Biasanya orang hanya akan melihat wajah datar milik aktor muda itu, dan jika beruntung biasanya orang-orang hanya bisa melihat senyuman simetris milik aktor bermarga Oh itu. Tapi hari ini, wajah datar itu di hiasi senyuman mempesona, dan bibir yang biasanya kaku itu sudah tahu bagaimana caranya tersenyum. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajah tampannya. Dia terlihat lebih ramah dan mempesona. Teman-teman agensinya yang tidak pernah dia sapa kini justru ia hampiri dan memberikan mereka senyuman langkahnya.
Lelaki itu seribu kali terlihat lebih tampan ketimbang berbulan-bulan yang lalu. Bulan di mana hanya ada wajah pucat dan kantung mata menyeramkannya. Seolah-olah angin musim semi sudah menerbangkan dan menghempaskan jauh raut datar dan menyeramkan di wajah tampannya.
Apakah liburan musim semi membuat mood aktor muda itu berubah drastis?
Itu adalah segelintir pemikiran rekan sesama artisnya. Hanya karena
senyumannya dan sikap ramahnya, para wanita semakin terjerat pada pesona dan karisma yang begitu melekat sempurna pada visualnya. Tidak ada yang tidak terpesona pada seorang laki-laki dewasa berusia di atas dua puluh lima tahun dan beranak satu itu.
Tapi jangan terlalu banyak berharap, kalian telanjang pasrah di hadapnnya pun lelaki itu tidak akan perduli, hatinya sudah terkunci pada satu sosok, hatinya sudah di ambil habis oleh wanita berparas luar biasa cantik namun kejam yang sedang ingin ia temui saat ini.
Sepanjang jalanan menyusuri pinggir pantai, senyum dan siulan kecil tidak lepas dari mulutnya. Ia sedang bahagia karena sebentar lagi ia akan menyeret sumber kebahagiaannya kembali pulang, pulang ke rumah mereka untuk melanjutkan kisah mereka yang sempat tertunda karena keegoisan masing-masing.
Dan ia semakin bahagia saat pintu kayu berwarna putih itu sudah terlihat di depan matanya. Senyumnya semakin merekah menandakan betapa bahagianya ia saat ini.
Karena sudah tidak sabar, tanpa mengetuk pintu, ia langsung memegang gagang pintu keemasan itu. Namun...,
Sepi...
Kamar bernuansa putih ini terlihat sangat sepi dan tidak ada siapa pun di sini.
Perlahan ia menuju ke kamar mandi, namun nihil, hanya ada bau khas Luhan dan bayangan adegan panas mereka kemarin sore yang ada di sini.
Sehun keluar, beranjak menuju balkon untuk menemukan hasil yang sama, nihil. Di balkon juga tidak ada apa pun dan siapa pun.
Senyum tampan masih terpatri di wajahnya yang perlahan kembali memucat, ia masuk kembali dan membuka lemari bercat putih itu dengan tangan bergetar, dan ia langsung merosot jatuh, senyumnya luntur berlari entah kemana. Tangannya terkepal erat menggenggam kekecewaan saat melihat lemari itu yang sudah kosong. Padahal ia ingat betul jika kemarin sore baju-baju Luhan masih tersusun rapi di sana.
Apa yang terjadi?
Apa luhannya meninggalkannya lagi?
Apa wanita itu pergi ke tempat yang lebih jauh untuk menghindarinya?
Apa wanita itu masih belum puas melihatnya hampir mati seperti ini?
Apa ia harus mati dulu untuk menyadarkan Luhan betapa ia mencintainya, dan tidak bisa bernafas dengan normal tanpa ada dia di sampingnya?
Untuk yang kesekian kalinya ia tersungkur jatuh ke lantai, membenturkan dahinya ke lantai kayu yang kemarin sore masih begitu hangat kini berubah jadi begitu dingin.
Tangan terkepalnya memukul dadanya erat dengan bibir tergigit kuat menahan liquidnya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Sehun terduduk dengan kedua lutut tertekuk rapat, matanya menatap ke sekeliling kamar dengan pandangan nanar. Padahal di sepanjang jalan ia sudah berharap jika luhannya akan menunggunya dan menyambutnya dengan kecupan manis dari bibir merekahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Million Reasons [END]
Fanfiction[Beberapa chapter 'Mature Content' are private] Si brengsek, bodoh dan tidak peka Sehun dan Si pendendam Luhan - Love story Three things to make a relationship long last are honesty, commitment, and understanding. - Luhan Three things which are pri...
![Million Reasons [END]](https://img.wattpad.com/cover/119170894-64-k157621.jpg)