25. Tak Terduga

64 27 3
                                        

Kita bertiga pun sampai di depan rumah.
"Vio... itu siapa? Ada dua perempuan di teras rumah mu?"

"Hah? Gatau. Coba Kita lihat..."

Aku pun menghampiri kedua perempuan tersebut dan salah satu diantaranya memiliki wajah tak asing bagiku yang menimbulkan raut wajah sedikit aneh pada ekspresiku.

"Gue temennya Vera, dan ini Vera"

Perempuan yang bernama Vera itu bukannya pacar Evan. Lalu mengapa Dia menekuk wajahnya dan...

Menangis... iya Dia menangis.

"Iya ada apa ya?"

"Kamu yang namanya Viola?" Tanya seseorang yang temannya Bilang namanya Vera.

"Iya Aku Viola."

"Kamu selalu menjadi retaknya hubungan Evan dengan seorang perempuan. Alasan yang masih sama bahwa Dia belum bisa melupakanmu"

"Bagaimana mungkin ?"

"Sudah hampir setengah satu tahun Aku menjalani hubungan dengan Evan dalam keterpaksaannya"

"Maksud Kakak apa?"

"Iya... Aku yang memaksa Evan untuk mau menjadi milikku dan berhenti memikirkanmu"

"Aku?"

"Seorang perempuan yang tidak pernah berhenti ada di dalam hati Evan. Hingga kecelakaan maut hampir menelan nyawa Kita."

"Kecelakaan?"

"Kecelakaan yang semua orang pikir karena Kita hendak menonton Film adalah kebohongan semata. Kejadian yang sebenarnya adalah Evan meminta agar Aku menemaninya untuk bertemu denganmu sebelum akhirnya Aku memberontak dan membuat Evan lepas kendali hingga akhirnya kita terjatuh dan tertubruk dari belakang" ucap Kak Vera.

"Astagfirullah..."

"Aku sudah tidak ingin marah karena di sisa hidup Evan. Aku hanya ingin melihatnya bahagia"

"Sisa hidup? Maksud Kakak apa?"

"Kamu tahu mengapa Aku mendatangimu dan memarahimu waktu itu di sekolah. Semua ini sebabnya. Sahabatku Vera yang selalu ada untuknya tapi siapa yang di harapkan. Dia bahkan mengharapkan orang lain. Hancur hatiku sebagai sahabatnya lalu bagaimana dengan lebih hancurnya perasaan yang Vera rasakan."  Ucap Teman Kak Vera dengan emosi.

"Sisa hidup apa maksud Kakak?"

"Pergilah ke Rumah Sakit Mitra Plumbon, Evan sedang di rawat disana."

Tanpa babibu lagi, Bila dan Anwa yang tercengang mendengar semua pengakuan kedua perempuan tersebut pun langsung menemaniku dan mengantarku menuju Rumah Sakit Mitra Plumbon. Aku masih belum memahami apa maksud dari kedua perempuan tadi. Sisa hidup apa? Memangnya Evan kenapa?

Di perjalanan Bila berusaha menenangkanku.

"Semua akan baik-baik saja Viola. Tenang saja... kita belum tahu kepastiannya. Bisa jadi kedua perempuan itu hanya ingin membuatmu merasa bersalah"

"Yaa Allah... Bila... padahal Aku diam aja. Aku gak tahu apa-apa. Sebenarnya apa yang sudah menimpa Evan. Sebenarnya apa yang Dia inginkan? Apa yang terjadi?"

"Udah sayang... udah... sabar ya... sebentar lagi kita akan tahu apa yang telah terjadi".

"Dan mengapa Aku jadi menyebab retaknya hubungan mereka? Cepet dong! Cepet nyampenya Yaa Allah"

Haru Ungu Cinta ViolaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang