Bahkan langit tidak bersahabat hari ini. Dia menjatuhkan rintiknya sebelum fajar tiba, begitu juga dengan Tiffany yang menangis tanpa bersuara. Dia menatap Ella yang sedang tertidur pulas. Rasa sesak kembali hadir di dadanya.
Mengetahui fakta bahwa Jay, ayah dari Ella sudah bunuh diri membuat Tiffany semakin khawatir bahwa Helen akan menerima Ella dalam hidupnya. Runtutan pertanyaan berputar di kepalanya. Dia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa yang akan kulakukan jika Ella tahu aku mengadopsinya?"
"Bagaimana jika Ella membenciku?"
"Tapi kalau suatu hari Helen menerima Ella, apa dia akan merasa kehilangan?"
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia tidak boleh membiarkan keegoisan mengambil alih dirinya. Dia sudah memutuskan untuk ikhlas jika suatu hari Helen mengambil Ella. Tapi ucapan Nick hari itu membuat dia kembali bimbang.
"Kalau aku jadi Ella, aku pasti akan memilih tempat di mana mereka tulus menerimaku. Kamu masih ingat kan, aku pernah bilang ... orang yang baru kamu kenal semalam bisa jadi orang yang lebih berharga dibanding orang yang sudah mengenalmu lama. Jadi, tidak peduli Ella punya hubungan darah dengan Helen, dia pantas untuk berada di tempat yang memang benar mencintainya."
Suara ketukan pintu menghentikan pikirannya. Dia bertanya-tanya siapa yang datang jam segini?
"Nick?" Melihat Nick yang sedikit basah kuyup membuat Tiffany segera menyuruhnya masuk. Dia segera mengambil handuk dan memberikan padanya. "Kenapa kamu bisa datang jam segini? Kamu gak pulang Nick?" tanya Tiffany seraya menggusap rambut Nick dengan handuk. "Jangan bilang kamu tidur di mobil."
Nick tersenyum samar lalu mengusap pipi lembap Tiffany dengan kedua tangan. "Aku membiarkanmu sendirian karena aku tahu kamu butuh waktu. Tapi aku gak bisa pulang sebelum memastikan kamu baik-baik saja."
Tiffany menyunggikan senyum lalu menatap sendu Nick. Dia meraih tangan Nick yang masih di pipinya dan berkata, "Aku gak tau apa yang harus kulakuin sekarang?"
"Kamu harus beri tahu Ella karena cepat atau lambat dia akan mengetahuinya. Kalau sampai dia tahu hal itu dari orang lain, maka itu akan membuat dia lebih sakit. Sisanya biarlah dia yang menentukan."
Tiffany meresapi perkataan Nick dan benar dia harus beritahu Ella meski Ella akan marah. Dia menatap Nick yang masih belum melepas pandangan darinya. Keheningan mereka digantikan oleh suara hujan. Kegundahan mereka digantikan oleh rasa yang muncul setiap kali pandangan mereka bertemu. Perasaan hangat dan melebur dalam jiwa.
**
Bisa terasa perbedaan hasil karya yang dibuat dari hati atau hanya sekedar kewajiban. Contohnya seperti sekarang ini, ketika mood dan perasaan Tiffany sedang kacau, maka cake buatannya terasa berbeda. Mungkin bagi pelanggan biasa, perubahan itu tidak terlalu signifikan. Tapi untuk seorang yang mengenal baik soal makanan, terlebih Nick sangat menyadari itu.
Maka itulah, ketika jam makan siang, Nick menyuruhnya untuk pulang. "Aku akan minta izin untukmu."
Tiffany terlihat tidak terima meski itu untuk kebaikannya. "Tidak, Nick. Aku tidak ingin terlihat tidak professional. Setelah ini, aku akan berusaha untuk buat cake yang lebih baik lagi."
Nick hanya mendesah pendek dan tidak ingin memaksa perempuan itu.
Tiba-tiba ponsel Tiffany bergetar. Dahinya berkerut saat mendapat panggilan telepon dari Ibu sebelah rumahnya. Dia buru-buru menjawab karena takut ada sesuatu yang terjadi dengan Ella. "Ya, Bu ... ada apa ya?"
"Ini ada orang yang mau ketemu kamu. Tapi karena kamu gak ada, dia bilang dia mau nungguin."
"Siapa ya, Bu?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Chasing Rainbow
General Fiction[ Ganti judul dari "She's not My Baby" ] Tiffany, The Caregiver. Tujuannya adalah dapat membantu orang sebanyak mungkin. Kelemahannya adalah keegoisan. Ketika dia terlalu mencintai seseorang, akankah dia memilih untuk egois atau melepaskan orang yan...