Bagian 6 - So?

13.5K 875 11
                                        

Minta Vote-nya!😄

Part spesial untuk indahindah22 Thanks udah jadi pembaca setia yang dengan sabarnya nungguin update-an saya yang sampai berabad-abad! 😂😂

-o0o-

Levin kembali mendesah saat cairan alkohol itu kembali melewati kerongkongannya. Ini masih sangat pagi dan ia sudah menjadi pelanggan pertama di kafe milik sahabatnya itu.

"Ada apa denganmu bung?" Tanya Jacob sambil mengisi gelas kecil tadi dengan minuman yang baru.

Levin tidak menjawab dan kembali meneguk minuman itu, kemudian dahinya mengernyit. "Air putih?!" Tanyanya memprotes.

"Kau sudah terlalu banyak minum." Jacob hanya menaikkan bahunya acuh.

"Come on!" Rengek Levin seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya.

Jacob hanya menghela nafasnya. "Dengar... Jika kau pelangganku yang lain aku akan terus memberimu minuman haram itu sampai kau mati kalau bisa. Tapi kau berbeda, kau temanku."

Levin diam. Ia sendiri bingung dengan dirinya. Seharusnya ia bahagia karena sudah berhasil menghancurkan Arletta, bukannya merasa bersalah seperti sekarang. Jika Arletta berpikir bahwa dirinya mabuk semalam, maka Arletta salah besar. Levin memang mabuk, tapi tidak sampai membuat kesadarannya menghilang.

Ia ingat semuanya.

Ia ingat bagaimana rasa ciuman Arletta, ia ingat bagaimana mereka mencapai kepuasan bersama dan yang paling membuatnya hampir gila adalah pernyataan cinta Arletta untuknya.

"Apa rencanamu Gagal?" Tanya Jacob tanpa basa-basi. "Apa ternyata wanita bermulut besar itu sudah tidak sesuci ucapannya?" Tanya Jacob yang membuat rahang Levin mengeras.

Meski Arletta menampiknya ia sangat tahu jika gadis itu masih sangat polos dan belum tersentuh. Levin menjadi yang pertama untuk segalanya bagi Arletta. Dan hal itu juga dibuktikan dengan seprainya yang ternoda. Oh, karena hal ini juga Levin kembali mengingat betapa besar ego yang dimiliki seorang Arletta Cauren.

"Kenapa kau tidak menjawabku?" Tanya Jacob penasaran. Baiklah sebenarnya Jacob sudah seperti ibu-ibu penggosip, tapi ia tidak perduli.

"Levin?!" Gertak Jacob tidak sabaran.

"Semuanya berjalan lancar. Tapi juga tidak bisa dibilang berhasil." Jawab Levin kemudian melempar ponselnya yang masih menampilkan foto terbaru Arletta yang berpose begitu menantang.

"Apa yang gadis itu lakukan?!" Tanya Jacob tampak terkejut setelah melihat foto itu. "Gadis itu sedang menjalani pemotretannya, setelah kau memperkosanya?"

Levin mendengus. "Aku tidak memperkosanya. Dia bilang itu sebagai kado ulang tahun untukku darinya." Jawab Levin dengan kesal.

Jacob menutup mulutnya kemudian ia langsung tertawa terbahak. Matanya bersinar geli dan pandangannya benar-benar mengganggu Levin.

"Berhentilah tertawa." Kesal Levin. Sudah cukup Arletta membuat darahnya mendidih, jangan sampai sahabatnya itu juga.

"Well, dia gadis yang menarik." Komentar Jacob jujur setelah berhasil meredam tawanya.

"Dan sayangnya ia ber-bisa." Tambah Levin. Pikirannya terus berputar pada segala tuduhan buruknya pada Arletta.

"Jadi apa yang membuatmu seperti orang linglung pagi ini? Dia yang terlihat baik-baik saja atau..." Jacob menjeda ucapannya. "...Pernyataan cintanya semalam?" Ucapnya dengan seringai.

"Berhentilah berucap omong kosong." Protes Levin cepat.

"Kenapa?.. Aku hanya ingin tahu apa yang kau rasakan saat tahu musuh besarmu ternyata jatuh cinta padamu dari dulu." Jelas Jacob, entah kenapa ia menyukai ekspresi sahabatnya itu. Entah Levin sadar atau tidak, sejak tadi laki-laki itu terus mengubah raut wajahnya. Dan sejujurnya, Jacob menyukainya.

Hei! Dirinya masih normal, jadi tenang saja!

"Berhentilah membicarakan topik yang tidak kusukai. Kau tahu aku semakin jijik dengannya karena fakta itu. Sekarang semuanya semakin jelas kenapa hubunganku dan Nadine bisa kandas." Lihatlah kini Levin bahkan membuang wajahnya dan memutar tubuhnya membelakangi Jacob.

"Apa kau berpikir dia melakukannya karena dia mencintaimu dan ingin merebutmu dari Nadine?" Tanya Jacob berusaha memperjelas. Levin tidak bergeming di tempatnya, Sepertinya semua kesimpulannya memang benar.

"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Kenapa ia tidak pernah berusaha mendekatimu? Kenapa ia selalu menatapmu sinis dan terus bertengkar denganmu? Kenapa ia selalu menghindarimu selama ini, kecuali semalam?..... Apa semua prilakunya masuk akal jika ia memang ingin merebutmu dari Nadine?" Benar! Levin akui itu ada benarnya. Tapi siapa yang tahu isi pikiran seorang wanita rubah!

"Mungkin karena ia merasa bersalah." Jawab Levin acuh yang mengundang tawa Jacob.

"Kau terlalu egois menjadikannya sebagai penjahat hanya dari sudut pandangmu." Timpal Jacob masih memegang teguh argumennya.

"Hey ayolah! Apa kau sedang membela musuhku dari pada aku?!" Tanya Levin tidak terima.

"Dia musuhmu? Dan apa kau membencinya?" Sekali lagi! Ucapan Jacob membuat Levin kembali berpikir ulang.

Apa ia membenci Arletta?!

Tentu saja ia membencinya. Satu-satunya wanita yang membawa sumber kesialan dalam hidupnya.

"Tentu saja aku membencinya." Levin kembali berbalik. Memberi tatapan mencemooh atas apa yang dipertanyakan Jacob untuknya.

Jacob tersenyum manis. "Bagus!" Gumamnya semangat.

"Kalau begitu tidak masalah bukan jika aku ikut menghancurkannya? Jujur aku juga ingin menikmati tubuhnya." Dengan antusiasnya, Jacob melanjutkan maksudnya.

Prang!

Mata Jacob jatuh pada pecahan gelas yang mulai berjatuhan di lantai diikuti dengan darah segar yang menghiasi lantainya yang tadinya bersih. Kemudian matanya beralih pada tangan kanan Levin.

Gelas yang tadi berada ditangan Levin sudah berganti menjadi pecahan kaca, sementara darah kental perlahan meluncur dari telapak tangan Levin, menyusul untuk menghiasi meja barnya.

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja memecahkannya." Levin tertawa renyah. "Aku akan menggantinya nanti." Lanjutnya seolah luka ditangannya bukanlah suatu hal  yang penting.

Levin turun dari kursi bar itu dan berjalan meninggalkan Jacob yang masih berada di balik meja bar.

"Levin!" Panggil Jacob.

"Kau belum menjawab pertanyaanku?" Lanjutnya yang membuat langkah Levin terhenti. Levin berbalik tapi kali ini ia tidak tersenyum, raut wajahnya dingin dan matanya menatap tajam Jacob.

"Kau bisa mencobanya jika kau mau." Ujarnya dingin kemudian melanjutkan langkahnya. Meninggalkan bar itu dengan perasaan yang semakin kacau.

Ada apa dengan dirinya!

Sementara Jacob masih berdiri ditempatnya dan tersenyum penuh kemenangan.

"Stupid boy" kekehnya setelah melihat punggung Levin yang sudah menghilang di balik pintu barnya.

"Sebenarnya apa mau mu sobat?" Bisiknya lagi mencoba menebak sisi lain sahabatnya itu.

-o0o-

Typo masih bertebaran harap maklum karena belum revisi.

Darts With The BastardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang