"Dari sini ke Yogyakarta berapa jam tadi?" tanya Brie yang tengah keluar dari hotel, tepat satu hari setelah dirinya meninggalkan rumah sakit.
Mengenakan kemeja pas badan yang lengannya dilipat sampai siku, sepatu boot dengan tinggi tak sampai betis, serta celana jeans, Brie menerjang udara fajar yang dingin. Mengumpat dalam hati karena masih mengantuk, ia menjejeri Revan yang membawa koper dan tasnya, berjalan menuju tempat parkir hotel.
"Kurang lebih sembilan jam," jawab Revan datar.
"Sembilan jam!? Kenapa kamu bersikeras pakai kendaraan pribadi? Bukannya lebih enak pakai kendaraan umum?"
"Biar kita bisa leluasa ke sana kemari di kota tujuan."
Brie menghela napas, tak percaya alasan bodoh itu bisa terlontar dari mulut Revan. "Kita kan bisa menyewa mobil di sana..."
"Aku nggak suka pakai kendaraan umum, oke?" potong Revan. Nada suaranya agak meninggi.
"Kenapa? Kamu takut keramaian?" Begitu sampai di dekat mobil sedan sport hitam milik Revan, Brie menyilangkan kedua tangannya penasaran.
Revan tak menjawab dan mulai memindahkan barang-barang Brie ke bagasi belakang. Brie menggigit bibir, sadar kalau dirinya sedang didiamkan. Meski sebal, gadis itu memilih untuk membiarkannya saja.
"Yah, paling tidak kalau mobil ini kenapa-napa, kita tidak akan punya urusan panjang," gumam Brie, duduk di kursi depan mobil.
"Kamu yakin udah bener-bener baikan?" tanya Revan, mengulangi pertanyaannya di hotel tadi.
"Tenang saja," jawab Brie. Nyeri di perutnya memang sudah memudar, tapi itu karena beberapa butir painkiller yang dicurinya dari apotik rumah sakit. Karena tak mau membuang lebih banyak waktu, ia memutuskan keluar sebelum waktu yang ditetapkan dokter. Ia harus segera mendapat jawaban, sebelum keluarga anak-anak itu dibantai Sekar dan tak bisa mengatakan apa-apa.
"Nih, makan dulu. Buat kamu semua." Revan menyerahkan kantong plastik kecil kepada Brie.
"Kamu?" tanya Brie, mengamati beberapa roti isi dengan label minimarket dan gelas kertas berisi kopi hangat di dalam kantong itu.
"Aku udah makan." Revan mulai menghidupkan mobilnya, mengendarainya keluar dari rumah sakit.
"Hei, apa tidurmu cukup?" tanya Brie, mulai menggigit roti berisi krim keju. Ia memergoki lingkaran kehitaman di bawah mata rekan seperjalanannya itu.
"Cukup."
Sedikit menyipitkan mata karena rasa krim yang menurutnya aneh, Brie tetap menjejalkan roti itu ke mulutnya. Ia diajari Steph untuk tak memilih-milih makanan. "Kalau kamu capek, aku bisa menggantikan kamu..."
"Aku sedang konsentrasi nyetir, jadi nggak bisa diajak ngobrol. Ngerti?" sela Revan lagi.
Brie mengerutkan kening. "Oke."
Lagi-lagi Brie berusaha memaklumi sikap kliennya itu. Barangkali Revan masih frustasi dan berduka. Brie merasa tak punya hak untuk mengintervensi.
Akhirnya, perjalanan mereka dilalui dalam sunyi. Setelah makan, Brie membuka ponselnya untuk membaca berita terbaru. Kebanyakan laman situs membahas kasus pembantaian di pesta pernikahan Revan.
Lebih dari satu jam melakukan hal itu, Brie mulai bosan. Ia tak punya media sosial. Kontaknya juga hanya berisi klien dan orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan. Tak ada yang bisa diajak chat ngalor-ngidul. Mengobrol dengan Steph? Mana mau perempuan itu berbicara hal yang tidak penting.
"Radionya boleh aku hidupkan?" tanya Brie akhirnya.
Revan hanya mengangguk. Brie menghidupkan radio dan memilih chanel pertama yang ia dapatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Golden Enigma
FantasiNama wanita muda itu adalah Brie. Sebagai pembunuh bayaran, ia sama sekali tak menghargai nyawa manusia. Demi memuluskan pekerjaan gelapnya itu, ia rela menyamar, menelusup ke tempat berbahaya, sampai memanfaatkan kemolekan fisiknya untuk menipu kor...
