Pagi ini mungkin menjadi hal terbosan bagi seorang Park Jimin. Mungkin ini sudah kesekian kalinya ia menjadi pesuruh, atau bahasa halusnya "pemungut sampah."
Menyedihkan? Tentu.
Dengan perawakannya yang seperti itu, mana mungkin tidak ia selalu kalah dengan member yang lainnya. Terutama Jungkook.
Jangan tanyakan kenapa Jimin tak pernah melawan. Ya! karena kalian akan tahu siapa yang akhirnya akan menang.
Dengan sebagian sisa sisa otot yang masih ia punya, Jimin mengangkat dua kantong besar yang penuh dengan sampah.
Berat, bau, jijik. Tentu saja. Ya itulah yang ia rasakan setiap harinya.
Dengan pasrah Jimin mendorong pintu dengan punggungnya. Celotehan kecil pun masih terdengar ketika Jungkook yang masih ingin membalas sisa sisa perdebatan dengannya.
Karena tahu ini tidak akan berakhir, akhirnya Jimin memilih diam dan langsung menutup pintu dengan keras.
"Yaisshh... Kenapa selalu aku yang kenjadi tumbal didalam rumah ini," umpatnya.
Ia menarik kesal kantong sampah dan sekelebat wajah tanpa dosa Jungkook terbayang dipikirannya. "Cih! Seharusnya ia malu dengan ototnya!" dengan kesal Jimin menutup tong sampah dengan keras seolah membayangkan bahwa tong sampah itu adalah wajah Jungkook.
Puas dengan itu, Jimin menyeka keringat yang sedikit mengalir di pelipisnya, "fuh. Aku bersumpah ini yang terakhir kalinya aku melakukan ini!" tunjuknya pada tong besar didepannya.
Ketika ia hendak berbalik badan, tiba-tiba saja Jimin terhenti karena melihat sesuatu, "eoh." ia melihat sebuah mobil yang terparkir tak jauh didepannya.
"Bukankah itu mobilnya Taehyung?" ucapnya seolah mengenali mobil hitam itu kemudian mencari sesosok Taehyung disekitar sana.
Sepi. Karena penasaran, ia pun menoba mendekati mobil tersebut.
Dahinya langsung mengerut ketika mengetahui mobil itu dalam keadaan menyala.
Akhirnya Jimin berinisiatif mengintip dari kaca mobil. Ia agak kesulitan karena kaca mobil tersebut didesain dengan kaca film. Namun sedikit ia bisa melihat ada seseorang yang tengah terbaring di kursi kemudi.
"Eoh. Itu dia," dan Jimin langsung mengenali orang tersebut.
"Yak Taehyung-ah," panggilnya seraya mengetuk kaca mobil.
Tak ada respon. Kemudian Jimin kembali mengetuk kaca mobil, kali ini agak keras. "Taehyung-ah! Kim-Taehyung!"
Dan tetap saja tak ada jawaban darinya. Jimin mulai gemas, "apakah ia mempermainkanku?" tebaknya. Ia kembali mengintip dan melihat Taehyung tak bergerak sedikit pun.
"Yah baiklah. Kau tidurlah sampai besok." ucapnya pasrah. Namun ketika Jimin hendak pergi, ia melihat sesuatu yang janggal. Kaca mobil tersebut tertutup rapat.
"Jangan jangan.."
Seketika saja Jimin segera panik karena memikirkan hal buruk telah terjadi pada temannya itu.
"ㅡYAK TAEHYUNG-AH!!!" Jimin menggedor keras kaca mobil.
"TAEHYUNG BANGUN!!!!"
"SESEORANG TOLONG AKU!!!" Jimin berusaha mencari pertolongan tetapi tidak ada siapapun disana. Jimin terlihat seperti orang yang sedang kebakaran jenggot. Ia terus menggedor keras kaca mobil berharap bahwa temannya bangun.
"Yak yak yak.." teriak seseorang yang berhasil menghentikan Jimin.
"ㅡNeo wae irae... eoh ? (Kau kenapa?)"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucky or Not [Kim Taehyung]
Фанфикшн[ON GOING] [EDITING PROGRESS] Sekarang aku percaya dengan adanya takdir. Ya, sebenarnya aku sendiri tidak bisa menyimpulkan ini 'baik' atau 'buruk' nya untuk diriku. Karena kejadian itu dan pada hari itu kehidupanku berubah 180 derajat.
![Lucky or Not [Kim Taehyung]](https://img.wattpad.com/cover/73226703-64-k294802.jpg)