"Bilaaaaaaaa...!" Panggilku seraya memeluk Bila.
"Hey hey kamu kenapa? Datang-datang langsung meluk aku" tanggap Bila tanpa melepaskan pelukanku.
"Capek huhu" rengek ku.
"Capek kenapa? Kamu berangkat sekolah jalan?"
"Yaelah... gitu doang mah aku ga bakal capek. Inimah capeknya beda."
"Capek apaan yang beda?"
"Capek hati bil...."
"Ada masalah tah? Ayo cerita aja. Kayak gak biasanya aja langsung cerita."
"Biasa" jawabku singkat.
"Jangan bilang Evan"
"Iya Dia" pelukku semakin erat.
Aku dan Bila adalah teman dekat sejak kecil. Sehingga Dia tahu secara menyeluruh apapun tentangku. Dia juga saksi hidup dalam perjalananku mencari Arjuna. Walaupun Dia tidak selalu bersamaku. Tapi aku tidak akan pernah lupa menceritakan secara detail apa saja yang sudah terjadi padaku selama tak bersamanya. Aku tidak kali ini saja mengadu pada Bila tentang apa saja yang Evan lakukan padaku. Baik hal-hal romantis sampai tragis. Bila yang tahu bahwa aku sangat mencintai Evan, tidak pernah memintaku untuk berpindah hati ataupun melupakan Evan.
Dia hanya mengatakan biarkan mengalir. Karena Bila sangat mengerti karena cinta bukanlah paksaan. Cinta datang dengan sendirinya dan akan pergi bila sudah waktunya. Sehingga memaksakab diri untuk berhenti mencintaipun hanya akan menyiksa dan tentunya bukanlah solusi yang baik.
Aku menceritakan semua yang aku alami pada Bila. Semua hal termasuk ketika aku rela menjadi yang kedua. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Terlebih saat aku mengatakan padanya bahwa cinta telah membodohiku.
"Bila cinta itu pembodohan!"
"Apakah cinta itu pembodohan adalah kesimpulan yang orang buat ketika Dia merasa sangat mencintai orang lain lebih dari dirinya sendiri namun Dia hanya di sia-siakan. Begitukah?"
Aku tertegun dan menggeleng.
"Entahlah Bil, tapi itu yang aku rasakan."
"Vio sayang... jangan mengatasnamakan cinta sebagai sebab akibat dari lukamu. Karena cinta hanya sebuah rasa yang suci bahkan sebuah anugrah yang disalah gunakan oleh pengguna cinta itu sendiri. Sehingga akhirnya cinta lagi yang menjadi sasaran bersalah."
"Iya tapi faktanya cinta itu yang membuat aku terlihat bodoh Bila!" Elak ku.
"Itu bukan cinta Vio. Tapi itu melainkan hasrat diri yang kamu sendiri belum bisa mengontrolnya."
"Ya memang ada benarnya juga yang kamu katakan Bil. Aku harus bisa mengontrol diri. Aku harus bisa biasa saja. Aku gak boleh keliatan lemah. Karena pada dasarnya kehadiran cinta itu untu menguatkan"
"Bahkan kamu sangat mengetahui jawaban yang selama ini kamu cari Vio"
"Iya Bil..."
"Gitu dong Vio. Tetap semangat walaupun tanpa penyemangat" ledek Bila. " jangan sampai lupa bahagia ya Vio. Aku yakin kamu pasti bisa. Walaupun gak tau gimana cara kamu mengatasinya"
"Iya Bila. Kamu selalu menjadi tempat aku mencurahkan hatiku dengan baik"
"Sini peluk lagi" ucap Bila.
Aku memeluknya dengan erat kembali. Terimakasih Bila...
Cukup sudah, ku mulai naik darah. Ku butuh oksigen untuk aku bernafas tanpamu. Beri sedikit waktu, agar aku bisa terbiasa bernafas tanpamu. Berulang kali Kau meniupkan air sabun itu sehingga menjadi gelembung udara yang terbang ke atas terbawa angin dan seketika angin juga yang membuatnya pecah. Layaknya cinta yang kau hembuskan padaku dan membuatku melayang, setelah tinggi mencakar langit, kamu juga yang menghempaskanku kembali hingga terjatuh ke dasar tanah. Semua ulahmu, permainan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Novela JuvenilViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
