Dua Puluh Empat

112 5 0
                                    

"Alamak!! KRIESHA, INI UDAH JAM SETENGAH SEMBILAN, ELU TELAT KE KAMPUS!!"

Teriakan tersebut, membuat kriesha langsung terbangun dan melihat jam. Benar saja, jam menunjukkan pukul setengah sembilan dan dia ada kelas jam sembilan. Tanpa basa basi, ia lari ke kamar mandi dan memilih baju yang paling atas. Ia meraih roti, dan meminum susu dengan satu kali teguk. Kemudian, sambil mencari tukang ojek, ia memakan rotinya. Mau tidak mau, ia harus mencari tukang ojek.

Yang membuat keadaan makin buruk adalah, hari sudah mulai gelap dan sudah mulai gerimis. Kriesha tidak tqhu, apakah ia akan sampai di kampus dengan tepat waktu. Atau, dia akan terkena hukuman.

Naas, setengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Mau tidak mau, kriesha harus menepi bersama tukang ojek dan juga beberapa Pengendara motor lainnya. Malah, sedari tadi tidak ada bus yang lewat. Ah! Dia pasti akan terlambat hari ini. Setelah dua puluh menit, hujan sudah mulai merada dan semua orang hendak berpergian. Namun, mendadak kriesha terdiam, dan menoleh kearah kiri.

"Bapak ibu! Jangan bergerak sekarang! Saya mohon.. Tunggu disini tiga menit saja. Tolong dengarkan kata saya!"

Semua orang heran, mendengar ucapan kriesha tersebut. Tentu saja. Nafas kriesha, beracu dengan cepat saat ini. Ia harus membuat, semua orang tidak bergerak sedikitpun. Untungnya, mereka semua yang sudah di motor, mengikuti ucaoan kriesha itu walaupun bertanya tanya mengapa.

"Kenapa toh dek?"

"Sebentar lagi, akan ada kecelakaan"

Brakkkkkk....

Dan, benar saja. Ada tabrakan, di perempatan lampu merah yang terletak seratus meter didepan mereka. Semua yang ada didsana, menjadi saksi tabrakan tersebut. Kriesha memejamkan mata, setelah melihat korban terpental dan tubuhnya menabrak sebuah plang dilarang berhenti dan membuat plangtersebut bengkok.

Semua langsung menoleh kepada kriesha, dan ia hanya bisa menunduk. Pasti, orang orang disana menganggap kreisha menyermkan.

Tukang ojek itu, diminta oleh kriesha untuk ngebut. Ia sudah telat hampir tiga puluh menit, ini sudah jam sembilan lewat lima belas menit. Dan sampai disekolah, kriesha turun dan hendak mengambil dompetnya.

"Yah pak, bapak namanya siapa? Nanti saya titipin ke satpam komplek ya pak. Saya gak bawa dompet" ucap kriesha, dengan wajah memelas.

"Gak usah bayar, gak papa. Bapak udah nyaksiin kamu nyelamatin orang orang, dua kali. Terus ya, nyelamatin orang dengan kemampuan kamu" ucap bapk itu, kriesha pun melihat wajah bapak tersebut.

Bapak tua itu, adalah orang yang sama, yang mengantar kriesha sewaktu hujan dan ia meramalkan ada yang tabrakan dulu, waktu dia masih SMA. Dan kriesha juga terkejut, mengapa bapak tersebut lagi yang mengantarnya.

"Makasih pak. Saya akan terus bantu orang. Maaf ya pak, saya sudah terlambat" ucap kriesha, dan tersenyum kepada bapak tersebut. Kemudian, ia berlari dan dengan wajah memelas meminta gerbang untuk dibukakan.

"pak pak pak, bukain dong pak. Saya tadi, habis keujanan. Sedih kan pak" ucap kriesha, degan wajah super memelas.

"Gak ada! Pasti kamu bangun kesiangan kan?" Tanya bapak satpam, kriesha pun kalah telak pada saat ini.

"Saya juga telat" ucap seseorang, dan kriesha menoleh ke belakang. Dan ia pun terkejut, ketika yang terlambar jugw adalah max.

"Habis pacaran ya kalian, makanya telat bareng?!" Ucap pak satpam

"Apaan! Enggak! Udah pak, bukain. Saya beliin rokok deh" ucap kreisha, dengan tampang yang ia buat buat agar memelas.

"Sekarang, kalian berdua kalau mau masuk, harus bantuin saya pindahin pupuk ke taman belakang dulu. Gimana?" Tanya bapak itu

If You Love Someone, You Have To Be Brave To Say (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang