BAB 16

629 24 7
                                    

Begitu bus sampai di terminal Sukabumi, tim segera turun. Mereka pun berganti naik angkot bhayangkara dan berhenti di Simpang Dago. Kemudian naik angkot lagi menuju Selabintana. Setelah itu, mereka harus jalan kaki sekitar 45 menit untuk sampai pos.

Begitu sampai, Riko dan Citra langsung jalan duluan. Di belakangnya, ada Adit, kemudian empat mahasiswa lainnya. Dan Key, berada paling belakang. Berjalan tertatih-tatih. Bukan hanya tasnya yang berat, tapi juga karena pikirannya yang lelah. Jika tidak untuk Kakaknya, tak mau lagi, Key merasakan hal ini.

Adit pun berhenti begitu menoleh mendapati Key berada paling belakang. Disuruhnya keempat temannya jalan duluan. Ditungguinya Key dengan sabar.

“Kenapa? Capek?” tanya Adit begitu Key sudah dekat.

Key melihatnya sekejap, menggeleng, kemudian menunduk. Terus diayunkan kakinya, berjalan. Tapi Adit menahan dengan berdiri menghadang. Key pun mendongak ke arahnya.

Adit tak langsung bicara. Matanya masih sibuk mengamati wajah Key yang sebenarnya sedih, tapi berusaha untuk di tutupi.

“Lo ingat kesepakatan kita?” tanya Adit kemudian. Key mengangguk perlahan. “Kalo gitu dengerin omongan gue!” dengan sabar, Key menunggu kelanjutan ucapan Adit. Meski dia juga was-was, takut Adit menyuruhnya melakukan hal gila.

Sementara itu, dengan terus saja berjalan Riko menoleh ke belakang. Dia sempat terkejut karena tak mendapati Adit. Riko pun langsung berhenti. Membuat Citra juga ikutan berhenti. Begitu juga dengan empat kawannya.

“Adit mana?” tanya Riko pada kawan-kawannya.

“Di belakang!” jawab salah satu mahasiswa kembali berjalan diikuti oleh tiga mahasiswa lain. Riko pun mengarahkan pandangannya jauh ke belakang. Ditemukannya sosok Adit yang membelakanginya.

“Sama siapa, tuh anak?” tanya Riko menoleh pada Citra.

“Palingan juga sama Key!” terka Citra.

Mendengar itu, Riko kembali mengalihkan perhatiannya pada Adit. Ditatapnya lekat-lekat temannya itu.

“Udah, biarin aja!” saran Citra seraya kembali berjalan. Tapi rupanya enggan bagi Riko mengikuti saran temannya itu. Dia terus saja menatap mereka sampai nanti mereka kembali jalan.

***

“Gue tahu lo cewek tegar. Tapi gue nggak suka ketegaran lo yang sekarang!”Adit pun membungkukan punggungnya, menyejajarkan bibirnya di telinga Key, “Buang wajah palsu lo!” bisiknya dan kembali menegakkan tubuhnya.

Kemudian, Adit mengambil air mineral dari saku samping tasnya, “Nih!” ucapnya menyodorkan air itu ke Key.

Thanks!” kata Key menerima lalu meminumnya. Setelah itu, mereka kembali berjalan beriringan.

Wajah palsu!

Tidak pernah sebelumnya, Key membayangkan kalau orang di sebelahnya akan berkata begitu padanya. Tapi mungkin ada benarnya juga. Untuk apa juga dia bersembunyi dari kesedihan yang tak bisa lenyap dari dirinya dan coba ditutupinya dengan sikap tegarnya. Toh, semua juga sudah tahu kalo dia memang sedih. Tapi yang membuat Key heran, kenapa hanya Adit yang mengatakan hal itu, kenapa lainnya tidak?

****

Malam pun datang. Seperti kesepakatatan awal, rombongan membuat perkemahan di Selabintana.

“Kenapa sih, kita nggak langsung naik aja?” tanya Key pada Citra yang tengah menata sleeping bagnya.

“Kita masih capek, Key. Lagian, medannya juga jauh lebih sulit dari yang sebelumnya. Pacetnya juga banyak. Jadi, dari pada entar kita naik, nggak kuat dan yang ada jadi relawan buat pacet, jadi mending besok aja. Sekarang, kita kumpulin tenaga,”jelas Citra, “dan perlu lo tahu, naik gunung itu bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus kita pertahankan dan kita lawan!” lanjutnya.

The Climbing Love (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang