Ini sudah ketiga kalinya Rachles mengetuk pintu kamar Razita. Tapi adiknya itu tidak kunjung membukakan pintu. Dia tahu Razita sedang menangis sesenggukan di dalam kamar dari suara isak kecil yang sesekali terdengar hingga keluar kamar.
Yakin Razita tidak akan membuka pintu, Rachles memilih menyerah dan hendak berbalik. Saat melihat gagang pintu, dia berpikir untuk mencoba membuka. Mungkin saja Razita langsung menutup pintu tanpa menguncinya. Jika tidak, maka Rachles akan langsung pergi dan mencoba menemui Razita lagi esok hari.
KLEK.
Tak disangka, pintu langsung terbuka. Rachles segera masuk tanpa permisi seraya menutup pintu di belakang tubuhnya.
Seperti yang Rachles duga, Razita sedang menangis. Dia berbaring telungkup di atas ranjang. Perlahan Rachles mendekat kemudian duduk di sisi ranjang menghadap belakang kepala Razita.
"Rara." Panggil Rachles pelan.
Razita tidak menoleh. Dia masih terus menangis dan mengabaikan kehadiran Rachles.
Rachles tidak mau asal menghakimi salah satu pihak, Neneknya maupun Razita. Terutama karena dia belum tahu apa sebenarnya permasalahan di antara mereka. Namun dia juga tidak bisa hanya diam dan menonton.
"Rara, kau tahu kan dari dulu yang dilakukan Nenek pasti demi kebaikan kita semua. Jika dia melarangmu bersama lelaki itu, pasti menurut Nenek lelaki itu tidak baik untukmu."
Ucapan Rachles membuat kemarahan Razita kembali terusik. Mendadak dia berbalik menghadap kakaknya dan siap menyemburkan api amarah.
"Kakak tidak—"
"Ya! Kakak memang tidak tahu masalah kalian karena kamu tidak mau bercerita." Sergah Rachles dengan nada tinggi namun sama sekali tidak tersirat kemarahan dalam nada suaranya. Dia hanya ingin Razita mendengarkan apa yang hendak dikatakannya. "Iya, Rara. Kakak tidak tahu. Karena itu kakak tidak akan membela maupun menghakimi kau ataupun Nenek. Jadi sekarang duduk yang benar dan dengarkan ucapan Kakak! Kau percaya pada Kakak, kan?"
Selama beberapa saat, mata biru terang Razita hanya diam menatap mata cokelat keemasan Rachles. Kemudian dia mengangguk perlahan, duduk sesuai perintah Rachles.
Puas melihat Razita mengikuti perintahnya, Rachles melanjutkan. "Seperti yang Kakak bilang tadi, apa yang dilakukan Nenek adalah sesuatu yang beliau pikir baik untukmu. Tapi jika kau merasa sebaliknya, kau boleh mempertahankan pendapatmu. Bukan dengan cara marah, menangis, atau malah menantang Nenek. Buktikan, tunjukkan di hadapan Nenek bahwa lelaki itu memang tepat untukmu. Apa kau sudah pernah mempertemukan Nenek dengan kekasihmu itu?"
Razita menggeleng.
"Kalau begitu, bawa lelaki itu ke rumah ini. Kenalkan dia pada keluarga besar kita dan biarkan dia mencuri hati semua penghuni rumah ini dengan caranya sendiri. Jika dia tidak bisa, berarti dia memang tidak pantas untukmu. Kakakpun akan menentang hubungan kalian."
"Tapi masalahnya bukan itu, Kak." Bahu Razita tampak lunglai. "Kepribadiannya tanpa cela. Tapi yang Nenek tidak suka, dia hanya seorang dosen di sebuah kota kecil. Sementara aku adalah aktris terkenal. Gajiku lebih tinggi darinya. Menurut Nenek, sepantasnya seorang suami harus memiliki gaji lebih tinggi dari istrinya. Jika tidak, bisa saja suatu ketika sang istri yang akan menafkahi dan itu menyalahi kodrat pasangan suami istri yang begitu Nenek pegang teguh."
Rachles mendengarkan dengan seksama penjelasan Razita. Tadi dia sempat heran karena sang Nenek mempermasalahkan pekerjaan kekasih Razita. Padahal Mikaela bukan tipe orang yang menilai orang lain dari kekayaan dan latar belakang. Bahkan Ibu Rachles dulunya adalah penjaga kantin di kampus tempat Jose menimba ilmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Smile (TAMAT)
Romance[CERITA MASIH LENGKAP SAMPAI END] Rachles jatuh cinta untuk pertama kalinya di usia dua puluh enam tahun. Namun sayang, rasa cinta itu harus ia kubur karena wanita yang ia cintai adalah calon istri sang kakak. Lucu sekali. Dia jatuh cinta sekaligus...
