Thirty Two

1.1K 86 15
                                        

A few months later..

Cassie akhirnya sudah dalam tahun akhir sekolah menengah atasnya, dan sekarang baru saja selesai merayakan kelulusannya bersama teman-temannya. Tapi ia merasa ada yang kurang, Dylan tak ada disana, mereka tidak merayakan hari kelulusan bersama-sama.

Akhirnya Cassie mencoba memvideo call Dylan lewat LINE, tapi Dylan tak kunjung menjawabnya. Cassie juga sudah mengiriminya beberapa pesan tapi tidak ada balasan sama sekali. Apa Dylan tidak ingat bahwa hari ini hari kelulusan sahabatnya?

Cassie mematikan handphonenya, menghela berat nafasnya, ia sangat merindukan Dylan. Semenjak kepergian Dylan, ia belum juga kembali untuk menemui Cassie atau keluarga ataupun sekedar untuk liburan. Sesibuk itukah Dylan di sana?

"Cass, ayo ke dalam. Banyak yang nyariin lo tuh" ujar salah satu teman Cassie.

"Iya iya, gue nanti ke dalem kok"





***

"Cassie, bangun deh, coba nih liat apa yang gue temuin" Abby duduk di sebelah Cassie dengan laptop di pangkuannya

"Berisik, gue masih ngantuk ah. Sana pergi" usir sang adik

"Bener lo mau ngusir gue? Gak mau tau apa yang mau gue tunjukin?"

"Ihh lo bawel deh, udah sana ganggu aja"

"Yaudah, padahal gue mau kasih tau kalau kampus tempat Dylan kuliah lagi buka pendaftaran"

Cassie langsung melotot dan bangun dari tidurnya.

"Mana mana mana?!" ia merebut laptop yang sedang Abby pegang, lalu mencari informasi tentang yang diberitahu sang kakak.

*

Lusa..

Pagi ini Cassie sudah siap dengan kopernya, satu jam lagi dia akan berangkat menuju London. Ia sangat bersemangat. Saking semangatnya, semalam ia sampai tidak tidur dan rela menunggu sampai pagi tiba.

'Dylan, tunggu gue!' batinnya.

Yap, setelah mencari informasi tentang universitas incarannya dua hari lalu, Cassie langsung mendaftarkan dirinya, dan jackpot! Ia diterima.

"Semangat bener mba, ga sabar mau ketemu Dylan ya?" goda Abby mencolek colek lengan Cassie.

"Apasih Ab, orang gue seneng bisa dapet kuliah di luar negeri, wle" Cassie menjulurkan lidahnya.

Sementara Abby mencubit pipi adiknya gemas, "Iyadeh, iyaaa" kemudian mereka berdua terkekeh.

"Cass?"

"Ya, Ab?"

"Lo baik baik ya disana, jaga diri lo. Jangan lupa buat vc gue sama dad, ntar mentang-mentang udah ketemu Dylan, gue yang jadi tempat curhatan lo tentang dia malah lo lupain gitu aja. Kalo udah nyampe juga langsung kabarin gue, biar gue ga cemas. Belajar yang bener okay?" cerocos Abby.

"Iya Ab, iya. Tenang aja, cerewet ish." Cassie terkekeh

"Awas aja lo kalo ga ngabarin gue. Koleksi album sama novel lo gue bakar"

"Ih jangaaan! Iya iya langsung gue kabarin kook" Cassie mempoutkan bibirnya

"Haha okay okay, tuh udah check in. Gih sana. Hati-hati adek kesayangan gue" Abby memberikan pelukan terakhir sebelum adiknya pergi.

"Um. Lo juga baik baik disini ya, Ab. Sampain salam gue buat Andrew" Cassie melepas pelukan dan berjalan menuju ruang check in

Sebelum Cassie benar-benar masuk ke ruangan check in, tiba-tiba ada yang meneriakkan namanya. Sontak ia pun menoleh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 09, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang