part 4

2.3K 176 5
                                    

Ketidakhadiran Gil a.k.a butcher chef membuat mereka cukup kewalahan karena sabtu ini cukup sibuk. Tiffany juga terkadang mengambil posisinya dan memasak daging. Setelah daging steak yang dipanggangnya sudah kecoklatan, dia mengangkatnya. Disusunnya di piring dengan potongan wortel dan mashed potato di sampingnya. Terakhir disiraminya sedikit saus di atas steaknya.

Di tengah-tengah chef yang berjalan kesana kemari mengambil bahan, Tiffany berjalan pelan ke arah Nick dan meletakkannya di meja.

“Dagingnya terlalu matang. Ulang!” pintah Nick setelah mencicipi potongan yang memang disiapkan untuknya.

“Yes, chef!” jawab Tiffany dan berjalan cepat ke tempatnya.

“Perhatikan suhu dan waktu masaknya!” teriak Nick dengan wajah yang mulai resah.

“Ini chef..,” ucap Jenny berlari pelan membawa sepiring daging domba padanya.

Done.” Nick segera menyodorkannya pada pramusaji dan dia kembali membaca pesanan. “Meja delapan belas, dua pasta. Meja sembilan belas, dua dessert.”

“Yes chef!” ucap Tiffany dan Jenny bersamaan.

Tiffany membalikkan dagingnya dengan cepat karena merasa diburu waktu. Dia kaget ketika Nick sudah berdiri di sampingnya dan meraih penyepit di tangannya. Kepalanya hanya menangguk patuh ketika Nick berkata, “Biar aku yang urus ini, kamu urus saja dessertmu.”

Puncaknya pada pukul setengah satu, pesanan bertambah setengah kali lipat. Bahkan salah satu dari mereka sudah memecahkan piring yang membuat lantai berserak dan menambah kerjaan.

Jarangnya pemesan dessert membuat Tiffany terpaksa membuah main course dan appetizer. Dia menyendok saus yang dibuatnya dan menyuapinya pada Nick berhubung Nick sedang memngelap pinggiran piring.

“Terlalu pedas!” Dahinya berkerut dan menoleh pada Tiffany yang masih di sampingnya.

Begitu tatapan Nick mengarah tepat ke arahnya, Tiffany merasa tak keruan.

“Apa kamu sudah mencicipinya sebelum kasih ke aku? Di daftar menu tidak tertulis esktra pedas jadi tidak perlu kamu beri cabai banyak-banyak. Ulang lagi.”

Dia sudah mencicipinya sendiri dan merasa tidak masalah dengan itu atau mungkin saja lidahnya yang terlalu kebal terhadap pedas. Dia menghela napas berat dan segera kembali ke tempatnya setelah berkata lirih, “Yes, chef.”

***

Ketika jam kerja mereka akan habis, salah satu koki pria berseru, “Sehabis pulang kita makan-makan yuk.”

“Ide bagus tuh sekalian untuk acara penyambutan teman baru.” sambung Jenny yang sudah bekerja di sana selama 2 tahun. Bukan hanya Tiffany yang menjadi pegawai baru, melainkan ada Fajar dan Aki.

“Aku setuju!” ujar sous chef yang terkenal dengan rambut pirangnya. Laki-laki itu menoleh ke arah Nick yang sibuk menaruh tomat cherry. “Chef, kau mau ikut?”

Nick mengalihkan pandangannya lalu senyum merekah di wajahnya, “Boleh.”

Meski Tiffany sibuk dengan hidangannya tapi telingannya menangkap ucapan Nick. Terlebih matanya menangkap senyum yang sedaritadi tidak tampak di wajah Nick.

“Tif, kamu ikut kan?” tanya Jenny yang kebetulan di sampingnya.
Tiffany berpikir sejenak karena biasa dia selalu makan dengan Ibunya dan Ella. Tidak enak juga menolak ajakkan mereka, jadi dia pun mengatakan.

“Iya.”

  **

Saat akan berangkat, Tiffany yang masih berdiri di depan mobil sous chef pun menggigit bibir bawahnya. Sudah tidak ada tempat untuknya karena satu kursi sudah termakan oleh Fajar yang memiliki bokong lebih dari 20 senti.

Chasing RainbowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang