"Kemaren ada yang bilang sama Aku kalau kamu di bentak-bentak sama cewek di depan gerbang sekolah. Apa itu benar Vio?" Tanya Fatur menyelidik.
"Ya iyalah benar, cewek semacam Dia pasti banyak punya musuh di luar sana. Terlebih dengan hobi merebut pacar orang" ucap seseorang yang tak asing tapi selalu mengasingkanku yang tak lain Luna. Luna yang selalu berdua dengan Sisja
"Nah itu bener banget lun!" Sambung Siska temannya
"Gua gak lagi nanya sama lu lu pada!" Jawab Fatur dengan ekpresi tidak suka.
"Iya Fatur kemaren emang ada cewek yang nyamperin Aku. Tapi Aku gapapa kok"
"Tuh kan! Apa kata gua... ya jelas gak apa apa lah orang Dia yang ngapa-ngapain orang lain" jawab Luna dengan segala kebenciannya.
"Maling mah gak bakal kenapa-napa. Yang rugi kan korbannya" sambung Siska.
"Pergi kalian dari sini atau kalian akan menyesal!" Bentak Fatur.
"Santai kali!" Luna melotot dan melangkahkan kaki untuk pergi yang diikuti juga dengan kepergian Siska.
"Mereka selalu saja mencampuri urusan orang lain"
"Sudah biarkan saja" jawabku.
"Oh ya... ngomong-ngomong cewek itu siapa?"
"Dia bilang, Dia adalah sahabat dari pacar mantanku"
"Lalu apa urusannya denganmu?"
"Sudahlah Fatur... Aku belum ingin membahasnya"
"Baiklah."
_________
Di Kantin
Aku lihat Aulia sedang sibuk menghabiskan makanannya di tengah-tengah ramainya siswa-siswi di kantin. Aku ke kantin bersama dengan Fatur, karena si lahap Aulia sudah lebih dulu meninggalkanku. Dan jika harus memilih menungguku atau mengisi perut, Dia sudah pasti akan memilih langsung pergi meninggalkanku dan mengisi perut.
"Cie... duaan terus" ledek seseorang tak lain Aulia yang melihat Aku dan Fatur bersama.
"Hoaaamm ngantuk masa" Aku menguap entah mengapa Aku benar-benar mengantuk.
"Hoaaam... kok Aku jadi ngantuk juga ya" Fatur juga menguap.
"Duh segala disama-samain deh. Nguap aja pake barengan. Cie...." ledek Aulia dengan menunjuk-nunjuk dengan pulpen Aku dan Fatur yang duduk di hadapannya. Memutar-mutarkan pulpennya di hadapanku dengan terus berkata cie-cie.
"Duh jatuh lagi pulpennya, ambilin dong!"
Refleks Aku dan Fatur yang tidak di arahkan kepada siapa Aulia meminta tolong pun menuduk dan segera mengambil pulpennya. Namun yang terjadi kepala kita berdua terbentur ringan.
"Aauuu..." teriakku
"Duh..." rintih Fatur
"Cieee..." lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Aulia.
Dan saat kembali mengambil pulpen tangan kita berdua bersentuhan. Dan teruntuk Aulia yang melihat kejadian itu pun mengeluarkan kembali kata favoritnya. Namun kali ini lebih panjang.
"Cie... cielah... Jodoh" ucapnya dengan teriak-teriak kegirangan.
"Berisik ih" ucapku... "sstt..."
Fatur hanya tertawa dengan kejadian dan ulah jail Aulia yang mungkin Fatur merasa Aulia sengaja melakukannya.
"Jail banget ya temen kamu Viola" ucap Fatur dengan tertawa.
"Haha tau tuh dia gajelas" jawabku.
Satu kata andalannya.
"Bodo! Hahaha" jawab Aulia.
Dia semakin mendekatiku, pikiranku perihal bahwa Fatur hanya sementara hadir di dalam kehidupanku akhir-akhir ini adalah pemikiran yang salah. Karena hampir setiap hari kini Fatur datang mengisi hidupku. Setiap hari juga dia selalu menjemputku, setiap istirahat sekolah dia selalu mengantarkan bekal makanan untukku. Meskipun seharusnya sebagai seorang perempuan mestinya Aku yang memberinya bekal makanan. Tapi tidak sedikitpun Aku menaruh hati padanya.
Hari ini Dia mengajakku ke sebuah bukit di daerah kuningan. Lumayan jauh memang dari Cirebon. Entah mengapa Fatur mengajakku ke sebuah bukit, aku pun tidak mengerti. Aku sampai disana malam hari. Dia menarikku dan terhenti pada sebuah pemandangan yang sangat indah
"Selamat datang di bukit bintang Viola"
"Wow... indah banget Fatur" aku terkagum-kagum lost control.
"Kamu suka?"
"Suka banget, makasih Fatur"
"Iya sama-sama."
"Eh kamu tunggu disini bentar ya"
"Emang kamu mau kemana? Ngeri ih di tinggal sendiri di bukit"
"Mau ambii something"
"Oke"
Tidak lama kemudian Fatur pun kembali.
"Surpise happy birthday Viola"
Aku hanya melongo menyaksikan kejutan yang Fatur berikan. Jika harus di gambarkan dengan sebuah angka Aku memberinya nilai 98. Nyaris sempurna...
"Sumpah ya sumpah" aku tidak kuat menahan air mataku yang akhirnya mengalir
"Aku seneng banget Fatur ih" teriakku kegirangan.
"Berarti kamu suka kan ya?"
"Suka bangetlah..."
"Kalau sama Aku?"
"Sama Kamu? Maksudnya?"
"Iya kalau sama Aku suka ga?"
Seketika suasana haru pun berubah menjadi menggebu.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tahu darimana aku suka cake blackforest sama boneka panda ini?" Tanyaku.
"Cari tahulah, apasih yang enggak buat kamu"
"Bisa aja"
"Terus gimana nih? Jadi kamu mau ga?"
"Mau apa?"
"Kamu mau gak jadi pacar Aku?"
Aku masih hening, membisu seakan-akan tidak ada yang bisa ku suarakan. Apa yang harus ku jawab? Jika bisa aku ingin berlari. Karena jujur saja aku tidak pernah mencintainya. Selama ini respon-responku padanya hanya bentuk pelampiasan rasa kalut hatiku pada Evan waktu itu.
Atau aku coba saja?
Mencoba membuka hatiku untuk Fatur. Apakah aku tidak sangat jahat juka menjadikannya pelampiasan. Tapi rasa tidak enak hatiku atas semua kebaikannya padaku seperti memaksa agar aku dapat menerima cintanya.
Tapi cinta dan kasihan adalah hal yang berbeda.
Namun...
Ah yasudahlah... aku terkepung berdua disini.
Jika bukan jawaban MAU. Jawaban apalagi yang akan membuat nyaman.
"Iya Fatur Aku mau" jawabku datar tapi tetap tersenyum.
"Terimakasih Viola. Aku mencintaimu."
"Iya..."
Surpise yang Dia berikan benar-benar indah dan hanya Dia satu-satunya teman pria yang merayakan ulang tahunku, dan saat ini Dia adalah pacarku.
Siang tadi Aulia juga memberi kejutan untukku. Sedikit banyak Dia mulai memahami dan selalu ada untukku. Meskipun begitu dalam kebahagiaan ini. Aku merasa ada yang kurang. Biasanya Bila dan Anwa akan selalu hadir di dalam setiap moment hidupku. Ya walaupun Anwa sendiri belum pernah merayakan ultahku karena Dia baru bersama Aku dan Anwa di akhir-akhir kelas 12 ini. Tapi segala sesuatu yang membuat kita senang pasti akan kita buatkan party kecil-kecilan untuk merayakannya.
Dulu...
Eh maksudku, beberapa waktu lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Teen FictionViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
