KLIK!!!
Berderet puluhan pesan yang tak lain adalah pesan masuk dari Bila dan Anwa. Aku tercengang, pesan ini tidak terdeteksi dan masuk ke dalam kotak spam.
Aku mulai membuka pesan satu persatu.
Pesan-pesan yang berisi :
"Vio Kamu boleh marah tapi jangan benci atau bahkan pergi dari kita ya" isi pesan pertama.
Aku menggeser ke pesan-pesan berikutnya.
"Vio sekarang Kita sadar. Kita yang egois, harusnya kita sadar kalau cinta gak bisa di paksa baik kehadiran atau kepergiannya. Maafin Kita dong Vio."
"Vio... sampai kapan kita seperti ini. Aku ngerasa ada yang kurang tanpa hadir kamu disini"
"Vio Kamu jangan salah paham. Kamu harus tahu kita me jauh bukan karena kita lebih bahagia jika berjarak dengan Kamu. Tapi kita hafal betul kalau kamu gak suka misalnya lagi marah di ganggu. Iya kan Vio?"
"Vio kenapa Kamu ga pernah balas semua pesan yang sudah ku kirim. Semarah itukah kamu?"
"Viola.. kapapun kamu ingin kembali. Kitalah tempat kembali itu Viola."
"Happy Birthdag Vio... Kita lagi ngerayain ultah kamu disini. Aku sama Anwa lihat kok Kamu udah di bahagiain sama Fatur dengan kejutannya yang mewah. Tapi tetep inget sama Kita ya Vio. Kita gak pernah lupa hari bersejarah Kamu kok"
"Viola... biarkan Aku menjadi duri dalam indahnya mawarmu agar Aku tetap bisa melindungimu walau dalam diam"
Aku terhenti pada pesan kesekian yang berisikan sebuah Video mereka sedang merayakan ulang tahunku meskipun tanpa hadirku disana yang di iringi dengan lagu ulang tahun yang mereka nyanyikan bersama. Dengan kata-kata pada pesan terakhir yang dulu ku buat untuk Evan dan Bila masih mengingatnya sampai sekarang.
Lagi-lagi Aku hanya bisa menangis layaknya manusia bodoh. Aku terharu membaca dan menyaksikan semuanya. Seandainya Aku mendengarkan ucapan Bila dan Anwa sejak awal perihal sudah seharusnya sejak lama Aku melupakab mungkin Aku tidak akan sesakit ini. Pasti semua akan lebih baik karena tidak akan lebih banyak orang yang terluka termasuk mamah pun sudah melarangku menghubung Evan sama seperti Bila dan Anwa. Dan keras kepalaku yang membuatku seakan menutup telinga mengabaika semua yang ada. Hanya memahami dan menuruti ego ku saja.
Aku selalu berprasangka buruk bahwa mereka bahagia tanpaku dan tidak pernah mengingatku. Padahal puluhan pesan ini adalah bukti mereka tidak pernah melupakanku, tidak pernah jauh dan berhenti memperhatikanku. Mereka masih disini, dekat bahkan sangat dekat di dalam hati ini.
Aku sendiri yang memblokir nomor Bila dan Anwa ketika Aku sedang dalam amarah waktu itu. Dan Aku juga yang lupa sampai akhirnya
berpikiran yang tidak-tidak. Astagfirullah...
Cinta memang sudah membuat buka mata dan hatiku
Mudah sekali amarah dan emosi menguasaiku sampai Aku lupa diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Ficção AdolescenteViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
