Misi Hampir selesai #29 (Edited)

703 43 0
                                    

Walaupun begitu, kepercayaan untukmu tetap melekat pada diri, hati dan juga perasaanku, terima kasih.
-Ila Olsen-
🔳

Waktu terasa begitu cepat, penentu acara akan dimulai, dan tidak ada yang bisa Ila lakukan selain berdoa dan gelisah.

Kegelisahannya semakin bertambah karna Raffa tidak menghubunginya hingga sekarang, padahal Raffa bilang akan menghubungi Ila saat mendekati acara.

Ila sudah memakai pakaian yang diberikan oleh Papa nya, memakai perhiasan yang disuruh oleh penata rias, memakai polesan make up yang membuat dirinya bingung akan dirinya sendiri.

Teman-teman Ila sudah pulang saat Ila mandi. Mereka pulang untuk berganti baju dan menyelesaikan misi.

Ila terus mematut dirinya di cermin dan menghela nafas berkali-kali dengan wajah yang ditekuk.

Hingga pintu kamarnya terbuka menampilkan Revan dengan pakaian yang juga Rapi dan formal.

"Jangan tegang, La." Ucapnya sembari memegang pundak Ila dan berdiri dibelakang Ila yang sedang duduk.

Ila menghela nafas lagi. Ia mengembungkan pipinya. "Gimana gue bisa tenang, memangnya lo mau gue bakal tunangan sama tuh makhluk?"

Revan tersenyum tipis. Mengingat ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk adiknya. Tiba-tiba ponsel Revan berdering.

"Bentar, gue angkat telpon dulu." Pamit Revan. Kemudian ia jalan kebalkon kamar Ila dan mengangkat panggilan tersebut.

Awalnya wajah Revan datar, namun saat orang yang disebrang mengucapkan kalimat membantu, ia tersenyum puas. Kini, ia yakin, ia bisa melakukan sesuatu untuk adik nya karna orang yang menelpon nya ini.

Menunggu Revan menelpon, Ila mengambil makanan ringan yang ada dimeja riasnya, lalu memakannya dengan kasar.

"Nasib gue gini amat, Ya Allah." Ujar Ila masih mengunyah makanan coklat tersebut.

"Najis, kok semakin diliat, muka gue semakin kaya ondel-ondel, sih." Kata Ila pada dirinya yang ada dicermin.

"Apaan, sih. Kok lo ngomel-ngomel sendiri?" Tanya Revan yang sudah menyelesaikan panggilannya dan berjalan masuk lagi kekamar Ila sambil mengantongi ponselnya.

"Ini, yang riasin gue nggak bener, masa muka gue kaya Bu Windu di Film Mata Batin, Bang." Ila mengadu pada Revan namun ia masih fokus pada dirinya dicermin.

Revan terkekeh kecil. Berpikir dalam diam, kenapa dia punya adik bego nya kebangetan.

"Cantik, Kok. Ntar Raffa seneng sama penampilan lo." Revan sudah dibelakang Ila lalu mengelus kepala anak itu.

"Dih, Raffa aja belum ngubungin gue, gue Line nggak dibales, gue telpon ponselnya mati." Ila mempoutkan bibirnya kembali mengingat Raffa.

"Jangan Negatif thinking Dulu, La." Revan menepuk pelan pipi Ila.

Ila mendengus dan mengelus pipinya pelan. "Lo kesini ngapain, sih? Bukannya bikin gue adem, malah bikin gue makin panas."

"Lah, gue kesini nenangin pikiran lo yang lagi kalut kali. Gue pengin jadi Abang yang berfaedah buat lo."

Revan memutar arah kursi Ila menjadi menghadapnya, kemudian ia berjongkok dihadapan Ila, menatap adik nya yang sedang dalam Mood yang sangat buruk.

Hidden Behind A Wall [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang