1.20

3K 584 74
                                        

Setelah akhir pekan yang panjang, Hyungseob kembali bekerja hari ini. Di meja lain tak jauh dari mejanya, Seonho terlihat lebih ceria. Berdasarkan kabar yang sekilas ia dengar, lelaki itu sudah mencuri hati Guanlin dan meresmikan hubungan mereka. Syukurlah.




Jangan pikir Hyungseob tidak berbunga hatinya. Kemarin, Woojin serius dengan perkataannya, ingin menikahi Hyungseob. Ia selalu membayangkan dapat menikah dengan Woojin, melihat matanya setiap terbangun dari tidur, memasakkan sarapan untuknya setiap pagi, dan membenarkan dasinya setiap hendak pergi bekerja. Dia bahkan tidak dapat berhenti tersenyum membayangkannya, sampai seseorang datang memanggilnya.



"Hyungseob-ah, aku ingin bicara."



Hyungseob mengangguk pelan, kemudian berjalan keluar. Saat langkahnya melewati meja Seonho, ia berhenti, Seonho menahan tangannya.



"Hyung, jangan," Seonho menggeleng sembari berbisik, "aku takut kau terkena masalah."



Hyungseob tersenyum, "tidak, tenang saja."



Dengan lembut, Hyungseob melepas genggaman tangan Seonho dan melanjutkan jalannya. Sampai di depan lelaki yang memanggilnya, ia mengangguk kembali, mengisyaratkan untuk ikut.



"Ayo, Jihoon-ah."



{···}



Woojin masih memandangi surat di tangannya. Sudah tiga hari sejak ia mendapatkan surat itu dari Eunki. Namun, sampai saat ini ia masih ragu untuk memutuskan. Ada alasan utama yang menjadi pertimbangannya, Hyungseob.





"Bagaimana, Woojin-ssi?"





Setelah beberapa menit diacuhkan, Eunki kembali mencari kejelasan. Woojin di depannya pun mulai mengangkat kepalanya, tersenyum meski sebenarnya berat.





"Aku sulit untuk memutuskan, Eunki-ssi," Woojin memijat pelipisnya, "kau tahu, bukan, jika aku menerimanya, itu sama saja memberi hukuman bagi kekasihku."





"Aku tahu, Woojin-ssi. Itu pasti berat, untukmu dan untuk kekasihmu. Tapi, kau memang benar-benar harus segera memilih," Eunki berkata final, "pekerjaan atau kekasihmu?"





{···}





Hyungseob dan Jihoon sudah sampai di kantin, memesan dua gelas strawberry milkshake. Setelah mencobanya seteguk, Jihoon memulai pembicaraan.



"Aku ingin memberi tahumu dua hal."



Hyungseob merasa ini akan semakin berat. Apa yang ada di pikirannya adalah Jihoon akan marah besar hari ini. Ia sudah siap, toh, memang kesalahannya untuk berlagak bukan siapa-siapa ketika Jihoon bercerita padanya soal Woojin.



"Ya, silakan."



"Kau ingin aku memberi tahu kabar baik terlebih dulu atau kabar buruk terlebih dulu?"



Hyungseob berpikir kembali. Memang apa kabar baik yang Jihoon akan sampaikan?



"Baiklah, berilah kabar baik terlebih dulu."



Boss? +jinseobTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang