Kring...kring...
Telepon genggam ku berdering.
Mamah Merry
Klik aku menekan tombol hijau untuk mengankatnya.
"Assalamualaikum... Kamu dimana sayang? Kamu bisa ke Rumah Sakit Mitra Plumbon sekarang gak nak? Kamar Kenanga no. 5" dengan nada tergesa-gesa.
"Walaikumusaam. Iya mah... Viola sudah sampai rumah sakit. Vio segera menuju kamarnya ya mah."
"Iya nak"
Mamah Merry langsung mematikan teleponnya.
"Kenanga nomor 5 An,Bil"
"Kesana" tunjuk Bila.
Kita pun segera menuju kamar dan mendapati sudah banyak orang di depan kamar tersebut dan Aku terpaku pada beberapa orang yang tak asing bagiku.
Aku sangat cemas hingga nyaris marah.
"Yaa Allah... mamah sama papah tahu semua ini? Dan gak bilang sama Viola? Yaa Allah mah pah... Viola gak ngerti lagi sebenernya mamah sama papah ngerti gak perasaan Viola gimana?." Tubuhku melemas, kepalaku sangat berat.
"Mamah yang meminta kedua orangtua mu merahasiakan semuanya darimu. Nanti mamah jelasin. Sekarang ikut mamah ke dalam ya sayang" Ucap Mama Merry ibunda dari Evan.
Aku memasuki kamar rawat Evan dan Astagfirullah... Apa yang terjadi pada Evan. Mengapa banyak sekali alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Aku tak kuasa menahan diri.
"Yaa Allah Evan kenapa mah... kenapa Evan udah kayak gini."
"Evan mengidap penyakit leukemia stadium akhir Viola" Mama Merry pun tak kuasa menahan tangis mengucapkan pernyataan tersebut padaku.
"Yaa Allah... Yaa Rabb... mengapa semua ini terjadi" tidak sanggup lagi rasanya Aku berdiri hingga tubuhku terkulai ke bawah dan duduk bersandarkan tembok.
Mamah Merry menggenggam tanganku.
"Kita harus kuat supaya Evan bisa kuat ya sayang"
Aku berdiri seakan setiap perkataan Mamah mengandung kekuatan tersendiri bagiku. Aku harus kuat untuk bisa menguatkan.
"Van..." panggilku pada Evan yang sangat melemah.
"Bangun ya... Aku ada disini" terlalu sering Aku menghapus air mata hingga tanganku terbahasi oleh air mataku sendiri.
"Harusnya Kamu cerita sama Aku, harusnya Aku bisa nemenin Kamu di masa-masa sulit kamu sekarang. Kenapa Kamu gak pernah cerita?"
Aku menggenggam tangan Evan yang dingin berharap dapat memberikan kehangatan. Dan semoga Dia dapat merasakan kehadiranku.
"Van..." Aku tak kuasa menahan tangis. Hanya berdoa dan menangis yang bisa ku lakukan. Jika saja bisa menggantikannya, ingin sekali rasanya Aku menggantikannya. Mengapa Dia harus mengalami semua ini.
Aku memejamkan mataku menemani tidurnya malam ini. Berharap esok akan ku temukan keajaiban pada dirinya yang bisa memancarkan sinar kebahagiaan pada kita semua yang ada disini.
Masih menggenggam tangannya dalam lelapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
JugendliteraturViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
