16b

25.5K 2.3K 129
                                        

Saat kau masih mencari kesalahan dalam diri orang lain, saat itu hidupmu masih terus berada dalam kegelapan dan hanya menuggu waktu hingga hitamnya menghancurkanmu.

~∘∘~

Liana menatap nanar keluar jendela. Pandangannya kosong. Sesekali tampak air mata mengalir di sudut matanya.

Satu kesalahan fatalnya yang telah menghancurkan banyak hati, kini berbalik menghancurkannya. Benar-benar hancur tak tersisa. Dan hanya satu nama yang patut ia salahkan atas semua ini.

Raynand.

Bajingan itu yang telah menyeretnya dalam hubungan zina. Bajingan itu yang telah membuatnya melepas keluarga utuh yang ia miliki. Bajingan itu yang telah membuat dirinya dibenci orang tuanya. Bajingan itu juga yang kini membuatnya kehilangan kaki dan kehilangan harapan untuk hidup normal.

Yah, memang Raynand dalangnya. Dirinya hanya korban atas kebejatan makhluk hina itu. Tapi enak sekali lelaki itu sekarang. Dia tidak kehilangan apapun. Sementara dirinya harus menanggung semua penderitaan ini.

Semua perasaan buruk berpadu dalam dada Liana, menciptakan gulungan badai hitam di hatinya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga badai itu bergerak lalu menyapu sekeliling. Menciptakan kerusakan parah dan duka mendalam.

"Mama."

Suara familiar itu membuat Liana menegang. Namun dia tidak menoleh. Pasti dirinya sedang berhalusinasi karena tadi ia membayangkan masa-masa saat dia, Ghea, dan Erick masih hidup bersama dalam satu keluarga utuh dan bahagia.

"Ma."

Kali ini suara itu makin jelas terdengar di samping ranjang Liana. Bahkan dia juga mendengar nadanya bergetar seolah gadis kecilnya sedang menangis.

Mendadak Liana terisak tanpa mengalihkan perhatian dari jendela kamar. Dia meremas dadanya yang terasa sesak. Kepalanya pening karena kenangan yang datang menyerbu. Kebahagiaan yang ia tukar demi kesenangan sesaat bersama Raynand.

Liana tahu sebentar lagi dirinya akan histeris. Dia merasakan tanda-tandanya. Namun dia tidak sanggup menenangkan diri. Semakin lama tangisnya semakin keras dan menyesakkan.

Mendadak sebuah lengan hangat melingkari tubuhnya. Liana menegang. Tangisnya berangsur reda. Dia yakin itu bukan lengan Raynand. Lengan itu lebih mungil dan putih bersih.

"Mama."

DEG.

Suara yang kini diiringi isak tangis keluar dari bibir orang di belakangnya. Tubuh Liana menegang dengan jantung bergemuruh cepat.

"Ghea?" bisiknya ragu sekaligus takut.

"Iya, Ma. Ini Ghea." Ghea yang masih terisak sambil memeluk Liana berucap pelan. "Maafkan Ghea. Ghea sudah berkata kasar pada Mama."

Tangis Liana pecah kembali.

Dia yang telah menyakiti putrinya. Dia yang telah meninggalkan mereka dalam duka. Tapi kini Ghea malah datang meminta maaf padanya. Meminta maaf akan kata-kata kasarnya yang hanya pernah ia lakukan dua kali seumur hidup. Pertama saat Liana meninggalkan mereka dan yang kedua sebelum kecelakaan itu.

Perlahan Ghea melonggarkan pelukannya lalu menolehkan kepala Liana agar manatapnya. "Mama jangan menangis lagi. Ghea bohong kalau bilang membenci Mama. Ghea dan Papa sangat mencintai Mama. Itu sebabnya kami terluka saat Mama pergi." Ghea berkata pelan sambil menghapus air mata Liana.

Tangis Liana semakin pecah. Dia sampai sesenggukan. Dipegangnya erat jemari Ghea yang masih berada di wajahnya lalu ia kecup berulang.

Setelahnya tangan Liana pindah menangkup wajah putri kecilnya yang sedang membungkuk ke arah Liana. Dengan penuh sayang ia mengecup kedua pipi Ghea, kedua kelopak matanya yang menutup lalu keningnya lama. Kemudian ia dekap erat kepala gadis itu, melepas kerinduan selama tiga tahun mereka berpisah.

His Smile (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang