Twenty Nine

752 98 6
                                        

Sepulang sekolah gue ke rumah sakit untuk ngelihat kondisi Cassie. Ketika gue tiba, orang-orang yang ada disana kelihatan panik, membuat gue juga ikutan panik. Gue langsung lari dan menghampiri Abby yang tengah nangis di pelukan Andrew.

"Ab, ada apa? Cassie..Cassie kenapa?"

Abby melepas pelukannya dari Andrew sambil mengelap air matanya.

"Detak jantungnya semakin melemah. Terus sampe sekarang bokap gue belum juga dateng."

"Jadi, Cassie masih kekurangan darah?"

Abby cuma mengangguk.

God, what should I do?

Gue langsung lemas mendengarnya. Gue pun duduk di kursi tunggu yang ada disana sambil mutar otak dan nyari cara agar ada orang yang mau donorin darahnya buat Cassie.

Drrtt... Drrttt... Drrrttt...

Hp gue bergetar nandain bahwa ada panggilan masuk. Saat gue buka, ternyata Brittany yang nelepon gue.

"Halo?"

"Dylaan, lo kemana aja sih dari kemarin gue hubungin gak ada balesan?"

"Sorry. Gue agak sibuk akhir-akhir ini jadi jarang megang hp."

"Ohh gitu.. Lo sekarang dimana? Ketemuan yuk!"

"Rumah sakit"

"Hah? Lo sakit?"

"Nggak, bukan gue yang sakit. Kalo lo mau ketemu sama gue ke sini aja, nanti gue sms alamatnya"

"Okay.."

Gue mematikan sambungan teleponnya lalu mengetikkan alamat rumah sakit ini ke Brittany. Sambil nunggu, gue berjalan ke arah pintu kamar rawat Cassie.

Di sana, gadis cantik yang biasanya ceria, bawel, dan selalu ngegangguin gue, tengah berbaring lemah di atas ranjang. Serta tubuhnya dipenuhi oleh benda-benda kedokteran yang membantunya supaya tetap hidup.

Gak lama Brittany bilang dia udah sampai di depan rumah sakit. Gue pun segera kesana buat menemuinya.

.
.
.

"Hai, Dyl" sapanya sambil lambaiin tangan ke gue.

"Hai"

Kemudian gue ngajak dia ke kantin rumah sakit, sekalian ngobrol-ngobrol.

"Well, kenapa lo nyuruh gue kesini? Ada apa sih sebenernya?" Brittany mengaduk-aduk lemon tea yang ia pesan pakai sedotan.

"Cassie kecelakaan."

"What? Lo serius?"

Gue cuma ngangguk pelan.

"Terus keadaannya sekarang gimana?"

"Buruk. Dia koma, terus juga masih kekurangan darah."

Brittany terdiam setelah mendengar perkataan gue barusan.

"Golongan darahnya apa?"

"AB"

"Anterin gue ke sana sekarang"

Brittany narik tangan gue, membawa gue masuk ke dalam rumah sakit lagi, minta tunjukin jalan ke arah kamar rawat Cassie.

Setelah sampai, dia menatap tubuh Cassie dari kaca pintu. Karena kami belum diperbolehkan masuk ke dalam.

"Kenapa lo gak bilang dari kemaren, Dyl?"

"Maksud lo?"

"Golongan darah gue juga AB, dan gue bersedia donorin darah gue buat Cassie"

SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang