LEAF..🍃[3]

1.5K 232 47
                                    

"Taehyung-ah, kau tak hawatir dengan Jungkook semenjak kepulangannya kemarin dia tak menelponku sama sekali. Apakah ia menghubungimu.? " sergah Jimin pada Taehyung yang sedang duduk di sampingnya untuk sarapan bersama.

"Tentu saja aku hawatir, bagaimana pun juga ia temanku. Soal menghubungi dia sama sekali tak menghubungiku. " jelas Taehyung yang kemudian memasukkan makanannya ke dalam mulut.

"Kau jangan terlalu kasar padanya, apa lagi memukulnya. Terkadang aku menemukan luka lebam ketika Jungkook tertidur. Separah itukah? "

"Jimin-ah aku hanya ingin membantunya agar ia tak terlalu bergantung padaku, agar dia juga menyadari bahwa orang lain juga memperdulikannya. Soal kekerasan entahlah aku tak bisa mengendalikannya, dia selalu saja membuatku kesal. "

"Saat kubilang menjauhlah dariku, ia semakin mendekat dan meminta maaf berkali-kali. Kau bahkan tau tentang rumor ku dengan Jungkook di kalangan sekolah. " Taehyung menjelaskan semua isi hatinya pada Jimin, Jimin hanya diam dan mendengarkan mencoba mencari solusi yang baik.

"Aku tahu itu, ku rasa ia tak mau jika kau membencinya. Disaat kau marah ia sangat takut hal itu terjadi, ia mengaggap dirimu kakak kandungnya. Kau tau bukan Jungkook adalah anak tunggal di keluarganya. " balas Jimin kemudian.

"Hhfftt..... Sudahlah aku pusing memikirkannya. " ucap Taehyung mengakhiri penjelasannya.

🍃

Hosoek masih setia duduk di kursi yang telah di sediakan rumah sakit di samping ranjang Jungkook. Pemuda itu tampak lebih baik sekarang walaupun nasal canula masih bertengger manis di lekukan hidungnya untuk memberi oksigen lebih.

Hosoek tampak lebih tenang sekarang, beberapa jam yang lalu ia sungguh merasakan bahwa seakan kematian menjemputnya. Setelah kejadian itu, Hosoek segera menelphon ambulance dan membawa Jungkook kerumah sakit. Semenjak keluar dari IGD Jungkook masih belum membuka matanya.

Hosoek pun masih belum mengetahui penyakit apa yang sedang bersarang di tubuh putra semata wayangnya. Tak hentinya ia mengusap tangan Jungkook memberikan sedikit kehangatan padanya, sampai ia tak peduli pada keadaan dirinya yang masih memakai kaos oblong hitam dan celana treining coklatnya.

Dokter yang menangani Jungkook berkata bahwa hasil lab akan keluar nanti malam. Meskipun Jungkook membaik namun ia masih belum bisa tenang karena ia belum tau kenyataan apa yang akan di terimanya.

Tak lama kemudian seseorang masuk kedalam ruangan itu dan Hosoek pun memeluknya sebagai sambutan.

"Krish terima kasih kau mau datang. " ucap Hosoek setelah acara berpelukannya.
"Tak masalah, aku ini temanmu. Lalu sakit apa dia?. " Krish beralih pada sosok yang kini terbaring tak sadarkan diri.

"Aku belum tau, hasil lab nya akan keluar nanti malam. " kini Hosoek mensejajarkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain.

"Bersihkan dirimu, aku akan menjaga Jungkook. "

"Baiklah terima kasih, hubungi aku jika terjadi sesuatu. "

"Okay. "

Hosoek melangkahkan kakinya untuk pulang membersihkan dirinya dan sekaligus ia akan pergi kekampus untuk mengambil berkas sekaligus meminta Izin pada rektor kampus itu. Ia sedikit terbantu karena kehadiran Krish teman nya semenjak 10 tahun ini.

Krish adalah sahabat karib Hosoek ketika ia masih senior high school, dia orang yang baik dan selalu saja bisa diandalkan. Memang teman yang super baik, Krish adalah keturunan Canada yang sekarang memimpin perusahaan humas yang gemilang beberapa tahun terakhir ini.

Kini Hosoek telah rapih dengan baju casualnya, dia nampak seperti seorang yang masih bujang terkadang orang salah artikan karena penampilan Hosoek ini. Ia duduk di tempatnya semula, Krish pun juga mengganti bajunya karena saat ini malam telah melanda kota seoul.

"Tuan, Dokter Min ingin bertemu anda di ruangannya. " interupsi seorang perawat yang beberapa waktu lalu mengecek keadaan Jungkook.

Dengan segera Hosoek bergegas pergi dan menemui orang yang tadi menolong Jungkook di IGD.

"Silahkan masuk tuan. " ucap Hosoek setelah netranya bertemu dengan Hosoek di ambang pintu. "Silahkan duduk. " lanjut Dokter itu yang kemudian ia juga duduk di kursi kebesarannya.

Ada dua komputer disisi kanan meja dan papan kaca yang bertuliskan 'MIN YOONGI'. Hosoek nampak tersenyum membalas sapaan hangat dari dokter Min tersebut.

"Seperti yang saya bilang tadi, saya akan menjelaskannya pada anda tapi sebelumnya anda cukup memanggil saya Suga. Itu nama favorit saya. " Suga menyunggingkan senyumnya membuat wali dari pasiennya itu rileks terlebih dahulu sebelum menerima suatu diagnosa yang keluar dari bibirnya.

"Baiklah dokter Suga, lalu apa yang terjadi dengan putraku. " tanya Hosoek dan kemudian Suga menyuguhi nya dengan selembar kertas hasil lab dan monitor komputer hasil rotgent.

"Tuan, maaf sebelumnya. Menurut hasil lab kami, putra anda menderita penyakit
'Paraneoplastic Neorologic Syindromes atau (PNS). '. Penyakit ini adalah penyakit yang mana kondisi yang mempengaruhi sistem saraf yaitu, otak sum-sum tulang belakang saraf dan juga otot. "

"Syindrome saraf tidak disebabkan oleh sel kanker, namun oleh reaksi kekebalan tubuh yang menghasilkan kanker. Pada umumnya, respons imun putra anda dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang jauh melebihi kerusakan yang dilakukan kanker pada umumnya. " jelas Suga.

Hoseok tampak membeku, seolah dadanya tengah terhantam oleh beton yang tak terhitung beratnya. Air matanya pun telah mengalir tanpa henti.

"Tuan anda baik saja? " tanya Suga lagi mencoba menenangkan Hosoek.

"Ya, lalu apakah aku harus mendonorkan sum-sum tulang belakangku? " ucap Hosoek yang mencoba mengeluarkan suaranya.

"Tuan maaf namun penyakit ini tak seperti kasus penyakit kanker pada umumnya. " sesal Suga yang sudah tidak tega melihat clientnya, ini adalah sesuatu yang sangat di benci Suga karena melihat seseorang yang terpukul.

"Lalu.. Lalu apa.. Apa yang harus aku lakukan? " tanya Hosoek dengan kekuatan yang tersisa.

"Jalan satu-satunya adalah melakukan chemoteraphy dan mengkonsumsi obat secara teratur. Saya tidak akan memaksa anda untuk melakukan persetujuan itu sekarang. Jika anda siap anda bisa menghubungi saya kapan saja. " Suga menguatkan lelaki paruh baya itu.

"Baiklah terima kasih. "Hosoek pun segera beranjak dari ruangan itu, tanpa memberi salam pada Suga.

Hosoek nampak terhuyung ketika ia telah mendengar kabar menyakitkan itu, ia berpegangan pada dinding rumah sakit agar tubuhnya tak jatuh.

"Hosoek-ah! " Krish terlonjak dari kegiatan membaca beritanya, karena melihat Hosoek meluruh begitu saja di depan pintu. "Ada apa? Jelaskan padaku. " Krish memegang kedua pundak sahabatnya itu.

"Krish... Dia.. Di.. A.. Terkena kanker Krish. Aku harus bagaimana. " jawab Hosoek dengan isakkan nya yang memilukana Krish pun memeluk sahabatnya itu erat untuk membuatnya sedikit tenang.

"Sudahlah semua akan baik saja, percayalah. "

_______🌻🌿🌻________

COMENT DAN VOMENT
OKAY. 🐰

LEAF [end] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang