Duh.... Gak tau mau bilang apa... Aku syok banget lihat vote dan grafik pembaca.... Makasih banget ya semuanya.... Dukungan kalian benar-benar membuat saya bersemangat....
Sejujurnya saya saya tipe introver yang gak pandai ngomong.
Tapi saya benar-benar berterima kasih dan sangat menghargai semua apresiasi kalian...
Thank you sooooooo muchhhhh.....!💙
-o0o-
Arrow menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal sama sekali. Tubuh jangkungnya menatap gadis Asia mungil di depannya. Tentu saja gadis itu mungil, tinggi badannya bahkan tidak sampai bahunya.
"Apa?!" Ketus gadis berambut sebahu itu. Arrow semakin kebingungan dan salah tingkah.
Ron menyeringai sesaat. "Ah.., kau ingin meminta maaf?! Baiklah ayo minta maaf adik kecil. Ayo cium tanganku." Ujarnya menyodorkan tangannya dan mengangkat dagunya tinggi.
Arrow mendesis, ia melirik kesal Arletta yang masih bersender di atas tempat tidur. Sementara Arletta membalasnya dengan menggidikkan bahunya. Kalau saja bukan Arletta yang memaksanya meminta maaf pada Ron. Arrow tidak akan pernah melakukan hal ini.
Senyum Ron merekah saat Arrow menerima uluran tangannya. Hari ini ia akan mengajari anak arogant itu bagaimana bersikap terhadap orang dewasa!
"Akhhh!!!" Ron berteriak dan segera menarik tangannya, sementara Arrow sudah memeletkan lidahnya padanya. Apa itu?! Baru saja tangannya di gigit Arrow!
"Kau pikir aku mau mencium tanganmu? Huh! Tumbuhlah lebih subur, nanti aku pasti akan menghormatimu." Ujar Arrow sebelum melenggang pergi.
"A... Apa?!! Hey anak kecil!" Ron menarik kaos yang di pakai Arrow tapi laki-laki dengan gesit menjitak kepalanya.
"Akh! Dasar anak kurang ajar." Ron mengacak rambutnya frustasi. Benar-benar... Ia tidak pernah mengerti tingkah laku anak jaman sekarang. Dan sungguh ia juga ingin sekali memiliki postur tubuh tinggi seperti Arletta... Jadi Arrow tidak perlu mengejeknya lagi. Ia cukup sadar diri untuk tinggi badannya!
"Apa sakit?" Tanya Arrow berlagak bodoh. "Mana yang sakit?" Ujar Arrow, sesaat kemudian mengacak Rambut Ron. Ia tersenyum miring dan segera berlari keluar sebelum mendapat amukan dari sahabat kakaknya itu.
"Hey! Crazy Boy! You Will Died!"
Arletta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Harusnya ia sudah tahu, Arrow tidak akan mau meminta maaf pada siapa saja. Dasar adik keras kepala!
"Adikmu itu menyebalkan sekali!" Dengus Ron kesal. Ia memilih duduk di sisi tempat tidur Arletta dan mengabaikan kursi kosong di samping tempat tidur itu.
"Tapi kau tidak terlihat marah." Jujur Arletta.
Ron menggigit bibirnya pelan. Ia memang tidak bisa marah pada adik sahabatnya itu. Anak itu terlalu mempesona. Bagaimana ia bisa marah kalau dirinya saja bisa sulit bernapas jika sudah terlalu dekat dengan Arrow. "Aku marah kok." Bohongnya.
Arletta memilih tidak menanggapi ucapan Ron. Bukannya tidak perduli, Arletta hanya berasumsi kalau setiap orang memiliki privasi jadi ia tidak mau ambil resiko.
"Ar... Kudengar Barry masih ingin menikahimu?" Tanya Ron tanpa basa-basi.
Arletta termangu di tempatnya. Suapannya bahkan terhenti dan ia kehilangan selera makannya. "Ya." Jawabnya singkat.
Ia tidak tahu mau menjawab apa. Barry sudah menghadap orang tuanya dan menyampaikan bahwa ia tetap teguh mau menikahinya kemarin. Bahkan meski ia hamil dari laki-laki lain. Mantan kekasihnya itu tetap mau menerimanya. Mungkin memang ia yang salah menilai Barry.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darts With The Bastard
RomantikSejak pertemuan pertama mereka Arletta sudah mengibarkan bendera permusuhan pada Levin dan sejak itu juga Levin selalu mengganggu gadis itu. Satu-satunya gadis yang tidak bisa ia baca. Bagi Levin, Arletta adalah gadis angkuh yang keras kepala. Hubun...
