Bagian Ke-12

963 43 8
                                        

Aku menaruh tasku dengan malas di atas sofa yang terdapat di dalam kamarku, diikuti Rachel yang melakukan hal yang sama. Kami berdua kemudian sama-sama melemparkan tubuh kami di atas kasurku yang empuk.

"Tadi tau nggak, gue sarapan bareng sama Alex, canggung banget." ucapku tanpa diminta, lebih tepatnya aku sedang curhat.

"Lagian sih, lo ngajakin cowok macem Alex, cowok yang udah ketara nggak mau mulai duluan dalam hal apapun, termasuk memulai pembicaraan, dia tetep nggak bakal ngomong bahkan kalo lo nggak tanya." jelas Rachel sambil mengambil ponselku yang tergeletak di dekatnya, sedangkan aku memutar ingatanku ke kejadian beberapa hari yang lalu. Masa sih Alex kayak gitu? Waktu itu kan dia ngenalin dirinya sendiri ke gue, bahkan tanpa gue minta. Batinku menatap Rachel dengan alis terangkat.

Rachel balas menatapku, disertai pelototan, dia menyodorkan ponselku kepadaku. Aku mengambilnya, dan melihat sebuah pesan di sana.

Pesan dari Alissa tadi pagi.

"Ih! Lo ngapain dibuka sih? Orang gue males jawab juga." gerutuku kemudian mengetikkan sesuatu dan mengirimnya.

Rachel kembali merampas ponselku, melihat balasan yang kutulis.

Jean: Ganas gimana maksudnya?

Sedetik kemudian, dia menepuk jidatnya pelan.

"Lo nggak ngerti apa maksud dia?" tanya Rachel, aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Ini otak polos banget sih!" Rachel menggetuk kepalaku dengan pulpen dari atas nakas. "Kayaknya gue harus ngotorin otak lo sedikit deh, misalnya dengan baca ini." lanjut Rachel sambil menyodorkan ponselku kembali, aku menatapnya bingung, masalahnya dia membuka aplikasi wattpad.

"Udah baca aja! Tunggu apa lagi?" suruh Rachel sambil menatapku tajam. Aku hanya bisa mendengus, kemudian membaca kata demi kata yang tertera di layar ponselku.

"Ini maksudnya apaan sih?" tanyaku kepada Rachel dengan kesal, habisnya aku sama sekali tidak mengerti apa maksud kata itu. Gunung kembar lah, dan hal lainnya. "Ini maksudnya gunung kembar apaan lagi?!" tanyaku lagi.

Rachel berdecak, kemudian menggeleng tak percaya. Dia merebut ponselku kembali dan lagi-lagi menyerahkannya kepadaku.

"Baca yang ini, lebih dijelasin!" suruh Rachel lagi terdengar frustasi.

Aku kembali membaca apa yang disuruh Rachel, saat membaca baru sampai tengah chapter aku melotot tak percaya.

"Ini cerita apaan sih? Kok jorok banget?!" teriakku sambil menekan tombol back berulang-ulang pada ponselku.

"Yang dimaksud Alissa Alex ganas itu, ya yang berbau kayak gituan." Rachel menyeringai.

"Maksudnya?- Jadi?- Eh? Alex pernah ngelakuin kayak gitu?" tanyaku lirih.

"Bisa jadi. Ayolah, sekarang kita ada di Amerika, semua bisa ngelakuin apa yang mereka mau." balas Rachel santai.

"Lo juga udah pernah ngelakuin ya?" aku menunjuk Rachel, dia langsung menggeleng dengan cepat.

"Enak aja, gue baru ciuman doang ya." Rachel menepis tanganku yang menunjuknya.

Aku hanya bisa tertawa melihat wajah merah Rachel, pasti dia tadi keceplosan bicara bahwa dia pernah ciuman.

Aku mengetuk-ngetukan pulpenku di meja kantin dengan bosan, sedari tadi aku menunggu Rachel, tetapi dia tidak muncul-muncul juga. Padahal, tadi dia bilang dia ke ruang Guru sebentar, tetapi sudah hampir setengah jam aku menunggu tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

Aku menghela napas berat, perutku sudah keroncongan minta diisi dari tadi, apalagi mencium aroma makanan di kantin membuatku tidak tahan. Persetan dengan Rachel! Aku hanya ingin makan sekarang.

Aku berjalan ke arah salah satu stand setelah menaruh tasku di meja kantin. Aku memesan kebab─yang sudah terjamin halal, kemudian jus alpukat. Saat pesananku sudah jadi, aku berniat kembali ke meja yang kutempati sebelumnya. Tetapi, belum sempat aku melangkah seseorang menabrakku dengan seenaknya membuat jus alpukat yang kubawa menumpahi bajuku, dan kebabku terjatuh ke lantai dengan mengenaskannya.

"Ups, sorry, gue buru-buru." ujar perempuan itu tanpa meminta maaf, dia kemudian berlalu begitu saja.

Aku menatap perempuan itu sebal, terlebih karena warna bajuku yang bewarna putih membuat pakaian dalamku tercetak, meski tidak terlalu jelas. Apalagi sekarang aku menjadi pusat perhatian di kantin.

"Ayok ikut gue!" seseorang menarikku tiba-tiba, dia mengambil alih nampan di tanganku dan menaruhnya sembarangan di lantai.

Aku hanya mengikutinya tanpa tahu siapa pemilik tangan itu, terlebih karena dia juga mengenakan topi membuatku sulit menerka-nerka siapa laki-laki di hadapanku kini.

Kami berhenti di depan loker, kulihat dia membuka lokernya dan mengeluarkan kaus─tunggu, itu bukannya loker milik Alex?

Dia menyodorkan kaus panjang berwarna hitam kepadaku, aku hanya mematung, tidak berniat mengambil kaus itu dari tangannya.

"Alex?" mulutku refleks memanggil nama Alex.

Laki-laki itu mendongak, membuat mataku bertemu dengan mata birunya. Dia menatapku penuh tanya sebelum teringat apa yang membawanya kemari.

Dia meraih tanganku yang bebas, kemudian menaruh kaus hitam miliknya, aku mau tak mau menerimanya.

"Pake ini, gue nggak mau bra lo kecetak. Kalo mau diliat juga cuman gue doang yang boleh liat." ujar Alex frontal.

Kurasakan pipiku memanas, aku menepuk bahu Alex cukup keras membuatnya mengaduh. "Mesum!" ucapku kemudian aku melangkah pergi.

Kudengar Alex hanya tertawa di tempatnya.

Apa dia peduli kepadaku?

Dan.. Apa aku boleh berharap lebih kepadanya?

28 Juni 2017.

p.s. part ini agak lebih liar, mengenal bagaimana keadaan di Amerika yang sesungguhnya.

HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang