Ini aku ambil dari kisah sahabatku. yang menceritakan dirinya dengan seorang teman yang membuat dirinya terlampau berbeda.
cerita ini aku persembahkan untuk seseorang.
Angin berhembus menimbulkan irama yang merdu dari dedaunan yang bergesekan. Di tengah ke sibukan kota yang terkenal akan patung Libertynya, tak mengurangi pesona pemandangan alam yang membuat setiap orang terpesona jika memandangnya.
St. Pauls catedral.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah mansion berdiri kokoh di tengah kota, nampak serpihan matahari pagi menyinari memperindah sekeliling bangunan itu, Krish sengaja membelinya dan mendesigen sedemikian rupa agar membuat semua orang yang menempatinya merasa nyaman. Sehun menempatinya jika sedang berada di Amerika, bersama beberapa maid yang Krish beri upah untuk menjaga penampilan istanahnya tetap indah.
Setelah malam itu Hosoek segera mengepak beberapa kebutuhannya dan sang putra tunggalnya. Ketika terbangun Pagi harinya Jungkook termangu karena melihat perlakuan sang ayah yang menyuruhnya bergegas untuk merapikan diri, dia selalu bertanya pada sang ayah namun Hosoek tak menghiraukannya karena sibuk dengan beberapa dokumen yang entah apa itu. Sampai tak lama kemudian mobil Kris datang menjemput, Hosoek segera membantu putranya untuk duduk di kursi roda yang kemarin dibelinya.
"Ayah, ku mohon jawab aku. kita akan kemana? " Jungkook menggenggam erat lengan sang ayah agar mendapat perhatiannya. Dengan penuh harap ia ingin mendapat jawaban.
Hosoek merendahkan tubuhnya, berbicara menggenggam erat jemari putranya dengan penuh keyakinan. "Kita akan ke Amerika sayang, untuk membuat tubuhmu sehat kembali. "
Jungkook hanya terdiam setelah pertanyaan 'kemana?' nya terjawab, bocah itu terdiam antara menahan rasa kesakitan karena penyakitnya dan rasa hampa yang harus pergi meninggalkan kota kelahirannya sekaligus dia merindu pada sahabatnya. Jet pribadi milik Krish mendarat di Amerika kemarin pukul 10 pagi, rencananya setelah sampai di tempat. Suga ingin segera membawa Jungkook ke rumah sakit yang ia tuju, namun bocah itu memohon untuk dirawat di rumah saja.
Anak itu meyakinkan Suga bahwa tak akan terjadi apa-apa selama dia berada di sisihnya, dengan berat hati dokter muda itu menyetujui permintaan itu.
"Kookie-ah kau baik saja sayang? " Kehawatiran terpancar dari iris matanya, Hosoek sudah mendapati putranya lemas karena memuntahkan seluruh isi perutnya di pagi hari. Dengan hawatir yang membuncah ia menangkup wajah putranya yang telah terlihat pucat.
Jungkook mengulas senyumnya. "Ayah maafkan aku mengotori lantai kamar ini. " Hosoek menenggelamkan putranya dalam pelukan.
"Tak apa eum. " Sesekali Hosoek mengusap punggung putranya. "Apa sekarang yang kau rasakan? "
"Sedikit pusing. "
Semalam Jungkook mengalami demam, anak itu tak tenang dalam tidurnya. Dan semalaman pula Hosoek berada dalam kamar itu menenangkan putranya sampai tertidur dengan lelap.
"Good morning. " Sehun mengembangkan Senyumnya di bibir pintu, pemuda albino itu melangkahkan kakinya mendekat ke sisi ranjang. "Aigoo apa yang terjadi, kau benar baik saja?" Setelah melihat noda kental yang tercecer di lantai, Sehun menajamkan atensinya.