Key menghela napasnya dalam-dalam. Berusaha mengurai sesak yang masih menghimpit dadanya.
"Cengeng!" cibir Adit dari arah belakang.
Key menoleh sekejap lalu melepas ranselnya. Bibirnya bergeming tanpa suara.
Adit pun menurunkan tasnya dan duduk tak jauh dari Key. Dia ambil kameranya dan mulai memotret.
"Apaan sih, lo!" kesal Key karena Adit mengarahkan kameranya ke dia.
"Apaan?" Adit tanya balik. "Nggak usah GR deh. Gue foto bunga di sebelah elo, bukan fotoin elo!" tandasnya.
"Boong!"
"Liat aja, kalo nggak percaya," Adit menyodorkan kameranya ke Key.
Buru-buru Key menerima dan mulai memeriksanya. Kalau sampai dia menemukan fotonya di kamera ini, jangan harap kamera itu bisa kembali ke pemiliknya dalam keadaan baik-baik saja.
Tapi setelah berulang kali menekan tombol gulir tak menemukan apapun selain satu foto bunga di sebelahnya, ekspresi wajah Key berubah. Dan justru membuat Adit diam-diam mengulum senyum.
"Nih," Key mengembalikan kamera Adit dengan muka jutek. Bahkan, dia tak menoleh ke Adit.
"Lo ngomong sama siapa?" Adit pura-pura bingung.
"Hobi banget ya lo belaga begok. Begok beneran tahu rasa, lo!" kesal Key seraya menarik tangan Adit dan meletakkan kamera itu di telapaknya.
"Lo ngomong sama gue, tapi yang diliat tempat lain. Ya wajarlah kalo gue nggak ngeh!" tutur Adit.
Key pun menoleh ke arah Adit yang kini tersenyum puas. Tapi sesaat kemudian dia berpaling lagi.
"Seneng banget ya, lo, liat gue malu?" dumel Key.
"Malu?" Adit mengulangnya. "Kemarin nyium pipi gue aja nggak malu, kenapa hanya masalah gini aja lo malu?"
Pertanyaan itu sukses membuat Key membelalak. Wajahnya pun merah seketika. Dia masih ingat betul dengan tindakannya di dermaga belakang kampus itu. Tapi dia tak pernah menduga kalau Adit akan mengungkit hal itu lagi.
Begok! Begok! Begok! rutuk Key dalam hati.
Melihat wajah Key yang semakin memerah, membuat Adit tak bisa lagi menahan tawanya. Tawa puas pun terlepas, membuat Key kelabakan, mencari cara menyumpal mulut orang itu.
Apa mending gue pergi aja, ya? pikir Key. Tapi baru saja dia bergerak, Adit sudah menahan dengan mencekal satu tangannya. Menariknya jadi lebih dekat dengannya.
"Lo cantik kalo lagi malu," bisik Adit tepat di telinga Key. Membuat gadis itu benar-benar salah tingkah dibuatnya. Tapi kali ini Adit tak tertawa. Dia arahkan kameranya ke Key, dan membidiknya. Memerangkap wajah menggemaskan itu dalam benda hitam itu. Juga dalam ingatannya.
"Lo nyuri foto gue!" celetuk Key yang disambut cengiran oleh Adit.
"Cuma satu," ujar Adit sambil melihat hasil potretannya.
"Tetep aja, namanya nyuri!"
"Kalo gitu sebagai bukti, gue beneran jagain lo!"
"Jagain kok kek gini," geming Key yang masih dapat didengar jelas oleh indra Adit.
"Emang lo mau, gue bilang ke Davin kalo gue berhasil baperin lo?" pertanyaan itu sukses membuat Key membelalak lagi, "Melotot terus! Keluar dari tempatnya, tahu rasa lo!"
Key melayangkan pukulan ke lengan Adit, "Ngeselin banget sih, lo!"
"Ngeselin gimana? Orang dari tadi gue nggak ngapa-ngapain elo!"
"Tangan elo emang nggak ngapa-ngapain. Tapi mulut lo tuh, yang udah bikin gue kenapa-napa!" sembur Key.
"Mulut gue kan juga masih di tempat. Nggak gerak nyosor lo!"
Orang ini... Key menggeram, "Ralat. Omongan lo!"
"Yang mana? Yang ngejaga, atau...," Adit bertanya dengan senyum mengembang, "Yang baperin?" lanjutnya dengan berbisik.
Key menjauhkan kepalanya dari Adit, di tolehnya orang yang begitu dekat dengannya itu. Alis tebal, mata yang teduh, bibirnya yang melengkung, juga rahang yang tegas. Bohong, kalau Key bilang dia tak terpesona.
Tapi, cepat-cepat dia mengenyahkan pemikiran itu. Pemikiran tentang Adit yang rupawan. Hingga berhasil membuat perasaannya teraduk-aduk, tak karuan. Key harus ingat, Adit itu tak lebih dari orang menjengkelkan yang membuat hidupnya jadi berwarna. Eh, bukan, porak poranda.
"Bisa nggak, nggak usah deket-deket!" ujar Key bersikap sok galak.
Adit tak menjawab. Dia malah tersenyum lalu mengecup kening Key lembut. Membuat gadis itu tak bisa berkutik.
"Kita tunggu Citra dan yang lain, baru kita lanjutin perjalanan ke puncak! Sambil nunggu lo bisa manfaatin waktu ini untuk istirahat atau apapun," jelas Adit lalu berlalu meninggalkan Key yang masih mematung di tempatnya.
Kok aku senyum-senyum sendiri, ya, bacanya? Aku yang nulis dan aku sendiri yang baper.
Kalo kalian gimana? 😋

KAMU SEDANG MEMBACA
The Climbing Love (Republish)
Romance#1 dalam Gunung [06-08-2019] #2 dalam Persaudaraan [06-08-2019] Key, gadis cantik yang cuek soal penampilan itu tak bisa tidur karena dia dan orang tuanya akan meninggalkan Surabaya. Kota tempat tinggalnya sejak lima tahun terakhir. Kembali ke Jaka...