Jangan lupa klik bintangnya. ;)
***
Levin terus memandangi Nadine disela-sela makannya. Gadis itu makan dengan pelan dan sesekali tertangkap sedang meliriknya malu-malu.
Benar-benar istri idamannya.
"Vin, jangan liatin aku terus." Gumam Nadine pelan. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Dari tadi Levin tidak berhenti memandangnya, sejak suapan pertamanya. Beberapa hari ini ia dan Levin memang semakin dekat. Sementara Arletta lebih sering bersama Barry karena Barry yang melarang Arletta dekat-dekat dengan Levin.
"Kamu kan di depan aku, dine. Wajarlah yang aku lihat kamu." Jawaban Levin sukses membuat wajah Nadine semakin memerah menahan malu.
"Maaf." Cicitnya.
Levin tersenyum lebar. Nadine memang berbeda dengan Arletta jika Nadine berkata Maaf saat ada orang yang menentang argumentnya, Arletta malah akan semakin membalas dan tidak mau kalah sama sekali.
"Aku suka ngeliatin kamu" Levin mencondongkan wajahnya dan mengelap sisa susu di ujung bibir Nadine dengan ibu jari tangan kanannya. "Jadi kamu harus Terbiasa sama hal itu." Levin tersenyum manis dan membuat jantung Nadine berdetak lebih cepat.
"Ada susu di ujung bibir kamu." Levin menunjukkan ibu jarinya yang sedikit tertempel sisa susu tadi.
"Makasih." Jawab Nadine malu-malu.
"Udah selesaikan, mau ke kelas?" Tanya Levin yang dianggukki oleh Nadine. Keduanya berjalan meninggalkan perkarangan kantin dan melewati lapangan basket. Semua murid tampak berkumpul dan bersorak riuh. Levin dan Nadine mengernyit kebingungan dan mendekati beberapa siswa yang tampak asik menonton.
"Ada apa?" Tanya Levin.
"Biasa, Si Barry ngamuk gara-gara Edo ketua band nembak Arletta." Jawab laki-laki itu.
Levin mengernyit ini bukan pertama kalinya Barry membuat ulah karena Arletta. Ia tidak habis pikir dengan tingkah over protective Barry pada Arletta yang menurutnya gak bagus-bagus amat.
Arletta muncul dari tengah kerumunan dengan wajah angkuhnya tanpa menoleh ke belakang, seolah perkelahian dua laki-laki itu tidak ada sangkut pautnya dengannya.
Levin kembali tidak habis pikir bagaimana mungkin gadis itu berjalan dengan tenangnya, Sementara di belakangnya ada dua laki-laki yang babak belur karena memperebutkannya.
"Ar, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Nadine khawatir. Gadis itu sedikit berlari untuk mendekati sahabatnya itu. Belum sempat Arletta menjawab Levin sudah lebih dulu membuka suara.
"Dia pasti baik-baik aja lah dine. Yang harusnya dikasihi itu kan dua laki-laki bodoh yang mau-maunya adu jotos cuma buat cewek kayak dia."
Arletta hanya diam dan sedikit tersenyum kecut, namun beberapa detik kemudian ia mendengar suara tamparan keras. Arletta dan semua orang disana terkejut mendengar suara tamparan itu, dan lebih terkejut lagi karena yang melakukannya adalah Nadine. Wanita terlembut disekolah itu. Sementara Levin hanya merasakan panas yang menjalar di pipi kirinya akibat tamparan Nadine barusan. Matanya mengerjap, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.
Nadine menamparnya.
"Sebagai laki-laki seharusnya kamu gak ngomong kayak gitu, Vin!" Tegas Nadine.
Kini semua perhatian yang tadinya tertuju pada Barry dan Edo berubah haluan pada Nadine dan Levin.
Nadine menghela nafasnya, kemudian menarik lengan Arletta agar mengikutinya menjauh dari kerumunan itu.
"Dine." Cicit Arletta setelah keduanya sampai di depan gerbang sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darts With The Bastard
RomanceSejak pertemuan pertama mereka Arletta sudah mengibarkan bendera permusuhan pada Levin dan sejak itu juga Levin selalu mengganggu gadis itu. Satu-satunya gadis yang tidak bisa ia baca. Bagi Levin, Arletta adalah gadis angkuh yang keras kepala. Hubun...
