Bagian 16.2 - white

11.7K 867 81
                                        

Double update...!!!

Seneng gak?! Seneng gak?!

-o0o-

"Kamu menyalahkan Arletta untuk semuanya?! Kamu gila, Vin." Gadis itu berteriak dengan kesal. "Kamu pikir hanya karena Arletta menyukaimu, sahabatku itu akan berbuat sekeji itu." Nadine mengembungkan pipinya dan meniupkan udara. Ciri khas wanita itu jika ingin meredakan amarahnya.

"Oh, apa aku salah? Apa kau sengaja mengalah karena tahu Arletta menyukaiku. Aku tahu kau memang orang yang baik tapi bukankah keterlaluan memberikan kekasihmu pada sahabatmu... Ah, apa itu artinya kau sebenarnya tidak mencintaiku? Atau karena dulu laki-laki itu lebih mapan dariku."

"Cukup Levin! Sejak dulu sampai sekarang, aku bahkan tidak tahu tentang perasaan Arletta yang menyukaimu. Jadi berhentilah menduga-duga. Arletta sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan semua masalah ini. Dan laki-laki yang kau sebut-sebut itu adalah suamiku, ayah dari anakku. Dia punya nama, namanya Angga!" Nadine mendengus gusar. Semakin lama mereka bicara semakin tinggi pula nada bicaranya. Beruntung putranya sudah bangun dan merengek. Nadine jadi punya alasan untuk pergi dari sana.

"Kau tahu Levin. Sebenarnya aku sangat merasa bersalah padamu. Bahkan perlu waktu lama agar aku menerima suamiku, semua itu karena aku merasa bersalah padamu..... Aku rasa percuma menjelaskan apa pun padamu jika kau saja sudah sekeras ini." Nadine beranjak dari duduknya. "Tapi.... Apa salah jika aku menerima perjodohan yang diatur orang tuaku. Dan apa salah jika orang tuaku meragukan dirimu, karena jangankan orangtuaku. Aku sendiri saja sulit menerima kabar darimu..... Saat itu aku bahkan ragu apa kau masih mengingatku."

Levin memejamkan matanya. Alunan kemarahan Nadine masih teringat jelas di kepalanya. Nadine...

Levin tahu wanita yang terkenal lembut itu sejak dulu memang selalu membela Arletta apa pun yang terjadi, meski seluruh dunia menghujat Arletta, ia tidak perduli. Wanita itu selalu berada didepan Arletta sebisa mungkin untuk menjadi tameng Arletta, melindungi Arletta.

Kemarin wanita itu dengan tegas mengatakan jika semua tidak seperti yang diduga-duga olehnya. Padahal salahnya dimana? Levin hanya menyampaikan apa yang ia rasakan selama ini. Ia bahkan lupa kenapa semua pembicaraan mereka diakhiri dengan pertengkaran. Tapi sudahlah, ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia tidak tahu apakah perasaannya pada wanita itu masih ada atau tidak, ia ragu akan hal itu karena pada saat Nadine menegaskan posisi suaminya. Levin sama sekali tidak terusik. Tapi setiap ia mengingat kejadian pahit itu, rasanya ia sangat marah. Ia merasa itu tidak adil untuknya.

Levin akui ia memang jarang memberi kabar pada Nadine saat itu. Tapi itu karena ia ingin fokus pada pendidikannya, agar semua cepat selesai dan ia dapat kembali bertemu dengan kekasihnya itu. Tapi yang didapatnya hanyalah sebuah pengkhianatan.

Jika memang semua ini bukan salah Arletta, bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan wanita itu, lantas kenapa wanita itu menerima segala tuduhannya. Seolah ia mengiyakan semuanya. Arletta... Wanita itu tidak pernah bisa ditebaknya. Seperti ada berjuta-juta pintu yang membentengi wanita itu. Disaat ia berpikir sudah berhasil membuka pintu itu, ternyata masih banyak pintu lain yang harus ia buka juga. Dan sekarang siapa yang harus disalahkan. Ia sudah terlanjur membalaskan dendamnya pada Arletta.

Apa ia sudah sangat keterlaluan pada wanita itu.

Levin meremas rambutnya. Ia menatap tumpukkan berkas dihadapannya dan menghela nafas. Pikirannya sangat kacau sekarang, sementara pekerjaannya tidak pernah ada habisnya. Sejak kemarin ia bahkan belum pulang ke rumahnya. Dan disaat ini ia sangat butuh bantuan Jacob. Laki-laki itu harusnya ada disini bersamanya, ikut menyelesaikan segala pekerjaan mereka.

Dengan kesal Levin mengotak-atik handphonenya. Ia butuh bantuan disini. Bunyi suara sambungan mengalun di telinganya. Levin bersumpah akan mengacaukan bar Jacob jika laki-laki itu tidak menjawabnya. Bukan rahasia lagi jika Jacob menghabiskan hampir semua waktunya di bar kesayangannya itu. Bahkan laki-laki itu sering kali bertugas sebagai bartender disana hanya untuk menggoda para gadis yang datang ke barnya.

"Ada apa denganmu, Bung! Kau membuat gadisku kabur!"

Levin memutar bola matanya. Bukan kalimat itu yang ingin ia dengar.

"Apa kau lupa kalau sekarang kita memiliki pekerjaan lebih. Kemana saja dirimu, cepat kemari dan bekerjalah. Aku akan memberikan seribu jalang jika kau bekerja sekarang. Jadi cepatlah."

"Errrr... Maaf bung aku tidak tertarik. Gadis yang kuinginkan hanya ada satu di dunia ini. Dan aku bersumpah akan mendapatkannya." Ujar Jacob. Matanya tidak lepas dari gadis berambut sebahu yang baru saja melarikan diri darinya. Gadis itu sangat cantik dengan seragam maid bride dress. Karena itu Jacob tidak bisa menahan dirinya saat beberapa pria menatapnya dengan penuh rasa kagum.

"Hey... Kau..."

"Oh dan lagi aku sedang ada di acara pernikahan Arletta dan Barry. Apa kau tidak menerima undanganmu? Ah... Kau tidak diundang ya?"

Ejekan Jacob terdengar sangat menjengkelkan di telinga Levin.

"Acaranya sudah dimulai. Bye Levin. Selamat bekerja." Jacob memutuskan sambungan secara sepihak. Ia juga dengan sengaja mematikan handphonenya. Ia sudah bisa membayangkan ekspresi Levin saat ini.

Dan seperti yang dibayangkan Jacob. Levin mencoba menghubunginya berkali-kali tapi hasilnya tetap sama. Sumpah serapah bahkan sudah ia luncurkan berkali-kali.

Arletta.

Wanita itu benar-benar sulit ditebak. Arletta menyukainya bukan? Tapi, kenapa ia menikahi Barry. Bukankah wanita itu membenci laki-laki itu. Bukankah dia bilang tidak suka sesuatu yang sudah menjadi bekas. Apa sekarang ia berubah pikiran karena ia juga sudah menjadi 'bekas'. Tapi Arletta adalah bekasnya. Dan dia adalah yang pertama untuk gadis itu.

Tidak Levin tidak akan membiarkan Arletta meninggalkannya. Melupakannya seperti yang dilakukan Nadine. Arletta bekasnya, miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya.

Levin mengerang. Ada apa dengan dirinya. Ia tidak mengerti tapi perasaan memiliki itu begitu kuat. Tapi Arletta musuhnya. Terlepas Arletta bersalah atau tidak tenang kejadian dua tahun yang lalu, Arletta tetaplah musuhnya.

Sejak dulu ia memang tidak pernah rela Arletta bahagia atau sebenarnya ia yang tidak Rela Arletta bersama pria lain.

Levin tidak mengerti dengan semua yang ada pada Arletta dan ia lebih tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Tentang apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan. Sejak dulu ia tidak pernah tahu. Ia terlalu bodoh bahkan untuk dirinya sendiri.

Tapi apa pun itu. Sadar atau tidak. Hari ini Levin hanya ingin mengikuti kemauan hatinya. Termasuk berjalan meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke tempat wanita yang sudah membuatnya perasaan tidak nyaman ini.

Arletta harus bertanggung jawab.

-o0o-

Udah.....😅

Darts With The BastardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang