Di ruang latihan, beralaskan matras, Ardi baru saja mengubah posisi, dari tengkurap ke duduk bersila. Satu Check Point ditulisnya sambil menunggu Papi Azlan dan Mami Kiara pergi lagi. Ada kesepakatan tanpa kata di antara Ardi dan Rayn, kali ini orangtua tidak perlu tahu urusan mereka. Jadi ceritanya, mereka sedang gencatan senjata.
Sesekali Ardi memandang Rayn yang duduk empat langkah darinya. Tampangnya lebih masam ketimbang sari lemon murni. Anehnya, Ardi tidak lagi merasa terganggu. Menulis Check Point membantunya mengurai kepelikan di benak. Temperatur kepala dan hatinya berangsur turun.
Lagipula, pulang sekolah tadi, mereka sudah saling teriak. Dua-duanya ingin didengar tapi tidak mau mendengar. Mengakui kebohongan masing-masing, tapi sama-sama tidak terima dibohongi. Pertengkaran mereka lebih intens ketimbang saat mereka berebut keping Lego; atau ketika Ardi merobek layangan Rayn; atau ketika Rayn iseng menakut-nakuti Ardi di kebun dengan kerudung putih Ibu; atau bahkan ketika mereka enggak saling bertegur sapa selama seminggu tanpa alasan yang jelas. Tapi tetap saja insiden-insiden itu cuma receh dibandingkan yang sekarang.
Mungkin karena dulu, orang dewasa selalu ikut campur. Mungkin karena sekarang, mereka sudah beberapa tahun tambah umur, lebih canggih. Sudah membuktikan lewat pengalaman, keterlibatan orang dewasa sebenarnya tidak terlalu membantu. Solusi yang ditawarkan orangtua sungguh aneh. Mereka dipaksa berdamai, disuruh melupakan masalah, padahal konflik dan kemarahan belum reda.
Jadi, tanpa kata, Ardi dan Rayn sepakat menghentikan keributan ketika Mami Kiara dan Papi Azlan pulang. Rayn dengan manis menawari Ardi kudapan sorenya. Karena Ardi kembali dari Cianjur dadakan, Mami Kiara tidak membelikan apa-apa buatnya. Ardi mencomot lemper satu dan berterima kasih sambil merangkul Rayn singkat.
"Sudah lama kita enggak latihan bela diri," kata Rayn dengan suara riang. "Kamu janji mau rutin latihan taekwondo di rumah waktu mau ganti ekskul ke voli. Nyatanya, sebulan sekali pun lupa."
Ardi menelan lemper susah payah. Itu kode keras dari Rayn untuk menyelesaikan masalah dengan duel. Jangan bayangin kayak di film-film. Mereka cuma perlu melampiaskan kemarahan lewat gerakan fisik. Kalau enggak, gondok dan keki yang menyumbat bakal jadi kanker hati. Mereka sepakat soal itu. Tapi Ardi merinding sendiri menyadari tatapan Rayn. Kali ini bakal beda. Rahang membiru dan bibir pecah itu buktinya; Rayn enggak main-main dengan Raiden soal Megan. Ardi belum dengar cerita lengkapnya karena mereka keburu cekcok soal kebohongan.
Mami Kiara tiba-tiba melongok ke dalam ruang latihan. "Aaww, kalian berdua so cute pakai dobok!" serunya sambil mengeluarkan ponsel. "Mami foto ya. Posenya yang keren atuh. Ulah siga bebegig kasura hate kitu (Jangan kayak orang-orangan sawah ketusuk hatinya gitu). Ardi, lebih dekat ke Ryan. Nah, gitu. Rayn rangkul Ardi! Senyum dong. Sip. Aaaa .... Ini instagramable banget."
"Jangaaaan! Mami sudah janji!" Rayn melompat hendak merebut ponsel Mami. Rayn paling benci fotonya diupload di antara pameran baju-baju butik. Bisa dikira manekin, katanya. Meski Mami sudah membuat akun terpisah, Rayn tetap enggak rela.
Mami Kiara buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, sambil berjanji foto mereka hanya untuk koleksi pribadi. Ia kemudian mencium Rayn dan mengacak rambut Ardi. "Kalian baik-baik di rumah ya. Latihannya jangan berlebihan. Hati-hati dengan mukamu, Rayn. Mami-Papi pergi dulu. Pulang malam banget, enggak usah ditunggu."
Sebentar kemudian terdengar pagar dibuka dan ditutup. Begitu mobil mereka menjauh, Ardi dan Rayn kembali pada posisi masing-masing. Untuk beberapa saat, sunyi.
Akhirnya Ardi tidak tahan dipandangi Rayn begitu rupa. Ia melambaikan buku harian. "Check Point terakhir. Mau baca?"
Rayn mendengkus. "Buat siapa sekarang? Avengers? Bartimaeus? Gandalf? Alat Pendeteksi Kebohongan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PELIK [Sudah Terbit]
Fiksi Remaja[Sudah Terbit] PELIK "haruskah aku relain kamu dengannya?" Rayn belum pernah jatuh cinta. Gimana mau jatuh cinta kalau ngenali muka orang saja enggak bisa. Ia mengidap face-blindness yang dirahasiakannya mati-matian. Saat cinta akhirnya menyapa, Ray...
![PELIK [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/126099623-64-k138457.jpg)