Udah segini aja dulu, kita melangkah bersama aku menulis dan kamu memberi dukungan.., komentar juga sih kalau bisa.😅 ~ Author
-o0o-
Arletta memijit pangkal hidungnya kemudian beralih ke pelipisnya. Kepalanya sangat pusing, belum lagi tubuhnya yang terasa sangat remuk dan selangkangannya yang terasa nyeri. Tubuhnya benar-benar dalam kondisi yang buruk hari ini. Entah apa yang terjadi semalam ia tidak terlalu ingat tapi jika melakukan seks bisa membuat tubuhnya sesakit ini maka ia lebih memilih menjadi perawan tua seumur hidupnya. Sayang sekarang ia bukan lagi seorang perawan.
Arletta tersenyum miris mengingat kisah hidupnya yang selalu berakhir tragis meski diawali dengan kisah yang indah. Arletta adalah anak sulung dari dua bersaudara, ia lahir dari keluarga baik-baik bahkan tergolong sempurna. Tapi kisah hidupnya tidak semulus jalan tol. Banyak lubang dimana-mana. Belum lagi semua yang mengenalnya akan selalu berpikiran bahwa dirinya adalah seorang antagonis sejati.
Ucapan yang pedas, tatapan sinisnya dan wajah angkuhnya yang selalu buruk Dimata semua orang adalah satu-satunya tameng yang memberi kekuatan untuknya.
"Kau kenapa? Pusing?" Ron sudah berdiri di depannya sambil memberinya sebotol air mineral.
"Apa aku terlihat akan mati?" Tanya Arletta balik yang membuat Ron menghela nafasnya.
"Tidak hanya sedikit pucat." Balas Ron seraya menggidikkan bahunya acuh yang membuat dahi Arletta sedikit berkerut. Astaga! Apakah ia sepucat itu!
"Kalau begitu panggil Tian dan cepat perbaiki riasanku! Kenapa ia tidak becus sekali!" Dumel Arletta, sementara matanya mencari laki-laki gemulai yang biasa merias wajahnya itu.
"Tian sedang merias Tiffany." Ron menjelaskan terlebih dahulu sebelum Arletta semakin mengamuk.
Dahi Arletta tampak mengerut untuk yang kedua kalinya. Jelas ia tidak suka jika ada yang lebih dipentingkan dari dirinya.
"Tenanglah Ar, Pemotretanmu juga sudah selesai. Jadi kau tidak perlu merias wajahmu lagi." Lagi-lagi Ron kembali menjelaskan. Tapi bukannya melunak wajah gadis didepannya semakin memerah karena marah.
"Kenapa selesai?! Bukankah masih ada beberapa sesi lagi?" Bentak Arletta kesal. "Aku akan bicara pada Alex. Dari semalam ia terus menundanya. Memangnya dia pikir jobku hanya disini!" Dumel Arletta dan berniat bangkit dari duduknya.
"Ar, please!" Dengan cepat Ron menahan pundak Arletta dengan kedua tangannya. Rasanya ia semakin hari semakin mendekati ajal jika sifat Arletta terus emosi seperti ini. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan Arletta semalam, tapi yang ia tahu tubuh Arletta sudah berada dibatas maksimal bertahan. Gadis itu harus memberi istirahat pada tubuhnya.
"Aku hanya tidak mau kau sakit. Tolong mengertilah, aku perduli padamu!" Ron mengucapkannya dengan sedikit tekanan. Mencoba melunakkan singa betina yang jelas hampir mengamuk itu.
Arletta diam. Meski hanya sekilas Ron dapat melihat mata Arletta sedikit berkaca sebelum Arletta membuang wajahnya. Inilah yang membuat Ron begitu menyayangi gadis itu. Ia begitu ingin melindungi gadis itu, karena ia sangat tahu, jika tidak ada satupun yang perduli dengan gadis itu termasuk gadis itu sendiri.
"Aku hanya ingin bebanku sedikit menguap, Ron." Nada bicara Arletta terdengar lirih, bahkan sangat sulit didengar.
"Kau bicara sesuatu?" Tanya Ron sedikit ragu dengan apa yang ia dengar sayup-sayup beberapa saat yang lalu. Arletta mengeluh? Benarkah? Gadis itu bahkan tidak mengenal kata 'maaf'?!
"Tidak." Elak Arletta. "Antarkan aku pulang Ron. Tapi jangan kerumah orang tuaku." Arletta berucap masih dengan posisi membuang wajahnya. Berusaha menyembunyikan rona kemerahan yang mulai muncul di wajahnya.
Ron sendiri hanya menghela nafasnya. "Baiklah kita ke apartemenku." Jawab Ron.
Dengan perlahan Arletta berdiri dibantu dengan Ron. Dirinya sekarang benar-benar tampak seperti nenek jompo yang penyakitan. Benar-benar membuatnya jengkel. "Kau tidak perlu membantuku berdiri." Kesal Arletta yang tidak dijawab oleh Ron. Tapi setelah Arletta berdiri Ron benar-benar melepaskan pegangannya pada Arletta.
"Ron.., bisa kau bawakan tasku?" Tanya Arletta tanpa berucap tolong. Apa boleh buat, gadis itu terbiasa memerintah ketimbang meminta tolong.
Ron hanya mengangguk dan mengambil tas Arletta kemudian berjalan membuntuti Arletta yang berjalan tiga langkah didepannya. Tanpa banyak bicara hingga membuat gurat kesal muncul di wajah Arletta.
Mungkin jika seseorang melihat dari depan maka tubuh mungilnya tidak akan terlihat karena tertutup tubuh semampai Arletta. Ron mendengar Arletta berdecak dan mendumel berkali-kali dan seulas senyum langsung terbit diwajahnya.
Arletta selalu memerintah tapi ia tidak suka jika perintahnya dituruti dan dilaksanakan dengan mudah.
Entah sadar atau tidak. Gadis itu memiliki riwayat penyakit membuat dirinya menjadi tokoh terjahat dan bahagia saat seseorang dibuat menderita olehnya. Namun marah jika korbannya menurut dan tidak membantah.
Ron hapal dengan semua itu. Arletta hanya ingin membuat seseorang mencacinya dibelakang, mengutuknya bahkan menumpahkan semua kemarahan itu padanya. Tapi percaya atau tidak. Singa betina itu akan tunduk dan menjadi anak baik saat di depan keluarganya.
"Kenapa kau sangat suka berjalan dibelakangku?" Tanya Arletta kesal karena Ron kembali pada kebiasaan lamanya. "Kemari Ron kau bukan asistenku. Kau managerku!" Perintah Arletta agar Ron berjalan di sampingnya.
"Tapi kau memperlakukannya seperti asistenmu Arletta..." Ucapan itu keluar dari seorang wanita dengan bibir Semerah darah. Dia adalah Tiffany.
"Seharusnya kau menerima tawaranku Ron. Kau akan lebih merasa dihargai jika menjadi managerku." Tiffany meniup cat kukunya yang belum sepenuhnya kering, sementara dibelakangnya berdiri Tian yang masih setia memegangi payungnya agar Tiffany tidak kepanasan. Laki-laki gemulai itu tampak menyeka keringatnya sendiri dengan wajah kelelahan.
Arletta yang melihat itu hanya tersenyum sinis. "Dan membuatnya menjadi pemegang payungmu yang lain?" Sindir Arletta. "Seharusnya kau bercermin. Orang yang ada dibelakangmu bukanlah manager atau pun asistenmu... tapi kau memaksanya melakukan pekerjaan seorang asisten."
Arletta menatap kearah Tian dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. "Aku kasihan padamu Tian. Jari-jarimu yang begitu terampil merias wajahku kini harus kapalan karena memegang payung si nenek sihir." Ucapnya prihatin. Oh, haruskah Arletta ikut casting dan mencoba memainkan satu atau dua drama? Ron rasa Arletta memiliki bakat untuk itu.
Lihatlah, setelah mendengar ucapan dan raut wajah Arletta yang dibuat-buat membuat Ron menutup mulutnya untuk menahan tawa. Terlebih saat melihat wajah merah padam milik Tiffany! Oh, Astaga!
"Kau..!!!!" Geram Tiffany sambil menunjuk Arletta.
Arletta hanya tersenyum miring sebagai penutupnya. Ia malas terlalu lama disana, yah setidaknya bebannya sedikit berkurang setelah menghina Tiffany.
"Let's go home, Ron." Setelah mengatakan itu Arletta berjalan dahulu meninggalkan Tiffany yang masih dengan wajah marahnya. Dan saat ia sudah sedikit jauh Arletta sedikit tertawa, ia membayangkan bagaimana ekspresi Tiffany di fotonya nanti.
Sementara dibelakang Arletta, Ron berjalan mendekati Tiffany sambil terkekeh.
"Apa kau ingin tahu, Tiffany?.... Arletta tidak pernah memerintahku dengan sungguh-sungguh, dan aku melakukan semua itu karena aku ingin.... Jadi jangan merasa lebih tinggi dari Arletta." Ron menepuk-nepuk bahu Tiffany kemudian berjalan menyusul Arletta.
-o0o-
💙Love you all💙
KAMU SEDANG MEMBACA
Darts With The Bastard
RomanceSejak pertemuan pertama mereka Arletta sudah mengibarkan bendera permusuhan pada Levin dan sejak itu juga Levin selalu mengganggu gadis itu. Satu-satunya gadis yang tidak bisa ia baca. Bagi Levin, Arletta adalah gadis angkuh yang keras kepala. Hubun...
