Semua terasa sepi hanya dengan hitungan detik, Jimin terdiam mendudukkan dirinya yang masih lengkap dengan setelan tuxedo elegan. Entahlah apa yang tengah bergelut dengan pikirannya, semua orang tampak bahagia waktu itu. Termasuk Jungkook.
Masih mengaung di daun telinganya musik sederhana yang mengiringi pernikahan ibunya dengan ayah Jungkook. Dia bahagia namun dilema, dilema karena harus menyaksikan sahabat sekaligus adik tirinya tak sadarkan diri tepat setelah janji suci terucap. Apakah ini sebuah kejahatan? Sejujurnya dia sangat bahagia karena Hosoek telah menjadi ayahnya, Tuhan mengabulkan doanya. Doa meminta agar di karuniai ayah seperti Hosoek.
Dia terpaku, bagaikan adegan slow motion yang di rencanakan di serial drama. Tak ada yang ia lakukan selain menopang tubuh saudara tirinya yang lunglai penuh bercak darah di hidungnya, sampai gerakan cepat Hosoek menyadarkannya.
"Jim, ia baik saja. " Jimin memandang pria paruh baya yang kini menjadi ayahnya, tak ada gurat kecemasan lagi. Hosoek tersenyum hangat padanya, ia tau pemuda yang ia pegang bahunya juga putranya.
"Ah... Syukurlah. "
"Dia anak yang kuat, seharusnya ia sudah tidak bisa bertahan hanya dalam waktu 3 jam di tempat umum. Tapi dia bisa bahkan menyaksikan pernikahan ini hingga selesai. Terima kasih telah menjaga adikmu dengan baik. "
Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Jimin, melihat manik itu penuh dengan ketulusan. sosok Hosoek memang ayah terbaik di dunia.
Bercak merah masih terlihat jelas pada tuxedo putih yang Hosoek kenakan. Pernikahan itu berlangsung sangat sederhana, hanya dihadiri tamu kenalan Sooyoung dan orang terdekat saja termasuk Krish. Setelah mendengar kabar pernikahan lelaki itu segera meluncur ke Amerika, dia pikir ini sebuah lelucon.
"Jungkook sudah siuman, dia mecarimu. " Hosoek beranjak dari sisi Jimin ketika wanita lengkap dengan gaun sederhana itu memberitahunya.
Bagi Sooyoung sendiri, ini adalah sebuah kebetulan yang sangat tidak lucu. Dia memang mengenal Hosoek dulu tapi tak ada cita-cita untuk menikah dengannya meskipun dia pria yang baik, namun hatinya bedesir melihat ketulusan yang terpancar dari mata Jungkook.
"Kenapa terdiam? Ikutlah. Pasti dia juga ingin bertemu dengan kalian. " Sooyoung tersadar bahwa dirinya tenggelam dalam imajinya sendiri.
Lay memberi salam menundukkan pandangannya ketika melihat kehadiran keluarga kecil pasiennya datang. Dia juga sempat kacau karena dirinya turut serta pada acara pernikahan itu. "Tak perlu hawatir, dia belum terbiasa karena selama sebulan hanya dalam ruangan. Saya permisi dulu. " Hoseok membalas salamnya lalu duduk di samping putranya. Ruangannya seperti biasa bukan ICU.
"Maaf ayah. Tapi kata dokter Lay aku bisa pulang setelah ini, aku baik saja ayah. "
"Ayah percaya. "
Seorang perawat datang untuk mengecek keadaan Jungkook sebelum ia kembali kerumah, setelah selama setengah hari ia habiskan di rumah sakit. Sehun membantu memasukkan kursi roda milik Jungkook dalam bagasi, Hosoek juga mengganti bajunya ia juga menyuruh istri dan Jimin untuk menunggu di rumah.
Benar saja semua tampak berbeda hari ini, mansion yang tak lagi sepi. Semua terasa hangat. Senyuman itu tampak berbeda, lebih dalam ketika jika harus mengartikannya. Hoseok tak pernah melihat putranya sebahagia ini, Tuhan selalu memberi kejutan yang tak terduga. Tentang pernikahan, pria itu berperang keras dengan dirinya sendiri.
Semua berlangsung dengan sederhana, di mulai dengan kecanggungan sebagai pasangan yang baru menikah, kedekatan Jungkook dengan ibu barunya. Ini suatu hal yang sangat membahagiakan, bagi Hoseok tak ada yang lebih penting dari sebuah senyuman dari putranya.
Sooyoung yang selalu mendampinginya merawat Jungkook, menyiapkan sarapan untuknya. Menyambutnya dengan kecupan sederhana di pagi hari meskipun terkadang penuh kecanggungan. Pernikahan yang di dasari dengan persahabatan itu sangat berbeda. Hatinya menghangat kehadiran mereka membuat dirinya menyadari bahwa dia membutuhkan sandaran untuk menghadapi semua ini.
Kondisi Jungkook juga semakin membaik, ia tak pernah lagi muntah ketika memakan sesuatu selain bubur. Dia juga tak pernah lagi mengeluh sakit setiap harinya meski harus meminum obat setiap jadwalnya. Lay pun setiap seminggu sekali akan datang sekedar memeriksa, bahkan dokter itu tampak sumringah dari biasanya.
Sampai tak terasa hal ini sudah satu bulan terlewati, putranya berhasil hanya melakukan perawatan di rumah saja.
"Minumlah teh mu pak tua. " Hoseok tersenyum menyambut ucapan wanita yang sudah satu bulan menjadi istrinya, sedari tadi dia hanya berdiri tersenyum melihat kedua putranya yang sedang bercanda di taman mansion dengan daun yang berguguran.
"Meskipun aku tua, kau masih terjerat oleh pesonaku. " Sooyoung mendengus mendengar kata romantis dari bibir suaminya. "Mereka tak menghiraukan kehadiranku disini. " Hoseok berucap kembali dan meletakkan cangkir tehnya di meja sampingnya.
Sooyoung berjingkat karena gerakan tiba-tiba Hosoek yang memeluk pinggang rampingnya dan menenggerkan kepalanya. "Mereka pemuda yang berbeda, Jimin menjadi anak yang hangat ketika ia dekat dengan Jungkook. Mereka saling melengkapi. "
"Seperti kau dan aku. " wanita itu hanya tersenyum ketika mendapat kecupan ringan di lehernya. Hoseok memang pria yang penuh kejutan, terkadang datar dan bodoh. Terkadang juga hangat dan romantis mungkin wanita akan terjerat oleh pesonanya.
Kebahagiaan milik siapa saja, bukan berarti Tuhan tidak peduli ketika memberimu sebuah kepedihan. Pelangi muncul ketika hujan tak begitu deras, seperti kehidupan manusia yang pasti mempunyai warna tersendiri di setiap lika likunya.
Hoseok terdiam lagi, merenungkan sesuatu yang berat baginya. Putra bungsunya itu tak hentinya membuat dia berpikir, setelah makan siang beberapa menit yang lalu. Jungkook meminta untuk pulang ke Korea, bocah itu berkata bahwa ia rindu dengan rumahnya. Memang keadaan bocah itu tak menghawatirkan, tapi lain lagi dengan perasaan Hoseok. Sooyoung telah memberikan pendapat sebisanya agar pria itu tak terlalu terbebani.
"Boleh ayah bergabung? " dua pemuda tak sedarah itu menghentikan kegiatan bercandanya ketika melihat kehadiran Hoseok disana. "Sudah ayah pikir berulang kali. " suasana hening hanya deru nafas mereka yang terdengar, dan hembusan nafas berat milik Hoseok.
"Baiklah, besok pagi kita akan pulang ke Korea. " jeritan senang terdengar bahkan dua pemuda itu berHigh fiveria.
___________🌻🌿🌻__________
Baiklah, ga ada yang spesial kali ini. Sejujurnya aku mau gabungin, tapi takutnya entar kepanjangan. Dan membuat kalian kebosanan buat bacanya.
Udah ada, tinggal nulis dan remake aja. Kasih aku waktu untuk berpikir.
Maaf membuat kecewa yang banyak kali.
Aku berusaha buat yang terbaik, tapi ada yang buat aku dilema sendiri. 2 chptr kedepan ini akan berakhir.SARANGHAE.
SEE YOU..... 🐰

KAMU SEDANG MEMBACA
LEAF [end]
FanfictionIni aku ambil dari kisah sahabatku. yang menceritakan dirinya dengan seorang teman yang membuat dirinya terlampau berbeda. cerita ini aku persembahkan untuk seseorang.