16

1.9K 286 5
                                        

"Saya dokter Kim Jiho, ada yang bisa dibantu?" ujar dokter tersebut sambil tersenyum sinis.

Nana terdiam sejenak, lalu ia membalasnya dengan senyuman kecut.

"Gak ada."

Nana membuyarkan senyumannya, sedangkan dokter itu masih dengan senyuman sinisnya.

"Ayo kita makan siang." kata Jiho sambil berjalan melewati Nana dan Haechan bersama para dokter yang lainnya.

Sebelum ia melewati Nana, ia berhenti sejenak di samping Nana.

"Senang bertemu dengan Nana lagi. Ternyata lo udah dewasa." bisiknya, ia pun berlalu dari penglihatan Nana dan Haechan.

Setelah para dokter pergi, Haechan mulai bertanya sesuatu pada gadis di sampingnya.

"Lo kenal dia?" tanya Haechan.

"Dia kakak angkat gue."

Sementara Jiho dengan dokter yang lainnya sedang berada di kantin rumah sakit untuk makan siang bersama.

"Operasi tadi harusnya berjalan lancar."

"Mereka seharusnya jangan buat rencana untuk operasi kalau gak punya cukup biaya."

"Tetap aja, itu kan pasien."

"Oh ayolah, lo bakal anggap dia sebagai pasien walau dia gak bayar lo? Seorang dokter juga butuh uang."

"Kalian ini gak bisa ya biarin kita makan dengan tenang? Undur perdebatan kalian, sekarang kita makan dulu." cetus Jiho.

"Ngomong-ngomong, siapa siswi yang tadi itu? Lo kenal dia?" tanya salah satu dokter di meja makan itu.

Jiho mendengus kecil dan tersenyum sambil mengangguk.

"Dia... cuma anak mantan pelayan rumah tangga yang dulu. Silakan makan."








***






Sinar matahari membuat gadis berumur 17 tahun itu bangun dari tidurnya, sebelumnya ia menggeliat terlebih dahulu. Rasa malas menyelimuti dirinya, ia sangat mengantuk dan butuh waktu tidur lagi.

Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah hari sekolahnya. Akhirnya ia bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Setelah mandi, ia keluar kamar dan berjalan ke dapur untuk mengambil makanan, lalu duduk di meja makan.


Bruk!


"Aduh!"

Nana mendengar suara seorang lelaki sedang meringis kesakitan. Rasa takut mulai tumbuh di dirinya, ia pun berpikir yang tidak-tidak. Ia berpikir bahwa itu adalah orang jahat atau semacam pencuri harta di rumah.

Nana pun mengambil sebuah pisau yang baru diasah bibi Han kemarin, lalu ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah ruang tamu.

Setelah sampai, ia melihat seorang lelaki sepantaran dengannya sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu. Bukan rasa takut lagi yang ia miliki, tapi rasa kesal, amarah, dan sedikit kasihan.

Guardian [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang