2. Berbinar

247K 13.1K 195
                                        

Sepertinya Senin pagi cerah ini akan berubah menjadi mendung karena Melannie sudah memperlihatkan senyum mautnya ketika Tarissa baru turun dari tangga.

"Ma Tarissa ke butik dulu ya" pamit Tarissa kepada Melannie yang masih mengoleskan selai kacang ke atas roti Abraham.

"Nggak sarapan lagi kamu?" Tanya Melannie membuat Tarissa refleks menggeleng. "Astagah Tarissa pantas saja kamu tidak laku-laku kalau badanmu saja tak enak dipandang" Melannie berjalan mendekati Tarissa lalu menilai penampilan Tarissa dari atas sampai bawah.

"Lihat penampilanmu apa yang akan kamu banggakan dengan tubuh seperti triplex ini?"

"Sudahlah Mel, Kasian anak kita slalu kau nistakan" Abraham berucap. Tarissa tersenyum seneng akhirnya ada orang yang membelanya.

"Pa aku mencintaimu" Ucap Tarissa dengan tangannya yang memberikan ciuman dari jauh.

"Ya sudah sana kerja, Jangan lupa menantu untuk mama ya"

"Ma..." Elah Tarissa lelah.

"Cucunya juga jangan lupa!"

"Ma.."

"Tangan Mama sudah gatal ingin menggendong cucu darimu, Azka saja sudah jalan yang kedua padahal dia adikmu" Melannie mengingatkan Tarissa kepada adiknya Azka yang memang melangkahi Melannie sebelumnya, Tarissa tak ingin dia dilangkahi tapi ketika dia ingat bahwa calon saja dia tak punya Tarissa mengalah.

"Udah ya Tarissa kebutik dulu!" Tarissa melangkahkan kaki keluar rumah Tarissa langsung menghidupkan mesin mobilnya dan langsung segera pergi.

🌊🌊🌊

Tarissa sudah sampai dibangunan dengan nuansa pink putih itu, Ya itu butik yang dimiliki oleh Tarissa baju yang Tarissa jual adalah baju anak-anak yang di disign nya sendiri beserta baju perempuan.

Setelah meparkirkan mobilnya Tarissa segera masuk, Para pegawai langsung menunduk hormat kepada Tarissa padahal sering sekali Tarissa mengingatkan mereka jangan seperti itu lagi bagi Tarissa diperlakukan seperti itu membuat dia berbeda dari yang lain.

"Hentikan, sudah aku beri tahu jangan seperti itu lagi." Ucap Tarissa tak mendapatkan respon apa-apa sedangkan pegawai yang sudah Tarissa tegur berkeringat dingin "Sudah kubilang kalian bisa menyapaku saja, aku tak suka diperlakukan seperti itu"

"Lanjutkan pekerjaan kalian" Ucap Tarissa mempersilakan, Ketika semua pegawai kembali keperkerjaann masing-masing Tarissa menghampiri tempat kasir.

"Bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Tarissa kesalah satu pegawai yang menjaga kasir butiknya.

"Sangat baik mbak, itu semua berkat mbak Aku tak tahu lagi cara untuk membalas budimu!" Jawab Emma, Pegawai yang Tarissa tanyakan.

"Syukurlah aku senang mendengarnya, Aku melakukannya dengan ikhlas Emma aku tak mengharapkan balasanmu" Ucap Tarissa tulus.

"Mbak!" Ucap seseorang sambil menyentuh pundak Tarissa ringan. Tarissa refleks menoleh mendengar teguran itu.

"Ada apa Charry?" Tanya Tarissa, Charry adalah salah satu pegawai yang ada dibutik ini Charry bertugas untuk melayani pembeli disini.

"Maafkan aku mba aku salah," Ucap Charry dengan bersalah

"Kamu melakukan apa Charry?"

"Diluar sana ada Nyonya Terre yang ingin membeli baju cucunya dia memilih baju yang sudah dipesan nyonya Edgar, aku lupa untuk menyimpan pesanan nyonya Edgar dan sekarang cucu nonya Terre sedang merengek" Ucap Charly bersalah gadis itu terlihat takut untuk menatap mata Tarissa.

"Baiklah aku akan kesana, lain kali jangan lakukan kesalahan lagi Charry" Tegur Tarissa halus

"Baik mbak Tarissa" Setelah mendapatkan balasan dari Charry Tarissa menghampiri salah satu pengunjungnya yang sedang menggendong Cucunya didekapannya. Sayangnya Tarissa tak bisa melihat anak lucu itu karena wajahnya bersembunyi di dada Terre, Tapi Tarissa yakin kalau anak yang sedang berada didekapan Terre adalah anak sangat imut.

Tuhan, apa benar wanita cantik ini sudah memiliki cucu. Wajahnya sangat-sangat tak terlihat seperti Nenek - nenek jika dibandingkan dengan wajah Tarissa, Tarissa bersumpah wajahnya jauh dibandingkan wanita didepannya ini.

"Ada yang bisa saya bantu nyonya Terre?" Ucap Tarissa ia mengingat bahwa nama wanita didepannya ini Terre, Tarissa baru tahu kalau dia mempunyai pelanggan baru tetap bernama Terre apakah dia jarang mengunjungi butiknya menyebabkan dia tidak terlalu tahu tentang pelanggan tetap yang baru.

"Apa kamu yang bernama Tarissa pemilik butik ini?" Tanya wanita itu membuat Tarissa mengangguk.

"Iya Nyonya apa yang bisa saya bantu?" Ucap Tarissa sopan.

"Jangan panggil aku nyonya panggil saja aku tante, kamu sangat sangat lebih cantik dibandingkan fotomu" Terre menunjuk salah satu foto yang bersegera di dinding butik.

"Aku merasa tersanjung tan, Hm maafkan kami yang kurang profesional kami akan membuatkan baju seperti yang disana tapi nyo- maksutnya tante Terre harus menunggu dua minggu apa tidak apa-apa"

"Tidak usah Tar, baik cucu tante yang memilihnya sendiri." Jawab Terre

"Apa dia sedang tertidur"

"Ya,Sepertinya dia kecapean merengek haha, Kalo begitu tante akan kembali ketika cucu tante sudah bangun"

"Baiklah tante Tarissa tunggu"

Sudah dua jam Tarissa berada di butiknya. Tarissa tidak bosan disini malahan dia sangat senang, disini Tarissa mendapatkan banyak teman untuk mengobrol seperti dengan pegawainya dan pelanggannya.

Pintu butik terbuka menampilkan tante Terre dan seorang anak perempuan yang ada di gandengannya dan oh...

"TANTE LICA" Ucap Anak itu sambil berlari menghampiri Tarissa yang berdiri menyambut mereka.

"Queensyah" Kata Tarissa dia tak menyangka kalo cucu tante Terre adalah Queensyah anak yang ditemukannya di taman komplek.

"Ante napa dicini?" Tanya Queensyah yang sudah berada dipelukan Tarissa, Anak itu memeluk Tarissa sangat erat seperti tak ingin Tarissa jauh dari jangkauannya.

"Tante yang punya butik ini"

"Wah Queensyah bagaimana kamu tahu dengan tante Tarissa?" Tanya
tante Terre sambil tersenyum menatap Queensyah.

"Oma Ante Lica yang temuin Syah" Ucap Queensyah membuat pandangan Terre berubah berbinar. Dengan senyuman misterius diwajah cantiknya, Senyuman Terre itu tak luput dari pandangan Tarissa, Tarissa tak tahu apa maksut senyuman itu dia hanya mengerutkan dahinya saja.

"Ayo Queensyah sama oma aja kasian Tante Tarissanya, Yuk sayang kita cari baju" Bujuk Terre sambil menoel bahu Queensyah agar berpindah ke Terre tapi Terre malah semakin menenggelamkan wajahnya ke dada Tarissa.

"Ndak mau Syah mau cama Ante Lica" Ucap Queensyah sambil menggelengkan kepalanya didekapannya Tarissa, Tarissa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah imut Queensyah.

"Iya nggak papa Te, Tarissa juga seneng bisa ketemu sama Queensyah lagu! " Tarissa mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.

"Maafkan Queensyah bila dia merepotkanmu dia memang haus kasih sayang seorang ibu" Terre berkata lirih sambil menatap Queensyah.

"Maksut Tante?"

"Ibu Queensyah udah nggak ada lagi, Tante nggak tau kenapa mudah banget ceritain ini kekamu" Tatapan Terre Menyedu.

Tarissa yang melihat itupun terbawa suasana. Tanpa Tarissa ketahui anak yang sedang berada didekapannya ini sudah tak memiliki ibu. Pantas saja kemarin Queensyah rak mau dia tinggalkan, Tarissa tak mengetahui apa yang dirasakan anak sekecil Queensyah tak memiliki ibu lagi.

Tak ingin mengorek luka Terre, Tarissa hanya menatap tante Terre dengan teduh ingin berusaha memberi kekuatan kepada wanita paruh baya yang ada didepannya itu.

🌊🌊🌊

TBC

My Hot DaddyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang