"Sayang..." suara mamah terdengar kembali memanggil.
"Iya mah?"
"Oh iya, mamah lupa. Titip rumah ya!"
"Oke mah beres"
"Mamah berangkat. Assalamualaikum"
"Walaikumussalam"
Mamah-mamah, katanya suruh main sama Bila sama Anwa. Tapi sekarang malah dititipin rumah segala. Aduh... alamat gak bisa kemana-mana inimah. Ya walaupun aku juga gak mungkin ke Bila atau Anwa. Paling tidak kalau gak di titipin rumah, aku bisa ngelayap lah nyari udara segar. Beuh... gerutuku.
_________
Melayang terbang dan hilang
Entah karena memang cinta ataupun rindu
Masih menggebu-gebu berhembus mesra
Dalam setiap butirannya
akan bertaburan gemerlap kasih dan sayang
Bersenandung indah
Ketika kita meniup dengan darah yang terpancar oleh surya
Tenggelam kelam tanpa tahu arah
Iya melangkah untuk menjauh dari tetesan embun pagi
Mentari tetap menatap dunia bersama mimpi
Meraih semua kasih sayang yang tercurahkan lewat semesta
Bernada Do Re Mi Fa So La Si Do bernyanyi NaNaNaNaNa
Menikmati alunan syahdu
Menghiasi wajah berselimut kalbu
Mengiringi awan hitam kalut tak secerah pelangi
Dengan senja yang masih setia menanti
Disini Aku masih berdiri
Tulis,tulis,menulis...
Aku tak butuh makna pada setiap rangkaian kata. Karena setiap kata yang terucap pasti sudah memiliki makna tersendiri sehingga tercipta. Aku hanya menuliskan apa yang Aku pikirkan dan rasakan.
Tapi untuk malam ini, satu kata Sepi.
Tak perlu ku beri terjemahan apa maksud dari sepinya malam ini. Ku kira setiap orang sudah bisa memahami apa maksud diri.
Ah... Vio... bicara apa kamu ini? Ngomong-ngmong apa kau akan selalu sendiri? Sampai kapanpun sendiri? Sekalipun Kau sudah lelah menanti? Sekalipun Kau sudah lelah mencari?
Mengapa seakan-akan Aril Peterpan menciptakan lagu itu untukmu? Benarkah Kau akan selalu sendiri? Batinku bergejolak.
Huft... terlalu drama sekali hidupku ini, mungkin jika drama korea akan banyak pasang mata yang rela menatap layar kaca untuk menontonku. Tapi drama ini berbeda, ini hanya drama kesedihan dimana hanya Aku saja yang rasakan. Udah... udah... udah... cukup. Bukanya aku sudah belajar banyak dari Anwa. Tapi mengapa gelisah kembali datang.
Mungkin ku pikir, aku terlalu bosan di dalam rumah ini sendiri. Sehingga pikiranku melayang-layang bebas tanpa bisa ku arahkan. Aku akan pergi keluar sebentar, hanya untuk sekedar menghirup udara segar. Mungkin dengan duduk di teras luar depan rumah. Atau bahkan berdiri di depan gerbang rumah. Tidak masalah bukan?
Jalanan sangat ramai, ternyata tidak membuat hatiku semakin membaik. Pemandangan di luar yang memperlihatkab pasangan berlalulalang semakin membuat perasaanku kalang kabut.
"Jam berapa ini?" Seketika akupun melihat jam ditanganku.
"Baru jam tujuh malam. Tapi sudah pada rapih aja para pasangan. Busset deh!" Ucapku ngoceh sendiri.
Tapi apa salah mereka? Apa juga urusan ku?
Mengapa jadi aku yang repot. Gerutuku dalam hati.
Payah...payah...payah Aku ini.
Tentang hati siapa yang bisa mengerti, jika bukan hanya diri sendiri.
#Viola
Tiba-tiba aku teringat pada sesosok orang yang tidak akan pernah lupa ataupun malas untuk menggunakan malam minggunya. Sosok orang yang aku sendiri sebenarnya tidak ingin tiba-tiba seperti ini mengingatnya. Karena hanya akan membuat sedikit luka itu terkelupas kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Teen FictionViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
