Kalau Nick tidak datang semalam, mereka bisa memahaminya karena mereka tahu Nick sakit. Tapi ketika Tiffany juga tidak datang di hari yang sama, mereka mengendus bau-bau mencurigakan.
"Tiffany! Katanya tangan lo sakit ya?" Jenny menampakkan raut wajah khawatir sekaligus penasaran.
"I-iya," jawabnya sedikit terbata. Nick sudah memberitahu alasan ketidakhadirannya pada manager hotel dan tentunya seluruh chef dapur mengetahuinya. Dia segera mengalihkan perhatian Jenny pada tangannya dengan mengganti topik pembicaraan tentang bagaimana hubungan Jenny dengan pacarnya. Tentu saja Jenny dengan senang hati mencurahkan semua isi hatinya yang sedang kasmaran itu.
Temannya yang berdatangan juga menanyakan hal yang sama. Tiffany menghela napas dengan susah payah, berdoa agar kebohongan tidak terlihat jelas di wajahnya. Tak lama, Nick masuk dan dia menghindari tatapan pria itu. Mereka sudah sepakat bahwa hubungan mereka tidak boleh sampai ketahuan oleh rekan mereka. Lebih tepatnya, Tiffany sendiri yang memaksa Nick supaya tidak mengekspos hubungan mereka dan Nick mau tak mau menyetujuinya karena dia juga tidak ingin mempertaruhkan karir Tiffany yang bisa saja hancur. Meski tidak ada peraturan bahwa sesama karyawan tidak boleh pacaran tapi mereka bisa saja dianggap mengganggu kenyamanan dapur.
**
Tiffany menghembuskan napas lega karena berhasil melewati hari ini. Selama di dapur, dia tahu bahwa Nick terus mengamatinya. Dia berusaha sekuat mungkin agar tidak membalas pandangannya kecuali saat mengantarkan makanan untuk Nick.
Dia baru saja keluar dari ruang ganti dan terkesiap saat Nick berdiri di depan pintu. "Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Menunggumu."
Kedua alis Tiffany menyatu. "Buat apa?"
"Tentu saja mengantarmu pulang."
"Tidak per-" Tidak sempat dia menolak, sebuah tangan membungkam mulutnya.
"Jangan menolakku Tiffany atau aku akan menculikmu lagi." Sebuah senyum terbit di wajah Nick. Masih ingat kan yang kubilang, kalau senyum malaikat itu lebih berbahaya daripada senyum iblis.
Tiffany pasrah dan mengikutinya dari belakang. Dia mengambil jarak sejauh mungkin dari Nick. Sampai di lift, dia baru teringat bahwa dia tidak bisa langsung pulang. "Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini aku mau cari kado buat Ella."
"Ella ulang tahun? Kapan?"
"Dua hari lagi."
"Kamu mau beliin dia apa?"
Sudut bibir Tiffany refleks terangkat. Tidak sulit untuk mencari kado buat Ella. "Seri komik Doraemon terbaru dan cerita bergambar."
Nick tergelak karena yang dia ketahui biasanya anak kecil lebih suka dibeliin mainan atau boneka. "Emangnya Ella gak bosan baca buku terus?"
Bibir Tiffany semakin melengkung ke atas."Justru Ella sendiri yang memintanya. Katanya kelak dia ingin menjadi penulis cerita anak."
Merasa gemas dengan senyum Tiffany, Nick merangkulnya lalu mengecup puncak kepalanya. "Sepertinya hobinya menurun dari kakaknya."
Detik selanjutnya, lift terbuka dan Tiffany buru-buru melepaskan diri dari Nick.
**
"Apa yang Ella suka selain Doraemon?" tanya Nick yang masih fokus menyetir.
"Em..." Tiffany mencoba mengingat. "Ella pernah bilang kalau dia suka melihat orang bermain piano."
"Kalau tidak salah ada sebuah taman bermain yang tak jauh dari rumahmu kan?"
Tiffany menatap bingung. "Iya, itu pasar malam. Emang kenapa?"
"Aku ingin buat surprise di sana."

KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Rainbow
General Fiction[ Ganti judul dari "She's not My Baby" ] Tiffany, The Caregiver. Tujuannya adalah dapat membantu orang sebanyak mungkin. Kelemahannya adalah keegoisan. Ketika dia terlalu mencintai seseorang, akankah dia memilih untuk egois atau melepaskan orang yan...