Begitu cepat hari berlaku tak terasa telah berganti tahun. Kini aku sedang duduk di bangku sekolah SMA akhir. Tapi tidak ada yang berubah pada diriku yang dalam keadaab apapun tidak pernah absen untuk mendengarkan musik. Kali ini lagu yang aku stel secara acak memutarkan lagu Astrid yang berjudul " Jadikan Aku yang Kedua"
Jadi yang kedua? Batinku. Mencoba mencerna maksud lagu itu.
Tak menyangka selang beberapa bulann dari malam saat aku mencerna maksud lagu Astrid itu siapa sangka aku berada di posisi yang samaa. Tak pernah terbayangkan dan terpikirkan di masa-masa SMA ini aku mendapati posisi yang sulit. Evan datang kembali membawa luka lama yang sebenarnya aku tak ingin salah semua seperti dulu. Dia datang untuk memberi cinta seutuhnya kepadaku tapi melainkan untuk membagi cinta.
Setahun berlaku ternyata tetap perasaan kita sama. Kalau aku sudah tentu pasti karena kesetiaanku dalam kesendirian ini merupakan bukti aku masih disini menunggunya. Tapi kini dia datang untuk membagi cintanya karena memang dia sendiri pun sudah ada yang memiliki.
Entah cinta lama bersemu kembali atau cinta lokasi karena kita berada di lokasi yang sam-sama terjebak atas ruang dan waktu. Lagi-lagi dan lagi kita terjebak cinta saat liburan sekolah. Saat dia jauh dengan kekasihnya dan dia mengisi liburan yang kebetulan ada akunya.
"Sekali lagi, cinta itu bukan permainan. Bukan juga sesuai situasu dan kondisi. Yang mana saat dengan Dia, kamu mencintainya. Dan saat denganku. Kamu mencintaiku. Cinta itu tidak di jalankan sesuai skenario karena semuanya itu mengalir natural. Kamu harus ingat, ini cinta bukan drama." Bentak ku padanya.
Aku bukan tidak pernah tapi sering kali dan untuk kesekian kalinya aku mengatakan kata-kata itu tanpa bosan. Dengan harapan dia mengerti.
" dan ketika kamu bersama dia apa kamu mengingatku? Apa kamu tahu sakitnya jadi aku? Saat kita hanya bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan dan saat kita hanya mampu melepaskan tapi tidak mampu mengikhlaskan. Dan itu yang aku rasakan. Sangat sakit dan itu yang aku rasakan saat kamu dengan yang lain!"
"Aku selalu inget kamu. Buktinya..."
"Buktinya sekarang kamu ke aku? Itukan yang mau kamu jawab. Lalu beberapa waktu lalu?"
"Aku sungguh-sungguh"
"Bohong"
"Aku serius Vio"
"Untuk kesekian kalinya kamu mengatakan kamu serius. Tapi tidak sedikitpun keseriusan itu ada padamh Evan"
"Aku sangat serius. Sekarang aku serius. Mau kah kamu menjadi pacarku lagi?"
Aku tak habis pada makhluk Tuhan yang satu ini. Dia berkata serius. Serius seperti apa yang dia maksud.
" apa? Jadi pacar kamu? Saat aku tahu jelas bahwa kamu pacar orang?"
"Iya tapi aku sayang kamu. Aku cinta sama kamu?"
"Lalu bagaimana perasaanmu dengan pacarmu sekarang"
"Ya sama"
"Hah?" Simple sekali jawaban anak ini. Heran sekali aku.
" maksud kamu apa?"
"Iya kita pacaran. Tapi saat kita gak bareng kamu boleh punya pacar lagi begitupun aku. Tapi kita saling jujur."
"Apa lagi ini? Maksud kamu sekarang kamu minta aku jadi yang kedua?"
"Iya tali buat aku, kamu tetap pacar pertama aku. Calon istri aku"
"Yasudah putuskan dia"
"Ya gak bisa dong Vio"
"Aku juga gak bisa berarti"
"Yah Vio. Mau dong..."
"Parah, aku gak mau. Kamu maunya enak di kamu aja!" Ketusku.
" ya kamu harus mau. Jalanin aja dulu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Teen FictionViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
