15b

26.1K 2.3K 230
                                        

Liana memacu mobil tanpa semangat. Hatinya kacau dan otaknya serasa ingin meledak.

Setelah mengirim video petaka itu, Raynand berusaha menghubunginya. Segera Liana mematikan ponsel karena tidak mau mendengar penjelasan apapun dari lelaki itu.

Memangnya apa yang mau dijelaskan? Dalam video itu sudah jelas bahwa Raynand yang merayu Fiera. Bahkan Fiera sampai mengasihaninya yang menunggu di rumah dengan penuh percaya.

Hidupnya kacau sekarang. Setelah pelecehan hari itu, rasanya Liana ingin mati. Tapi dia memilih bertahan demi Raynand. Perjuangannya untuk bersama Raynand sangat sulit. Karena itu Liana tidak akan menyia-nyiakannya dengan mati.

Seolah penderitaannya belum cukup, video itu menghancurkan semua harapan Liana akan masa depan yang indah bersama Raynand. Rasanya dia tidak mungkin hidup bersama Raynand dengan kenyataan bahwa ada kemungkinan lelaki itu menggoda wanita lain begitu jarak memisahkan mereka meski hanya beberapa meter.

Saat dirinya masih berkutat dalam kesedihan seorang diri, seorang kurir datang mengantar surat. Ternyata itu adalah surat pemecatannya dari perusahaan. Liana tidak perlu bertanya apa alasannya. Sudah jelas bahwa ini berhubungan dengan skandal dirinya dan Raynand.

Dengan perasaan hancur, Liana keluar rumah lalu memacu mobil tanpa arah. Rasanya sudah tidak ada lagi harapan hidup.

Mendadak Liana mengerem mobil saat menyadari dirinya telah sampai di mana. Tempat itu adalah daerah rumahnya bersama mantan suami dan putrinya.

Ragu, Liana turun dari mobil lalu melangkah. Ia berhenti di depan sebuah rumah yang dulu menjadi tempatnya pulang. Rumah itu tampak baru saja direnovasi. Kini terlihat lebih megah dan besar.

Tanpa bisa dicegah air mata Liana menetes. Dadanya sesak oleh penyesalan.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Liana tersentak kaget. Perhatiannya terlalu fokus pada rumah itu hingga tidak menyadari wanita yang berdiri di balik pagar setinggi dada.

Sejenak Liana hanya membisu memperhatikan wanita dengan perut buncit itu. Tidak mungkin dia pembantu karena penampilannya begitu terawat.

"Mbak, Anda baik-baik saja?" wanita itu bertanya lagi dengan khawatir karena air mata Liana menetes semakin deras.

"Ehm, tidak. Maaf." Gumam Liana sambil menyeka air matanya. "Se—sepertinya, saya salah rumah."

Liana berbalik namun suara itu membuat langkahnya membeku.

"Itu Mama!"

Liana ingat betul suara itu. Suara gadis kecilnya. Sudah kelas berapa dia sekarang? Enam SD? Dia pasti semakin cantik.

"MAMA!"

Liana menelan ludah. Apa Ghea mengenalinya? Tapi, kenapa dia masih mau memanggilnya dengan sebutan Mama setelah Liana meninggalkannya?

"Sayang, jangan lari-lari seperti itu." tegur wanita hamil yang menyapa Liana tadi.

Tubuh Liana melemas. Rasanya dia akan pingsan. Hatinya begitu sakit menyadari putri yang dilahirkannya dengan penuh perjuangan memanggil orang lain dengan sebutan Mama.

Liana ingin melangkah pergi namun seperti ada lem yang membuat kakinya melekat di tanah.

"Kata Papa, Mama jangan keluyuran."

"Si Papa memang berlebihan. Padahal Mama hanya hamil bukannya sakit keras." Wanita itu menggerutu tapi jelas ada nada sayang dalam suaranya.

"Dia siapa, Ma?"

DEG.

Mendadak keringat dingin membasahi tubuh Liana. Sungguh dia ingin segera pergi. Tapi ada keinginan lain yang tiba-tiba muncul. Keinginan untuk melihat wajah cantik putrinya setelah mereka berpisah cukup lama. Sekali saja.

His Smile (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang