Cahaya matahari pagi sudah mulai membuat silau kamar rawat Evan.
Aku pun terbangun dari tidurku setelah ku rasa seseorang mengusap lembut kepalaku. Dan ketika ku membuka mata.
"MasyaAllah... Evan..." Aku terharu. Seseorang yang mengusap kepalaku tak lain adalah tangan lemah Evan.
"Akhirnya Kamu sadar juga"
Terukir senyum di wajah pucat pasinya. Dia menatapku lekat dalam ketidak berdayaannya. Senyum yang mengandung banyak arti. Sepertinya Dia sangat ingin banyak berbicara padaku. Dan Aku pun sudah siap untuk mendengarkannya.
Aku kembali menggenggam tangannya. Aku ingin Evan tahu. Aku akan terus menggenggam dan bersamanya sampai akhir hayatnya. Karena sungguh dalam hidup ini setelah keluargaku, Dia adalah imaginasi yang ku ciptakan untuk dapat menikmati hidup bahagia bersamaku.
Mamah Merry, Papah Pendra, Caca, Mamah dan juga papahku masuk ke dalam kamar rawat dengan sangat senang melihat Evan yang tersenyum penuh kesan. Dan kini semua pandangan tertuju pada Evan dengan senyumnya yang mengembang. Seakan-akan ini adalah saat yang paling berharga bagi semuanya.
Tapi mengapa matanya mulai terpenjam, seiring dengan hilangnya senyum di wajah Evan. Seketika suasana seisi ruangan menjadi berubah.
"Van..." panggilku.
"Evan..." aku mengoyak tubuhnya
Dan Tak ada tanggapan dari Evan.
Mataku langsung tertuju pada mesin yang terletak di samping kanan tempat tidur Evan.
Dan bunyi yang berasal dari mesin pendeteksi detak jantung tersebut.
"Inalillahi" itu ucapan terakhir yang keluar dan ku ingat dari bibirku
Sebelum semuanya tiba-tiba gelap.
Ternyata Aku tidak sadarkan diri.
Aku mengusap kedua mataku sedangkan beberapa orang sudah mengelilingiku. Mereka semua menangis. Hanya Aku yang tidak menangis. Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi beberapa menit sebelum Aku tak sadarkan diri. Spontan saja Aku langsung berlari ke dalam ruangan rawat Evan.
Aku melihat Evan sudah tidak menggunakan alat-alat kesehatan yang seperti menyiksannya itu.
Aku berucap Alhamdulillah ternyata Evan sudah sehat dan itu hanya halusinasiku saja. Evan baik-baik saja. Aku baru saja mimpi buruk.
Tapi sebentar...
Mengapa semua orang menangis?
Dan... mengapa perawat-perawat itu menutup seluruh tubuh hingga wajah Evan dengan kain putih.
Seseorang merangkul ku dari belakang.
"Kamu harus sabar ya sayang. Kita harus mengikhlaskan kepergian Evan."
Deg...
Kepergian?
Aku menengok kepada seseorang yang mengatakan hal tersebut padaku.
"Enggak! Evan gak pergi mah!" Jawabku pada Mama.
Aku berjalan menuju perawat yang sedang bersama Evan.
"Apa apaan ini mba? Kenapa di tutup-tutup kayak gini ? Nanti Dia ga bisa napas mba?"
Aku membuka kain tersebut dan melemparnya.
"Istigfar Viola... Evan udah meninggalkan kita semua"
"Enggak mah... enggak"
Aku berjalan ke arah Mama Merry.
"Evan masih hidup kan Tan? Iya kan Tante?"
Tapi sosok tersebut terus saja menangis tak memberi jawaban. Kulihat wajah Om Pendra disamping Tante Merry yang sama-sama penuh kesedihan.
"Gak mungkin!" Bantahku.
Aku kembali menuju tempat kasur Evan dan menggenggam tangannya.
Dingin
Dingin sekali tangannya dan Aku benar-benar tidak merasakan denyut nadinya. Saat ini dengan sangat berat hati Aku harus meyakini bahwa Evan benar-benar sudah tiada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Ungu Cinta Viola
Ficção AdolescenteViola selalu berpikir bawa keteguhan cinta dengan segala kebaikannya yang tulus akan membawanya dalam kebahagiaan sesungguhnya. tapi siapa sangka kehidupannya malah seakan-akan selalu mempermainkannya di balik semua yang telah Dia lakukan. penghiana...
