Bagian 22.1 - Run....

12.5K 904 65
                                        

Satu minggu sejak kejadian Barry datang ke rumahnya. Arletta merasa sedikit bebannya terangkat... Yah, setidaknya ia tahu alasan dibalik Barry meninggalkannya di hari pernikahan mereka. Menyakitkan tapi entah kenapa terasa melegakan.

Kini Arletta sadar tidak ada yang patut disalahkan. Tuhan adil dalam setiap rencananya. Arletta kehilangan cintanya, karirnya, rumah lamanya dan orang yang benar-benar tulus mencintainya.

Tidak ada yang salah disini.

Karena sebelum menyalahkan orang lain... Kita cukup mengintropeksi diri kita terlebih dahulu. Mudah memang menyalahkan orang lain, tapi tidak dengan menyalahkan diri sendiri.

Arletta berjalan pelan menikmati angin sore yang menerpa seluruh tubuhnya. Seulas senyum terbit diwajahnya. Angin inilah bukti anugrah tuhan. Meski tempat yang sedang ia pijak begitu ramai dan riuh dengan berbagai macam suara tapi angin sejuk itu membuatnya tenang hingga ia hanya bisa mendengar suara ombak laut.

 Meski tempat yang sedang ia pijak begitu ramai dan riuh dengan berbagai macam suara tapi angin sejuk itu membuatnya tenang hingga ia hanya bisa mendengar suara ombak laut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kau dari mana saja?" Ron menepuk bahunya dan membuat Arletta sedikit tersentak.

"Ayo makan." Ajak Ron kemudian. Arletta mengangguk dan mulai mengikuti kemana Ron menuntunnya.

Mereka memilih duduk di pinggir dekat dengan laut dan jauh dari keramaian. Ada meja petak dengan berbagai hidangan diatasnya yang cukup mengunggah selera makan Arletta mengingat nafsu makannya memang sedikit menyurut akhir-akhir ini. Keduanya memilih duduk bersebrangan.

"Aku masih heran kenapa kau ambil resiko dengan mengajakku makan diluar?" Tanya Arletta yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.

"karena kau sulit makan akhir-akhir ini." Jawab Ron acuh. Wanita asia itu memilih menyibukkan diri dengan makanannya, enggan menatap Arletta.

Arletta tidak bodoh. Ia merasa ada yang janggal disini. " Kau tidak sedang membodohiku, bukan?"

Ron meneguk salivanya. "Tidak." Gumamnya.

Entah kenapa semakin Ron mengelak semakin buruk juga firasatnya. Tapi, Ron tidak pernah mengkhianatinya. Ia begitu mempercayai Ron lebih dari adiknya sendiri.Ya, Arletta percaya..... Ia pun ikut mengambil garpunya dan mulai menikmati hidangan yang telah siap di meja makan mereka.

"Boleh aku bertanya?" Ron akhirnya kembali membuka suara. Tanpa menunggu jawaban Ron kembali melanjutkan ucapannya. "Jika kau kembali bertemu dengan Levin. Apa yang akan kau lakukan?"

Waktu seolah berhenti. Sudah lama Arletta tidak mendengar nama itu. Selama ini Ron tidak pernah membahas hal itu. "Aku akan lari."

Jawaban Arletta sukses membuat Ron membisu. Ia menatap Arletta dengan perasaan cemas. "Tapi kau mencintainya."

"Itu bukan alasan aku harus bersamanya. Apa kau ingin tahu... perasaan cinta itu sama besarnya dengan perasaan kecewaku padanya. Bahkan diakhir kesadarannya hanya ada satu nama yang membuatnya sadar." Arletta masih bersikap tenang. "Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya. Benar?"

Darts With The BastardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang