❄WINTER❄

1.5K 157 87
                                    

Cahaya matahari tampak meremang terhalang kelambu yang meliuk karena ulah angin, Hoseok masih setia duduk di tempatnya. Berbincang ringan dengan putra bungsunya tentang sehelai daun yang sudah mengering di tangannya. Remaja itu terus berbicara tanpa beban, membuat kesan tersendiri bagi sang ayah.
"Janji seperti apa yang kau buat? " Jungkook menggenggam erat daun yang ia pegang sejak tadi.

"Janji bahwa kebahagiaan itu memang ada dimana pun kita berada, Taehyung hyung yang mengajarkannya. Dia memang pemuda yang kasar, namun dia sangat manis." dia terkekeh kemudian. "Dia memaksaku untuk menyimpan daun ini, sebagai bukti bahwa perkataannya memang benar."

Hoseok masih terdiam, mendengar cerita selanjutnya.

"Ayah maafkan aku, maaf sudah berbohong. Malam itu, aku kabur dari asrama bukan karena kepala asrama yang memarahiku. Hanya saja pada waktu itu aku sedang bertengkar dengan Taehyung hyung, aku tidak mau jika ayah memarahinya karena ini salahku. " Hoseok tersenyum mengusak ringan pucuk kepala putranya.

"Aku harus menepati janjinya karena aku sudah bahagia, dia sudah sering tersakiti karena aku yang selalu egois untuk bahagia. Jika aku tak bisa menepatinya, maukah ayah menyampaikannya? " Hoseok terdiam sesaat. "Aku bukan tak mempercayai keajaiban ayah, tapi aku hanya ingin mewujudkan keajaiban itu sendiri. "

"Aku merasa menjadi teman yang buruk jika saja janji ini tak terwujud dengan sempurna, aku sangat keterlaluan jika begitu. Dia pantas mendapatkannya, bukan begitu ayah? "

"Tentu saja. "

"Dia terlalu buruk jika harus bersedih karena kecewa, dia harus bahagia bagaimana pun caranya. " ia terkekeh mendengar ucapannya sendiri.

Segelintir percakapan sederhana itu masih membekas di benak Hoseok, bukan pertama kali untuk pagi ini sarapan tanpa Jungkook di tengah mereka. Namun dia memang pria yang luar biasa bagi keluarga kecilnya, ia berusaha tertawa untuk putra sulungnya yang tampak murung dalam satu minggu ini.

Sudah 7 hari Jungkook pergi, musim dingin akan datang lebih dingin tahun ini. Jimin berusaha untuk mengubah suasana hatinya namun ia gagal.

"Pergilah dengan Sehun, nanti ayah akan menjemputmu. " Jimin menggangguk mengerti, hari ini dia akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di kampus yang ia inginkan. Hoseok tak bisa mengantar karena arah mereka berbeda. Sungguh anak yang beranjak dewasa ini tak bersemangat.

🍃

Ujian telah usai beberapa menit yang lalu, sekarang Jimin hanya duduk menunggu sang ayah datang menjemputnya di asrama. Barang milik Jungkook dan miliknya masih tertata rapih di almari kamar, sesekali ia menghela nafas beratnya. Semakin berat saja untuk menghilangkan perasaan buruk ini.

"Hi- Jim, kau datang bersama Jungkook juga? Ahh... Aku kesal tak melihatnya hari ini. "

Beban itu semakin bertambah karena fakta bahwa Taehyung belum tahu akan hal ini, kapan semua ini akan berakhir?.  Pemuda tan itu mengalungkan lengannya tiba-tiba, membuat Jimin tersentak sedetik kemudian.

"Yak! Ada apa dengan mu? Kau sakit? " Jimin menyingkirkan tangan Taehyung malas dari dahinya.

"Aku baik saja. " Taehyung menggernyit heran, melihat sekeliling ruangan itu.

"Kau membawa serta barang milik Jungkook? Kenapa? "

"Dia menitipkannya padaku, dia sedang pergi. " sejujurnya Jimin berat untuk mengatakan realita yang terjadi, dan dia lega karena Taehyung percaya padanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 23, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LEAF [end] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang