum sinis,
" kapan aku ngertinya? Seharusnya aku yang nanya gitu mah! Setiap aku nonton tv, yang keluar hanya wajah mamah dan pacar mamah yang sudah punya anak, bahkan mamah keliatanya lebih sayang sama anak pacar mamah daripada anak mamah sendiri. Dan satu lagi, walaupun papah udah gak ada di dunia ini, gak ada seorangpun yang bisa gantiin dia!" Anya melangkahkan kakinya pergi menaiki tangga, dengan pipi yang basah karena air matanya.
Sedangkan mamah Anya hanya diam. Ternyata anaknya begitu menderita, ternyata anaknya begitu tersakiti. Mamah Anya menghapus air matanya pelan, lalu melangkah pergi keluar rumah.
Tok...tok
" aku gak mau makan kalo mamah masih ada di ruang tamu mbok!" Anya yang masih diatas ranjangnya, bertriak pada sipengetuk pintu,
Tok...tok
"mbok aku udah bilang gak mau! Gausah ribet ngurusin aku!" suara kesal Anya memenuhi kamar Anya, suara ketukan pintu semakin keras, membuat Anya berjalan malas ke arah pintu.
Anya menarik kenop pintu, wajah kesalnya masih mendominasi, setelah terbuka. Anya hanya membuang nafas panjangnya, lalu kembali berjalan ke arah ranjang yang diikuti oleh sipengetuk pintu,
" lain kali kalo mau main ke rumah, chat dulu!" Suara ketus Anya membuat Abra tertawa kecil,
" Anya galak amat sih, gue bawain kebab juga," Abra menunjukan senyum lebarnya, Anya hanya melirik sebentar. Lalu kembali menatap ponselnya,
" Anya! Sumpah lo jelek banget kalo marah," kali ini masih tetap diam,
" Anya, kalo lo masih cuekin gue. Lo bakal gue cium!" Abra mengancam Anya, membuat Anya hanya mengangkat bahunya,
" kaya berani aja lo?" Anya menantang Abra, membuat Abra hanya tersenyum lebar,
" gue lagi males mak...-" ucapan Anya terpotong seketika karena ciuman kilat Abra dipipinya,
" Abra!! Lo gila ya?" Anya kesal dengan sifat asal Abra, lalu mengusap kasar pipinya,
" siapa suruh nantangin gue? " Abra bertanya sambil menaikan alisnya, Anya hanya mencebikan pipinya, mengambil kebab yang sudah Abra buka.
" Nya! Seminggu lagi gue ama Angel mau ngerayain hari jadian kita yang ke 1 tahun 2 bulan. Menurut lo gue kasih dia kejutan apa?" Abra bertanya antusias, membuat Anya berhenti mengunyah kebabnya, Anya diam sejenak lalu menatap Abra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan,
" hemmm, bunga? Coklat? Cincin? Gue rasa salah satu diantara itu," Anya menjawab Abra dan kembali mengunyah makanannya,
" Nya, kalo gue kasih dia semuanya gimana?" Mendengar ucapan Abra, Anya menghembuskan nafas kasar,
" Abra, itu berlebihan!" suara tegas Anya membuat Abra mengangguk mengerti,
" Nya, tadi siang lo jalan bareng Darren ya?" Abra mulai mengeluarkan bungkus rokoknya, membuat Anya melotot pada Abra,
" Nya, cuma sebatang sumpah," Abra membuat tanganya berbentuk peace.
" big noo Abra! Lo kalo mau jadi bad boy, cukup didepan genk lo aja oke!" Anya mengambil bungkus rokok Abra,
" Anya, just one oke!" Abra nekat menyalakan rokoknya, lalu asap mengepul, membuat Anya menutup hidungnya,
" Nya, gue sayang sama lo, dan gue mau lo jauhin Darren. Dia cowo brengsek Nya," mendengar ucapan Abra hanya mengerutkan keningnya,
" lo tau Nya? Bahkan Darren sering bercumbu sama cewe manapun yang dia temuin di club," Abra kembali menghisap batang rokoknya,
"Abra, kok lo malah buka aib sahabat lo sendiri sih?" Anya bertanya heran, wajahnya sedikit kesal dengan sifat Abra,
" Nya, lo dan Darren sama-sama sahabat gue! Gue ngasih tau kejelekan dia karena gue gak mau ama lo naksir dia, dan lo cuma sakit hati doang," Anya tersenyum menggoda,
"cie perhatian, Abra sosweet! Cemburu ya?" Anya meledek Abra, membuat Abra gemas dan mencubit pipi tembem Anya,
"aww," Anya meringis, membuat Abra sadar pada pipi Anya yang merah,
" Nya, ini kenapa?" Abra bertanya pelan desertai dengan nada khawatir,
Anya mengabaikan pertanyaan Abra, lalu melanjutkan mengunyah makananya,
" Anya! Jawab gue!" Abra sedikit kesal dengan sifat acuh Anya,
" kepleset," Anya menjawab singkat,
" berantem lagi kan ama nyokap lo," Abra menyentuh pelan pipi Anya, mengelusnya halus.
" Nya, gue ini tetangga sekaligus sahabat lo Nya, kalo ada masalah cerita! Gak usah sok kuar, kalo aslinya rapuh," suara kesal Abra membuat Anya diam.
Abra melangkahkan kakinya keluar kamar Anya, membuat Anya menghembuskan nafas leganya. Anya pindah pada meja belajarnya, menatap foto masa kecilnya bersama sang ayah.
"pah, apa kabar? Anya kangen," Anya bergumam kecil,
" pah, kata Abra, Anya lemah." Anya meletakan kepalanya dia atas meja, air matanya terus menetes.
Elusan halus dirambut Anya membuat Anya segera mengangkat kepalanya, terlihat Abra dengan senyum manisnya,
" om, tadi Abra salah ngomong. Anya gak lemah kok, dia kuat tapi cengeng," Abra menatap foto papah Anya sambil tersenyum manis,
" sini gue kasih minyak tawon dulu pipinya," Anya masih diam di tempatnya,
Perlahan Abra mengoleskan minya tawon pada pipi Anya, sedangkan Anya hanya terdiam di tempatnya, Abra melihat wajah Anya.
" selesai, jangan nangis mulu. Ntar mata lo bengkak, gue dikira ngapa-ngapain lo lagi," Anya kembali diam, membuat Abra merengkuh tubuh mungilnya,
" gue kangen papah," suara bergetar Anya membuat Abra semakin memeluknya erat,
" besok kita ke makam bokap lo ya, tapi janji jangan nangis mulu," Abra menguraikan pelukanya dan menghapus air mata Anya,
Anya tersenyum manis,
" bisa-bisa baper ni gue kalo sikap lo manis gini," Anya melepas pelukanya,
" baper juga gak papa Nya, gue siap tanggung jawab," Abra menggoda Anya, dan langsung dihadiahi cubitan diperut Abra,
KAMU SEDANG MEMBACA
Darren Dan Anya (sebagian di private )
Teen FictionDarren anak populer dan pembuat onar, kerjaanya cuma cari masalah setiap ada kesempatan, dengan puluhan mantan dari kalangan atas. Anya, cewe polos, ramah, pecicilan dan konyol. Hampir semua guru mengenalnya, karena tingkah konyol yang selalu dia bu...
