Menjalani rutinitas dan aktivitas yang beriringan dengan berbagai tekanan permasalahan hidup dan hati tentu tidaklah mudah. Namun semua sudah terlewati dan akhirnya mengantarkanku sampai pada malam ini.
"Yoo, vioooo" panggil mamah dari luar kamar.
" iya mah, gimana?"
"Udah siap nak?"
"Iya mah sebentar lagi"
Hemm.. yak malam ini malam tahun baru. Hoaaam... aku yang sebagai jomblo tingkat akhir pun akan bermalam tahun baru bersama keluarga.
" kunci jendela sama kamarnya sebelum pergi ya nak"
" iyaa mah"
Aku yang sudah selesai berbenah diri pun keluar kamar dan mengunci semuanya sesuai perintah mamah.
" Kak Vio, Kak Vio kok cantik banget sih. Cieee"
"Ah bisa aja sayang. Makasih vino :*"
Ku cium adik kesayanganku yang imut nan masih lucu lucunya meskipun sekarang sudah berumur 7 tahun. Pipi chubby nya membuatnya tetap terlihat menggemaskan.
"Yuk, udah siap semua kan?" Tanya papah.
"Iya paah" jawab kami serentak.
" cuss.. let's gooooo" ucapku.
Aku tidak tahu akan kemana kita akan merayakan pergantian tahun malam ini, yang pasti saat ini hatiku dalam keadaan mood yang baik. Semoga semua berjalan baik. Mungkin papah sudah menyiapkan tempat kita untuk merayakannya dikarenakan sepertinya papah dengan mudahnya menyikapi jalanan yang macet malam ini. Seakan - akan tempat tujuannya sangat matang sudah Beliau pikirkan.
Tin tin.... ( papah membunyikan klakson tepat di depan rumah seseorang). Rumah megah berwarna putih dengan 2 lantai dan tampak sangat mewah. Hal yang paling pertama kali menjadi pertanyaan dalam pikiranku. " rumah siapa ini?"
" ngapain tahun baruan dirumah orang" pikiranku yang kedua.
" nah kita sudah sampai" ucap papah.
" loh pah, kita tahun baruan di rumah orang gitu?"
" iya nak, sekalian syukuran rumah baru nya Om Pendra kita di undang main kerumahnya. Toh kalau ke kota juga kan macet. Dan kan udah lama juga kamu gak ketemu Evan kan?"
What you say? Batinku. Pak Pendra? Ketemu Evan?
Hellowww... jadi rumah ini rumah ahh.. tidak kuduga. -_-
"Harus banget kesini ya pah, kan Vio pengen liat kembang api dong kayak yang lain" rengek ku seperti anak kecil di umurku yang sudah 17 tahun ini.
" jangan salah sayang, Om Pendra udah habisin satu juta uang buat beli kembang api demi berjalan indah nya pesta malam ini dirumahnya loh!"
" oh ya? " jawabku singkat. Apapun yang Ku katakan tak akan bisa lagi merubah keputusan papah untuk memenuhi undangan Om Pendra. Ya kali Om - Om masa tahun baruan dirumah batinku. Alasan ku sudah terpatahkan dengan kembang api satu jutanya Om Pendra. Ah yasudahlah. Aku menuruni mobil dengan ya you knowlah. Malas - malasan.
Bukan karena aku ingin melihat kembang api, atau aku ingin berada di Taman Kota pada malam tahun baru ini. Hanya saja, andai saja anak dari Om Pendra itu bukan EVAN! Semua pasti akan baik - baik saja. Aku tidak ingin lepas kontrol jika bertemu dengannya atau bahkan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya. Terlebih setelah mengetahui Dia si Peneror itu. Cih, aku bisa apa.
Lenggang melenggangkan kaki ku berjalan memasuki rumah itu, yang tinggi pintunya 3 kali tinggi badanku. Pasti besar sekali rumah ini batinku.
Kring - kring ( bel rumah Om Pendra dibunyikan). Rumah ini tentu saja menggunakan Bel. Karena dengan volume rumah sebesar ini, tentu akan sulit terdengar ke dalam jika kita dengan mengetuk pintu.
Seirama dengan bel yang berbunyi, jantungku pun semakin berdegub kencang. Ahhh tahan Vio tahan, Kontrol diri. Batinku.
"Yaa Allah Mas Yuspar, Mbak Rena akhirnya sampai juga" sambut Tante Merry saat pintu terbuka. Astaga, Beliau tetap terlihat ramah.
"Iya mbak Merry Alhamdulillah tidak terjebak macet. Walaupun harus melewati jalan - jalan tikus untuk menghindarinya" jawab papah santaim
"Mas pendra, mas.. ini Mas Yuspar sudah datang." Teriak Tante Merry memanggil Suaminya.
Papah dan mamah ku pun bersalaman dengan keluarga Evan seiring dengan munculnya Om Pendra. Aku pun turut bersalaman.
" Ah ini Vio yaa, sekarang sudah besar ya. Terakhir ketemu SMP. Sekarang sudah SMA yaa. Cantik sekali kamu sayang. Manis!" Ucap Tante Merry sambil membelai rambutku.
Aku mencium tangannya dengan wajah tersipu malu. "Ah tante biasa aja kok" jawabku sumringah. ( Tuhan, aku merasa benar-benar teruji batinku).
Detak jantungku sudah kembali normal. Ku harap akan selalu begini. Dalam diam aku berdoa. Semoga Dia tidak ada, semoga sedang malam tahun baruan di luar atau terserah kemanapun yang penting tidak ada disini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Fiksi RemajaViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
