part 25

1.2K 109 10
                                    

Sudah seminggu berlalu sejak berakhirnya hubungan Nick dan Tiffany. Sejak saat itu juga, sikap Nick di dapur juga berubah. Dia lebih sensitif terhadap setiap masakan yang disajikan terlebih buatan Tiffany. Selalu saja ada yang dikritiknya hanya karena hal sepele.

"Beginikah hasil seorang chef yang dapat pujian dua kali dari orang terhomat?" Tatapan dingin dan suara rendah Nick membuat Tiffany tidak sanggup menatapnya balik. Ada jeda sebentar dan Nick menaikkan suaranya. "Ini keasinan! Ulang."

"Baik chef," jawab Tiffany segera balik ke tempatnya. Dia menggigit bibirnya menahan agar tidak ada air yang lolos dari matanya. Dia nelangsa bukan karena kesalahan yang dia lakukan. Tapi dadanya berkecamuk akibat Nick yang memperlakukannya dengan dingin. Dia kembali berdebat dengan hatinya. Bukankah ini yang dia inginkan? Membuat Nick menjauh darinya? Sekarang kalian sudah berpisah, lantas apa yang kamu harapkan lagi? Kenapa kamu harus merasa menderita ketika kamu sendiri yang memutus tali hubungan itu?

**

Tersisa Tiffany dan Jenny di ruang ganti. Jenny tahu betul bahwa ada yang berbeda dari sikap Tiffany belakangan ini dan yakin pasti ada kaitannya dengan perubahan sikap Nick yang membuat mereka semua kebingungan.

"Tif, kira-kira kenapa sih sikap chef jadi berubah gitu? Dia jadi gampang marah karena kesalahan kecil. Yang lebih ngeri lagi, dia marahnya dengan suara rendah," ujar Jenny memanyunkan bibirnya. "Udah dapur banyak api, ditambah sikap dingin chef, meledaklah kita."

Tiffany hanya meringis dan memilih tidak acuh. Dia mengambil ponselnya dan alisnya terangkat karena ada delapan panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Dia pun menelepon balik untuk mengetahui siapa peneleponnya. Sampai dering ketiga, baru terdengar suara di ujung sana.

Jenny bersiul sambil merapikan bajunya di dalam loker. Siulannya berhenti saat didengarnya ponsel terjatuh. Ketika dia menoleh, dia tersentak mendapati air mata yang mulai membanjiri pipi Tiffany.

**

Derap kaki Tiffany melangkah semakin cepat seiring dengan detak jantungnya. Bau obat-obatan yang dibencinya menusuk indra penciumannya. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang yang sesekali ditabraknya. Karena yang dia inginkan sekarang adalah segera sampai di tempat itu dan memastikan bahwa apa yang didengarnya adalah salah.

Ruang lima kosong empat, di depan pintu salah satu bilik rumah sakit, Tiffany menarik napasnya sesak dan segera membuka pintu tersebut. Tanpa bisa dicegah, air mata langsung turun ketika dilihatnya Yuni terbaring dengan mata tertutup.

Dia melangkah tidak percaya dan menangis dengan keras sambil meraung ibunya agar perempuan itu bangun. Ibunya dikabarkan pingsan dan meninggal akibat penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh varises di kakinya. Hal yang sering diabaikan yang ternyata bisa merenggut nyawa seseorang.

"Ibu kenapa ninggalin kami?" lirihnya dengan bahu bergetar. "Aku bahkan buka toko roti buat kita ... kenapa ibu tidak tunggu sebentar dulu?"

Seseorang menepuk punggung Tiffany dan itu adalah Jenny. Dia juga sedikit meneteskan air mata kemudian merengkuh Tiffany berharap perempuan itu bisa kuat menghadapi semua ini.

**

Usai pemakaman, Ella dititipkan di rumah Jenni untuk sementara karena Tiffany membutuhkan waktu untuk sendiri. Sudah seharian dia duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong. Sebuah kaset berputar di otaknya dari kepergian ayahnya sampai kepergian ibunya. Sekarang dia hanya punya Ella dan tidak menutup kemungkinan bahwa Ella juga akan direbut pergi darinya. Dia memegang dadanya sakit dan meremas ujung bajunya.

Tiba-tiba seseorang menghalangi penglihatannya dan dia bertanya dengan tatapan ksosong. "Kenapa kamu bisa masuk?"

Nick duduk di lantai, di sampingnya. Dia ikut merasa terluka melihat Tiffany yang seperti kehilangan nyawa. "Pintunya tidak dikunci," jawabnya begitu pelan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari arah jendela, Tiffany kembali bertanya, "Kenapa kamu datang?"

"Karena aku akan selalu datang disaat kamu butuh."

"Pergilah ... aku ingin sendiri," gumamnya lebih seperti bisikan. Dia merasa dipandangi terus dan akhirnya menoleh ke samping. "Kumohon tinggalkan aku."

Nick meraih kedua tangan Tiffany. "Satu tangan yang menggengam tangan kananmu sudah terlepas." Dia melepas tangan kanan Tiffany. "Tapi masih ada Ella yang menggengam tangan kirimu." Kemudian diraihnya kembali tangan kananya. "Dan aku akan selalu berusaha kembali menggenggammu meski kamu berusaha melepaskannya."

Tiffany menatap sepasang bola mata yang terlihat begitu sendu. Mengingat orang yang kini masih menggenggamnya juga dia tidak bisa bersamanya membuat air mata yang sudah berhenti kian mengalir kembali. "Pergilah."

Tanpa menjawab, Nick langsung menarik Tiffany dalam pelukannya. Erat dan hangat. "Aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan meninggalkanmu," bisiknya.

Bahu Tiffany bergetar dan dia menumpahkan semua kerinduan dan kepedihannya dalam pelukan Nick.

**

Tiffany terbagun saat merasakan sentuhan di kepalanya. Matanya mengerjap beberapa kali dan melihat Nick yang duduk di sisi ranjang sambil memandanginya. Sontak dia terperanjat dan menatap Nick dengan dahi berkerut. "Kenapa kamu masih di sini?"

"Kamu harus makan." Nick mengambil nasi yang diletakkan di samping kasur.

"Aku bisa sendiri, pulanglah."

"Aku akan pulang setelah kamu makan."

Tiffany paham betul dengan sifat Nick dan membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau. Dia pun mengambil nasi dari tangan Nick dan buru-buru menyelesaikannya. Tapi dia merasa risih karena terus diperhatikan. "Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?"

Nick tidak menjawab melainkan sebelah tangannya terangkat dan mengelus pipi sembap Tiffany.

Seperti ada getaran ketika Nick menyentuhnya dan Tiffany memegang tangan Nick untuk menurunkannya. "Please, kita sudah berakhir," mohonnya.

Mereka memandang satu sama lain dalam kebisuan selama beberapa detik. Kemudian seulas senyum singkat hadir di wajah Nick. "Baiklah, aku pergi. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu selamanya, tapi aku pergi untuk memberimu waktu berpikir. Ulurkan tanganmu ketika kamu siap dan ketika aku menggenggamnya kembali, akan kukunci agar kamu tidak bisa melepasnya." Sebelum beranjak, dia mendekatkan diri dan meninggalkan kecupan di dahi Tiffany.


Chasing RainbowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang