Liburan semester kali ini, aku tidak berniat untuk pulang ke Los Angeles. Selain harga tiketnya yang tidak bisa dibilang murah, tanggung juga jika aku pulang ke sana, karena semester depan aku juga akan pulang lagi. Lebih baik sekalian saat kelulusan semester depan saja.
Sekolah di Indonesia, lumayan berbeda dengan di sana, mulai dari bangunan sekolah, seragam, ketentuan dan masih banyak hal lagi, termasuk cara mengajar. Kalau dulu di Amerika murid yang menghampiri gurunya, sedangkan di sini lain.
Cukup nyaman selama lebih dari satu tahun aku tinggal di sini, tapi yang membuatku tidak nyaman adalah kepadatan lalu lintasnya. Apalagi setiap akhir pekan suara klaksonan kendaraan-kendaraan membuat polusi suara. Jujur saja aku benci kemacetan Ibu Kota.
Aku menghembuskan napasku sambil menghempaskan diri di atas sofa yang empuk. Aku tinggal di sebuah apartemen kecil yang berjarak hanya satu-dua kilo dari sekolah. Seharusnya 1 tahun yang lalu aku tinggal bersama dengan yang lainnya di asrama, tapi Papa tidak mengizinkan, dia merasa aku tidak akan nyaman tinggal di sana.
Well, sebenarnya aku juga tidak kesepian tinggal di apartemen ini, di sini aku tidak sendiri. Aku mengajak salah satu temanku dari sekolah yang sama denganku dulu untuk tinggal di sini. Dan setiap 6 bulan sekali dia juga membayar sewa apartemen ini, aku setengahnya diapun juga.
Aku mendapati ponselku bergetar di atas meja di sebelahku, lalu melihat layar yang menyala menampilkan notifikasi pesan dari Rachel.
Rachel: Liburan ini balik nggak?
Tanpa berniat menjawab, aku malah menyesap coklat hangat di tanganku sambil membaca buku biologi di pangkuanku.
Rachel mungkin sangat mengharapkan aku untuk pulang ke Los Angeles. Tapi aku sudah berjanji kepada diriku untuk pulang setelah menyelesaikan sekolahku. Dan, masalah program pertukaran pelajar itu, sebenarny waktunya hanya 6 bulan, tetapi aku memilih untuk melanjutkan studyku di Indonesia. Aku juga sudah mulai lancar berbicara bahasa Indonesia, meski masih banyak yang tidak aku mengerti. Seperti bahasa, bego, tolol, anjir, anjay, bangsat, goblok.
Pernah aku bertanya kepada temanku dan aku malah diketawai olehnya. Selanjutnya aku tidak mau membahasnya lagi, meskipun masih penasaran dengan arti kata-kata itu. Bahasa di Indonesia, kok aneh-aneh, ya?
Di saat-saat sendirian seperti ini, aku tiba-tiba teringat perkataan Luke. Saat dia dan yang lainnya pergi ke Indonesia untuk mengunjungiku waktu libur musim panas, hampir 2 bulan mereka tinggal di sini.
Di waktu itu kita menghabiskan waktu untuk berkeliling kota, bahkan kita juga sempat ke Bali selama seminggu, dan mengunjungi tempat-tempat yang katanya wajib untuk di kunjungi lainnya.
Jujur saja, sebenarnya aku merindukan mereka semua, kebersamaan kita, tetapi ini tidak sebesar aku yang merindukan dia.
Aku tahu, sebenarnya aku harusnya sudah menyerah, tetapi menghilangkan perasaan tidak semudah kamu menghilangkan kutu di rambutmu. Tidak semudah saat kamu berniat dan mengucapkannya.
Padahal, aku pikir sebelumnya aku akan bisa melupakannya saat aku tinggal di sini, ditambah tugas yang menumpuk membuatku tidak akan sempat memikirkannya, tetapi tidak. Di saat senggang waktu sedikit saja aku masih sempat mengingat wajahnya saat tersenyum.
Aku rindu dia. Dan setiap malam aku selalu berdo'a kepada Tuhan untuk menyampaikan rasa rinduku. Terakhir kali saat melihat notifikasi pesan darinya jujur aku tidak sanggup pergi ke Indonesia. Tapi saat mengingat awal tujuanku untuk melupakan dia aku tahu, mau tidak mau aku harus bisa.
Aku mengalihkan pandanganku saat mendengar suara ketukan pintu. Apakah itu Syela? Tapi kenapa dia harus mengetuk pintu padahal dia tahu password apartemen ini. Ah, mungkin saja itu tamu.
Aku meletakan gelas coklatku dan buku di pangkuanku tadi di dekat ponselku dan berjalan ke arah pintu sebelum membuka kuncinya.
Tubuhku terasa lemas, kakiku terasa seperti jelly, tanganku bergemetar, jantungku berpacu dengan cepat, darahku berdesir dengan hangat, di perutku juga terasa seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan, sedangkan wajahku memasang tampang benar-benar tak percaya.
Lihat saja sekarang sosok di hadapanku, tanpa dosanya dia tersenyum hangat, tangannya yang kosong meraih tanganku dan menggenggamnya, memberikan kehangatan kepada tanganku yang tiba-tiba dingin hanya dengan sentuhannya.
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Kotak beludru berwarna merah yang di dalamnya terdapat cincin, kalung, dan gelang.
"Will you be mine?" tanyanya menatapku penuh harap.
Mimpi apa semalam aku ya Tuhan? Secara tidak langsung di lamar dengan secara tiba-tiba seperti ini oleh seseorang yang baru saja sebelumnya ada di pikiranku. Apakah aku sedang bermimpi? Siapapun tolong bangunkan aku dari mimpiku ini, tampar aku sekencang-kencangnya agar aku sadar akan realita.
"Jean?" ucapnya mengembalikan kesadaranku.
Tanpa berpikir panjang aku segera mengangguk, membuatnya tersenyum sangat lebar dan merengkuh tubuhku dalam dekapannya. Dia melepaskan pelukan kami beberapa detik kemudian, menatapku dalam sebelum mengecup bibirku dan mulai melumatnya.
Ya Tuhan, semua laki-laki memang sama saja.
Tapi ada perbedaan dari Alex, dia memiliki hatiku tidak seperti laki-laki lainnya.
--END--
