14a

24.6K 2.4K 199
                                        

Raynand makan malam dengan menahan kesal karena dirinya duduk sendirian sementara tiga orang itu duduk diseberangnya seolah memamerkan kebahagiaan. Dan sekarang sudah dua kalinya sepanjang makan malam menyebalkan ini dia melihat Rachles mencuri ciuman di pipi Fiera.

Geram, Raynand meletakkan dengan kasar sendoknya hingga berdenting keras dan menarik perhatian dua orang diseberangnya. Sementara Russel sama sekali tidak peduli karena lebih sibuk dengan spageti di piringnya.

"Jaga kelakuan kalian!" perintah Raynand geram. "Jangan lupa bahwa kalian adalah saudara ipar dan aku masih suami Fiera yang sah."

"Wow!" seru Rachles lalu bertepuk tangan. "Keren sekali! Kau meniru kalimat itu dari mana? Jangan bilang kau mengatakannya sendiri dari lubuk hati terdalam karena itu sangat menggelikan." Rachles tertawa merendahkan.

Rahang Raynand menegang mendengar ejekan dalam kalimat adiknya. "Aku tidak sedang bercanda, Rachles. Mungkin kau lupa, jadi aku mengingatkanmu apa status Fiera dan statusmu di sini."

Mata Rachles menyipit menandakan kemarahannya tersulut. Dia berbicara pelan pada Fiera tanpa menoleh, "Fiera, bawa Russel ke luar."

Fiera menggeleng. Sengaja ia tetap membiarkan Russel berada di pangkuan Rachles agar lelaki itu tidak tergelitik untuk bangun dan menghajar Raynand kembali.

Tahu Fiera tidak akan mengikuti kata-katanya, Rachles hanya mengepalkan jemarinya kuat untuk meredam amarah. "Terima kasih sudah mengingatkanku, Kakak. Tapi kuharap kau juga tidak lupa mengingatkan diri sendiri saat sedang bersenggama dengan jalangmu." Ujar Rachles dengan bibir terkatup rapat.

Kemarahan Raynand tersulut saat mendengar Liana disebut jalang. Dia menghempaskan piring dari atas meja tanpa memedulikan suara kerasnya membuat syok Russel.

"Papa!" bocah itu memekik keras disertai isak tangis.

Fiera panik melihat Rachles seperti hendak meledak sewaktu-waktu. Dia segera meraih Russel lalu membawanya setengah berlari keluar dari ruang makan.

Fiera benar-benar bingung. Di satu sisi dia tidak ingin meninggalkan kedua lelaki itu yang kemungkinan besar akan saling membunuh. Di sisi lain dia harus membawa Russel jauh-jauh dari aksi kekerasan yang pasti akan terjadi.

"Kak Fiera!"

Fiera mendesah lega melihat Razita yang baru memasuki ruang tamu. Wanita itu tidak sendirian. Namun Fiera sama sekali tidak memperhatikan.

"Rara, untung kau segera datang." Fiera tergopoh-gopoh menuju Razita lalu menyerahkan Russel yang masih menangis. "Tolong bawa Russel keluar. Aku harus menghentikan Rachles dan Raynand."

Fiera menahan air matanya saat melihat Russel menolak bersama Razita dan ingin bersamanya. Tapi terpaksa Fiera mengabaikan bocah itu untuk menghentikan kedua lelaki yang sedang bertikai.

"Apa yang terjadi, Kak?" Razita tampak panik juga.

BRAK.

Serempak semua orang menoleh ke sumber suara. Namun tidak ada yang bisa mereka lihat karena suara itu berasal dari ruangan lain.

"Nanti saja, Rara." Fiera tidak menunggu jawaban Razita dan langsung berlari ke ruang makan.

Fiera tersentak kaget melihat keadaan ruang makan tampak kacau. Dia lebih kaget lagi mendapati Pak Wiryo pingsan di salah satu sisi ruangan dengan Bu Yeni di sebelahnya. Sekilas Fiera menduga Pak Wiryo berusaha mencegah perkelahian namun dia gagal.

"Raynand, hentikan!" pekik Fiera saat melihat Raynand melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Rachles. Tapi beberapa detik kemudian Rachles berhasil menendang perut Raynand.

His Smile (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang