12

3.1K 396 11
                                        

Chenle baru saja sampai di sekolah. Tapi sudah mendapatkan pandangan yang membuatnya murka dan tentunya saja sedikit prihatin. Melihat Haechan yang merangkul Nana, membuat Chenle berpikiran yang tidak-tidak.

Apalagi jika Haechan adalah spesies siswa yang dianggap buruk. Dua kancing dari atas seragamnya yang sengaja ia buka. Kalung berwarna silver dan tato di lehernya yang ditutupi kerah seragam.

Sangat berbanding terbalik dengan Chenle yang selalu memakai kacamata kemanapun ia pergi. Apalagi Chenle mempunyai kebiasaan mengerucutkan bibir yang membuat cowok itu kelihatan menggemaskan dan sangat bertolak belakang dengan Haechan.

"Dan sekarang dia ninggalin Nana, pasti lagi cari mangsa baru. Untung Nana sahabatnya, kalo gak parah dah brengseknya." gumam chenle.

Setelah melihat perlakuan Haechan pada gadis lain, ia mengarahkan kepalanya untuk menghadap Nana yang juga sedang sama jijiknya dengan Chenle. Selang beberapa detik sebelum kejadian utama yang dibuat oleh Haechan, seorang siswa sudah lebih dulu menutup kedua mata Nana.

Chenle merasa lega.

"Apa-apaan itu? Dia meluk Nana?"

Dann juga mungkin, kecemburuan? Setelah ia melihat wajah siswa itu, ia baru teringat bahwa siswa itu satu kelas dengannya. Siswa mana yang tidak menumbuhkan rasa pertemanan dengan sesama jenisnya di dalam satu kelas?

Chenle mengenal siswa itu, ia Huang Renjun.

Siswa mana yang berani menyentuh tubuh Nana? Tentunya selain Haechan yang kapanpun bisa gadis itu buat melayang nyawanya. Maksudnya, bukan begitu. Haechan merangkul Nana menggunakan tangannya yang membuat bahu Nana dan baju Haechan bersentuhan. Tapi ini,

"Dia nyentuh dada gue!" kaget Nana dalam hati.

Mana mendorong Renjun sampai tubuhnya hampir hilang keseimbangan. Nana masih marah, tapi wajah Renjun yang berubah menjadi sedih membuat Nana menyesal telah mendorong siswa tersebut.

Tapi mau bagaimana pun, tetap saja Renjun adalah orang yang tak sopan. Syukurlah lorong sekolah masih sepi karena baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.

"Apa-apaan lo?" geram Nana.

"Oh, gue Huang Renjun." balas Renjun sembari menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Nana.

"Gue gak nanya nama lo."

"Oh maaf." ucap siswa itu lesu sebelum pergi meninggalkan Nana yang diam bagai patung.


"Renjun! Lo bodoh! Gak kayak gitu caranya!" batin Renjun kesal.


Kesal pada diri sendiri adalah hal yang wajar bukan? Ya, menyesal.

Renjun tau, ia tau jika Nana tidak mengingat dirinya. Jika Nana tak mengingat Jaemin, apa dayanya yang hanya seorang Renjun?

Lagipula Renjun lah orang yang menghapus ingatan Nana saat dia masih kanak-kanak. Sekarang ia menyesal, jika saja ia tak menghapus ingatan Nana, pasti gadis itu masih mengingat Renjun. Mengingat seseorang yang telah menyelamatkannya dari maut.

Guardian [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang