DH 16 - Di Bawah Langit Malam

25 3 0
                                        

"Sometimes silence says the words we're too afraid to speak."

***

[Scene: Area Perkemahan – Malam Hari]

Api unggun masih menyala terang, lidah apinya menari-nari diterpa angin malam. Suasana penuh tawa dan obrolan mulai mereda seiring peserta yang kembali ke tenda masing-masing.

Di depan salah satu tenda, Raisa dan Naomi duduk bersisian, memeluk lutut sambil menikmati kehangatan api.

"Capek juga, ya," ucap Naomi sambil menguap kecil.
Raisa tersenyum tipis. "Iya. Tapi seru juga... udah lama nggak ngerasa kayak gini."

Naomi melirik sekilas. "Tapi lo kelihatan beda, Sa. Kayak lagi mikirin sesuatu."
Raisa menatap api yang menyala tenang. "Cuma lagi... ngerasa aneh aja. Semua orang bisa ketawa lepas, tapi hati gue kayak nggak nyatu di sini."

Naomi menepuk bahunya pelan. "Mungkin lo belum nemu tenangnya lagi. Tapi nggak apa-apa, Sa, nggak harus selalu kuat kok."
Raisa tersenyum, menatap temannya lembut. "Lo tuh selalu tau cara ngomong yang bikin gue tenang."
Naomi tertawa kecil. "Itu karena gue bestie lo, jadi udah hafal banget."

Beberapa menit kemudian, Naomi berdiri dan meregangkan badan. "Udah malem, gue ke tenda duluan, ya. Jangan kelamaan di luar, nanti masuk angin."
"Iya, nyusul bentar lagi," sahut Raisa pelan.

Raisa masih duduk di tempatnya, menatap nyala api yang terus berkobar. Cahaya jingga itu memantul di matanya yang tampak lelah tapi damai.

Langkah kaki terdengar mendekat. Fahri muncul dari arah belakang sambil membawa termos.
"Belum tidur?" suaranya pelan.
Raisa menoleh sebentar. "Belum. Nyaman aja di sini."

Fahri ikut duduk di sampingnya, menatap api yang menyala hangat. "Enak ya liat api gini. Tenang tapi hidup."
Raisa tersenyum samar. "Iya. Rasanya kayak semua pikiran berhenti sesaat."

Fahri menatapnya sekilas. "Tapi dari tadi lo keliatan diem. Ada apa?"
Raisa menunduk sedikit, mengusap telapak tangan. "Nggak apa-apa, cuma... kadang gue ngerasa bingung sendiri. Pengen tenang, tapi malah makin ribet di kepala."

Fahri mengangguk paham. "Kadang yang lo butuhin bukan jawaban, tapi waktu. Lo nggak harus maksa semuanya beres malam ini."
Raisa menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Makasih, Ri. Ternyata lo bisa serius juga ya."

Fahri terkekeh pelan, menatap api unggun yang memantulkan cahaya di wajahnya.
"Bisa lah kalau situasinya pas," katanya sambil nyengir. "Tapi jangan disebar-sebar, nanti reputasi gue sebagai orang paling santai diubah jadi motivator."

Raisa tertawa kecil, suaranya tenggelam di antara bunyi kayu terbakar. "Tenang aja, rahasia aman di gue."

Keduanya terdiam beberapa saat, menikmati udara malam yang sejuk. Angin meniup lembut rambut Raisa yang mulai berantakan. Fahri menoleh sekilas, ekspresinya lembut tapi tak terlalu kentara.
"Yang penting, lo jangan nyalahin diri sendiri terus, Sa. Kadang kita cuma butuh berhenti bentar, liat ke sekeliling, baru sadar masih banyak yang peduli."

Raisa menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Mungkin lo bener, Ri... gue cuma belum siap aja buat nerima semuanya."
"Dan itu nggak apa-apa," jawab Fahri singkat, tapi tulus.

Beberapa detik kemudian, angin berembus sedikit kencang. Raisa merapatkan jaketnya, lalu berdiri perlahan.
"Gue balik ke tenda dulu ya, kedinginan."
"Yoi, istirahat. Besok pasti capek kalau nggak tidur cukup," balas Fahri sambil tersenyum.

Raisa melangkah menjauh, cahaya api unggun perlahan memantul di punggungnya.
Fahri menatap ke arah itu sebentar, lalu menghela napas pendek. "Cewek itu kuat banget," gumamnya lirih, sebelum akhirnya kembali menatap nyala api yang masih hangat menemani malam.

Dari kejauhan, Reyhan memperhatikan semua itu. Tatapannya kosong, tapi sorot matanya jelas menyiratkan sesuatu — kecewa, mungkin juga lelah. Melihat Raisa bicara dengan Fahri malam-malam begini, dengan ekspresi lembut seperti itu, membuat dadanya terasa sesak. Tanpa berkata apa-apa, Reyhan akhirnya berbalik, berjalan pelan menuju tenda. Ia butuh menjauh, sebelum rasa itu kembali menyakitkan.

Tak lama kemudian, Tirta dan Nichole datang menghampiri Fahri. Keduanya membawa dua cangkir cokelat hangat, aroma manisnya bercampur dengan asap api unggun.

"Lo masih di sini aja, Ri?" tanya Tirta sambil duduk di sebelahnya.
Fahri menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. "Iya. Abis ngobrol bentar sama Raisa tadi."

Nichole yang duduk di seberang mereka langsung mengangkat alis. "Ngobrol sama Raisa? Tentang apa tuh?"
"Gak banyak, cuma dia lagi banyak pikiran aja. Gue cuma dengerin," jawab Fahri santai, mengaduk minumannya.

Nichole menatap api unggun, ekspresinya berubah sedikit serius. "Kadang gue kasian sama Raisa. Dia keliatan kuat, tapi sebenernya banyak hal yang dia simpen sendiri."
Tirta mengangguk pelan. "Iya, dia tuh tipe yang mikirin orang lain dulu baru dirinya."

Fahri menatap bara api, seolah memikirkan sesuatu. "Iya... gue juga ngerasa gitu. Tapi kayaknya dia mulai belajar buat gak semuanya ditanggung sendirian."

Nichole menghela napas kecil, lalu tersenyum samar. "Baguslah kalau gitu. Tapi entah kenapa, setiap kali ngelihat dia, gue ngerasa dia lagi berjuang buat ngelupain sesuatu."

Fahri menatapnya sekilas, namun tidak menjawab. Hanya suara api yang terdengar, diselingi desir angin malam yang menambah hening di antara mereka.

Fahri yang dari tadi diam, akhirnya buka suara. Ia menatap api unggun tanpa ekspresi. "Gue rasa... lambat laun dia bakal inget deh, Ta."

Tirta menatap Fahri dengan alis sedikit terangkat. "Inget apa maksud lo?"
Fahri menatap balik, kali ini dengan pandangan yang lebih serius. "Lo tahu sendiri. Kadang hal-hal yang lo pikir udah hilang, cuma lagi nunggu waktu buat muncul lagi. Dan kalau waktunya datang, semua yang pernah ada bakal kebuka lagi—mau lo siap atau nggak."

Nichole terdiam. Tirta menelan ludah pelan, pandangannya kembali ke api unggun yang berkerlip lembut. Ada sesuatu di matanya — campuran antara takut dan rindu.

"Kalau itu bener," gumam Tirta pelan, "gue cuma berharap pas dia inget nanti, gue masih jadi alasan dia mau senyum."

Suasana jadi hening lagi. Angin malam berembus, membuat daun-daun bergemerisik lembut, sementara api unggun terus menyala hangat — seolah tahu ada masa lalu yang perlahan mulai bangkit di antara mereka.










HAII TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA INI
JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT
SEE YOU NEXT CHAPTER YAAA!<3

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang