"Aku..."
Dengan segala kekuatan yang mulai melemah, dengan segala logika yang sudah mengalah dan hati membutakan seluruh jiwa dengan menguasai segalanya walau logika tak bisa lagi menerima tapi hati tak mau menolak. Akhirnya aku memutuskan.
"Aku mau" jawabku singkat namun seluruh hati ini sungguh berbunga-bunga.
" Makasih Vio"
Itu ucapannya yang terakhir kali sampai akhirnya dia kembali meninggalkanku.
Meninggalkanku kembali...
Yang terdengar saat ini adalah sebuah teriakan.
"Mamaaahhh!!!.... Evan udah pacaran sama Vio sekarang! Yeeayyy!!.... " teriaknya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar membuatku gila. Membuatku mencintainya dengan segala hal yang dilakukannya.
Aku melangkahkan kaki ke dalam rumah.
" Selamat yaa sayang " ucap Tante Merry.
"Jangan sedih lagi ya sayang" sambung Mamah.
Aku hanya meresponnya dengan sebuah senyuman.
Senyuman yang mungkin terkesan sederhana namun bermakna.
Aku memang percaya sejak awal sudah ku katakan bahwa perasaan di antara kita tidak pernah sepenuhnya padam. Maka akan dengan mudah kekosongan hati ini akan membuat Evan ataupun aku saat saling bertemu dapat menumbuhkan kembali rasa cinta itu. Hal itu juga yang membuatku bisa menerimanya kembali.
Untuk keputusanku menerima Evan tempo lalu, aku sama sekali tidak merasa itu adalah keputusan yang salah. Karena setiap orang memiliki masa lalu nya masing- masing. Terpenting saat ini akulah masa depannya. Masa lalu yang di ungkit - ungkit akan menyebabkan seseorang tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mengubah dirinya. Karena pada dasarnya manusia tempat salah dan lupa lebih tepatnya. Faktor penguat lainnya adalah aku masih mencintainya. Dan akan tetap mencintainya.
Selama bulan puasa aku tinggal dirumah nenek. Yang juga dekat dengan rumah Evan. Ibarat kata sebut saja mudik. Ya kami mudik kerumah nenek. Dan saat di sana adalah kesempatan aku dan Evan bertemu tanpa LDR. Karena jarak rumah kita berdua yang terpaut cukup jauh. Evan sering sekali berkunjung kerumah ku bahkan hanya untuk sekedar bertemu denganku. Dia sempat mengatakan saat ini bertemu dengan ku adalah yang terpenting baginya. Menghabiskan seluruh rindu sehingga tidak ada lagi yang membeku di dalam kalbu.
Kepercayaan kedua orang tua terhadap kita berdua sangatlah baik. Terlebih karena kedua keluarga kita kenal dengan akrab. Dan kedekatan itu pun membuat semua percaya hubungan aku dan Evan hanya sewajarnya saja.
Handphone-ke berbunyi.
"Yang..."
"Salam dulu" jawabku
"Assalamualaikum sayang"
"Walaikumussalam. Ada apa Van?"
"Apa kamu tidak menyayangiku?"
"Pertanyaan apa itu?"
"Aku serius"
"Hey, bahkan aku sudah menyayangimu sejak sebelum kamu mengungkapkan perasaanmu padaku. Asal kamu tau itu! Sejak dulu. Bahkan sudah hampir separuh umurku, tepatnya 8 tahun yang lalu.
"Benarkah?"
"Sangat benar"
"Lalu mengapa kamu tidak memanggil ku dengan sebutan sayang?"
"Karena rasa sayang ku tidak cukup di gambarkan dengan kata - kata Evan"
"Owalah... baiklah."
"Aku merindukanmu Evan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Ficção AdolescenteViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
